Archive for 2013

Siapa Saya? Saya Adalah Kebiasaan

Sore hari (21/11/2013) masih dengan kondisi yang kurang fit, mungkin disebabkan aktivitas ekstra seminggu terakhir dan kuman-kuman endemik khas musim pancaroba yang merajalela. Ya, alhamdulillah, bahkan sakit pun adalah sesuatu yang pantas untuk kita syukuri, sebagai isyarat kalau tubuh yang Tuhan telah pinjamkan kepada kita, sudah tiba waktunya untuk beristirahat sejenak, memanjakan dirinya sekaligus memberi pelajaran kepada si peminjam yang tak tahu diri ini. Sambil menikmati pemanjaan diri sekaligus dengan ikhlas menerima pelajaran berharga yang diberikan, dengan sukarela dalam beberapa hari terakhir mesti menghabiskan banyak waktu di atas tempat tidur.

Untuk menghindari timbulnya kebosanan dalam periode pemulihan ini, ku pilih untuk membaca buku yang sudah beberapa bulan ini bertengger di rak tempat tidur, tak selesai-selesai dibaca. Bukunya berjudul The 8th Habit – Melampaui Efektivitas, Menggapai Keagungan karya Stephen R. Covey. Terus terang, disadari bahwa isi materi “berat” dari buku ini tak cocok dengan kondisiku saat ini, seharusnya yang ku baca adalah buku-buku bermateri “ringan”, tapi apa daya saya sudah mencari-cari di rak buku, buku-buku bermateri “ringan” tapi semuanya sudah selesai dibaca, tersisa buku ini yang belum ditamatkan, apa boleh buat, mari kita membacanya. Terdapat sebuah bagian tulisan dari buku ini yang menarik perhatianku, dan ku pikir alangkah lebih baiknya untuk ku tuliskan dalam blog ini, bisa menjadi pengingat di kemudian hari, juga bisa menjadi bahan untuk di share kepada teman-teman lewat berbagai media online yang tersedia. Berikut bagian tulisan menarik itu:

The 8th Habit

Saya selalu mendampingi Anda. Saya adalah pembantu Anda yang paling rajin, atau beban Anda yang paling berat. Saya akan mendorong Anda maju, atau menarik Anda jatuh ke dalam kegagalan. Saya sepenuhnya berada dalam kendali Anda. Setengah dari apa yang Anda lakukan mungkin akan Anda serahkan kepada saya, dan saya akan bisa melakukannya dengan cepat, tepat. Saya mudah dikelola – Anda hanya perlu tegas terhadap saya. Tunjukkan bagaimana tepatnya Anda ingin agar sesuatu dikerjakan, dan setelah beberapa pelajaran saya akan melakukannya secara otomatis. Saya adalah pelayan bagi semua orang hebat; dan apa boleh buat, juga bagi orang-orang yang gagal. Mereka yang gagal, saya yang membuat mereka gagal. Saya bukan mesin, sekalipun saya bekerja dengan presisi dari sebuah mesin ditambah kecerdasan manusia. Anda mau mendayagunakan saya dan mendapatkan keuntungan, atau memanfaatkan saya untuk kehancuran – hal itu tak ada bedanya bagi saya. Ambil saya, latih saya, tegaslah terhadap saya, dan saya akan meletakkan dunia di bawah kaki Anda. Anggap enteng saya dan saya akan menghancurkan Anda.

Siapa saya? Saya adalah kebiasaan – ANONIM

Posted in , , , , , , , , , | Leave a comment

Surat dari Bapak Calon Presiden: Anies Baswedan

Anies Baswedan

Hari ini (13/09/2013) saya menemukan ada yang “aneh” ketika membuka kotak surat (inbox) email ku. Nama pengirimnya tertulis “Anies Baswedan” dengan subjek tertulis “saya pilih turun tangan, ikut tanggung jawab” dan dengan cuplikan isinya terdapat tulisan “Kepada Yth. Asrianto…”. Sejenak saya merasa senang bisa mendapatkan email dari beliau, email yang tentunya ditulis secara personal dan dikirim dengan kesan personal juga, meskipun saya tahu bahwa saat ini terdapat banyak aplikasi pengirim email yang bisa melakukan hal itu dengan kesan personal “di antara kita”, tapi itu tak jadi masalah, mari kita membukanya.

Sebelum membuka dan membaca email ini, saya sebenarnya sudah bisa menerka dan memperkirakan isinya. Ya, tentu saja seputar tema: (1) Ikut sertanya Pak Anies Baswedan dalam konvensi capres Partai Demokrat, (2) Penegasan alasan, pijakan berpikir, dan dasar tindakan dari Pak Anies Baswedan untuk mengikuti konvensi capres Partai Demokrat, yang ditujukan kepada semua penggiat gerakan Indonesia Mengajar dan gerakan-gerakan turunannya, supaya tidak terjadi salah kaprah dan disorientasi, dan (3) Tentu saja berisi motivasi dan semangat nasionalisme yang ditujukan kepada para pemuda penerus bangsa (kita semua), yang selalu menjadi ciri dari penyampaian Pak Anies Baswedan yang sering diulang-ulang dan dipertegas selama ini.

Secara pribadi saya sangat tersentuh (juga terharu, juga meneteskan air mata) dengan uraian kalimat dan penjelasan yang dituliskan Pak Anies Baswedan dalam email ini. Ditulis dengan bahasa sederhana, jelas, dan dapat dirasakan aura-aura patriotisme dan nasionalisme yang kuat di dalamnya, utamanya pada ungkapan ajimumpung: “…Bagi saya pilihannya jelas, mengutuk kegelapan ini atau ikut menyalakan lilin, menyalakan cahaya…”. Tentu, ada (banyak) di antara teman-teman (bukan pegiat gerakan Indonesia Mengajar dan gerakan-gerakan turunannya) yang tidak mendapat email dari Pak Anies Baswedan ini dan ingin tahu serta membaca isinya. Saya yakin Pak Anies tidak membatasi penyebaran dan siapa pihak yang berhak untuk membaca email nya ini, lebih banyak orang yang mengetahui dan membacanya tentu lebih baik. Maka dari itu, postingan ini saya buat untuk mempublikasikan email dari Pak Anies Baswedan tersebut ke khalayak semua (tanpa penyuntingan isi), semoga bermanfaat.

From: anies.baswedang@indonesiamengajar.org lewat sendgrid.me | Kepada: asrianto@gmail.com | 12 September 2013 | 20.54 WIB | Subjek: Saya Pilih Turun Tangan, Ikut Tanggung Jawab.

Assalamu’alaikum wr wb dan salam sejahtera.

Kepada Yth Asrianto

Di tempat

Semoga email ini menemui teman-teman dalam keadaan sehat wal afiat dan makin produktif.

Saya menulis surat ini terkait dengan perkembangan baru yang datangnya amat cepat. Saya merasa perlu untuk mengirimkan surat ini secara pribadi karena selama ini kita telah bekerja bersama baik di Kelas Inspirasi atau Indonesia Menyala atau kegiatan lain sebagai bagian dari Gerakan Indonesia Mengajar. Selama ini kita telah sama-sama ikut aktif menata masa depan Indonesia tercinta. Ikhtiar ini, sekecil apapun kini, Insya Allah akan punya dampak yang besar di kemudian hari.

Beberapa waktu yang lalu, saya diundang untuk turut konvensi. Saya diundang bukan untuk jadi pengurus partai, tetapi untuk diseleksi dan dicalonkan dalam pemilihan presiden tahun depan. Saya semakin renungkan tentang bangsa kita, tentang negeri ini.

Para pendiri Republik ini adalah kaum terdidik yang tercerahkan, berintegritas, dan berkesempatan hidup nyaman tapi mereka pilih untuk berjuang. Mereka berjuang dengan menjunjung tinggi harga diri, sebagai politisi yang negarawan. Karena itu mereka jadi keteladanan yang menggerakkan, membuat semua siap turun tangan. Republik ini didirikan dan dipertahankan lewat gotong royong. Semua iuran untuk republik: iuran nyawa, tenaga, darah, harta dan segalanya. Mereka berjuang dengan cara terhormat karena itu mereka dapat kehormatan dalam catatan sejarah bangsa ini.

Kini makna “politik” dan “politisi” terdegradasi, bahkan sering menjadi bahan cemoohan. Tetapi di wilayah politik itulah berbagai urusan yang menyangkut negara dan bangsa ini diputuskan. Soal pangan, kesehatan, pertanian, pendidikan, perumahan, kesejahteraan dan sederet urusan rakyat lainnya yang diputuskan oleh negara. Amat banyak urusan yang kita titipkan pada negara untuk diputuskan.

Di tahun 2005, APBN kita baru sekitar 500-an triliun dan di tahun ini sudah lebih dari 1600 triliun. APBN kita lompat lebih dari tiga kali lipat dalam waktu kurang dari delapan tahun. Kemana uang iuran kita semua digunakan? Di tahun-tahun kedepan, negara ini akan mengelola uang iuran kita yang luar biasa banyaknya. Jika kita semua hanya bersedia jadi pembayar pajak yang baik, lalu siapa yang jadi pengambil keputusan atas iuran kita?

Begitu banyak urusan yang dibiayai atas IURAN kita dan atas NAMA kita semua. Ya, suka atau tidak, semua tindakan negara adalah atas nama kita semua, seluruh bangsa Indonesia. Haruskah kita semua membiarkan, hanya lipat tangan dan cuma urun angan?

Di negeri ini, lembaga dengan tata kelola yang baik dan taat pada prinsip good governance masih amat minoritas. Mari kita lihat dengan jujur di sekeliling kita. Terlalu banyak lembaga, institusi dan individu yang masih amat mudah melanggar etika dan hukum semudah melanggar rambu-rambu lalu lintas. Haruskah kita menunggu semua lembaga itu beres dan “bersih” baru ikut turun tangan?

Jika saya tidak diundang, maka saya terbebas dari tanggung-jawab untuk memilih. Tapi kenyataannya saya diundang walau tidak pernah mendaftar apalagi mengajukan diri. Dan saya menghargai Partai Demokrat karena -apapun tujuannya- faktanya partai ini jadi satu-satunya yang mengundang warga negara, warga non partisan. Di satu sisi, Partai Demokrat memang sedang banyak masalah dan persepsi publik juga amat rendah. Di sisi lain konvensi yang dilakukan oleh Partai Demokrat adalah mekanisme baik yang seharusnya juga ada di semua partai agar calon presiden ditentukan oleh rakyat juga.

Saya pilih untuk ikut mendorong tradisi konvensi agar partai jangan sekedar menjadi kendaraan bagi kepentingan elit partai yang sempit. Kini semua harus memperjuangkan agar konvensi yang dilaksanakan oleh Partai Demokrat ini akan terbuka, fair dan bisa diawasi publik. Saya percaya bahwa penyimpangan pada konvensi sama dengan pengurasan atas kepercayaan yang sedang menipis.

Undangan ini untuk ikut mengurusi negara yang kini sedang dihantam deretan masalah, yang hulunya adalah masalah integritas dan kepercayaan. Haruskah saya jawab, “mohon maaf saya tidak mau ikut mengurusi karena saya ingin semua bersih dulu, saya takut ini cuma akal-akalan. Saya ingin jaga citra, saya ingin jauh dari kontroversi, saya enggan dicurigai dan bisa tak populer?” Bukankah kita lelah lihat sikap tidak otentik, yang sekedar ingin populer tanpa memikirkan elemen tanggungjawab? Haruskah saya menghindar dan cari aman saja? Saya sungguh renungkan ini semua.

Saat peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agutus 2013 adalah hari-hari dimana saya harus ambil keputusan. Saat itu saya menghadiri upacara di Istana Merdeka, bukan karena saya pribadi diundang, tetapi undangan ditujukan pada ahli waris AR Baswedan, kakek kami, dan kami yang berada di Jakarta. Jadi saya dan istri hadir mewakili keluarga.

Seperti biasa bendera merah putih itu dinaikkan dengan khidmat diiringi gelora Indonesia Raya. Dahulu bendera itu naik lewat jutaan orang iuran nyawa, darah dan tenaga hingga akhirnya tegak berkibar untuk pertama kalinya. Menyaksikan bendera itu bergerak ke puncak dan berkibar dengan gagah, dada ini bergetar.

Sepanjang bendera itu dinaikkan, ingatan saya tertuju pada Alm. AR Baswedan dan para perintis kemerdekaan lainnya. Mereka hibahkan hidupnya untuk memperjuangkan agar Republik ini berdiri. Mereka berjuang “menaikkan” Sang Merah-Putih selama berpuluh tahun bukan sekedar dalam hitungan menit seperti saat upacara kini. Mereka tak pilih jalur nyaman dan aman. Mereka juga masih muda, namun tidak ada kata terlalu muda untuk turun tangan bagi bangsa. Berpikir ada yang terlalu muda, hanya akan membawa kita berpikir ada yang terlalu tua untuk turun tangan. Mereka adalah orang-orang yang mencintai bangsanya, melebihi cintanya pada dirinya.

Suatu ketika saya menerima sms dari salah satu putri Proklamator kita. Ia meneruskan sms berisi Sila-Sila dalam Pancasila yang dipelesetkan misalnya “Ketuhanan Yang Maha Esa” diubah jadi “keuangan yang maha kuasa” dan seterusnya. Lalu ia tuliskan, “Bung Anies, apa sudah separah ini bangsa kita? Kasihan kakekmu dan kasihan ayahku. Yang telah berjuang tanpa memikirkan diri sendiri, akan 'gain' apa.”

Kini, saat ditawarkan untuk ikut mengurusi negara maka haruskah saya tolak? sambil berkata, mohon maaf saya ingin di zona nyaman, saya ingin terus di jalur aman ditemani tepuk tangan? Haruskah sederetan peminat kursi presiden yang sudah menggelontorkan rupiah amat besar itu dibiarkan melenggang begitu saja? Sementara kita lihat tanda-tanda yang terang benderang, di sana-sini ada saja yang menguras uang negara jadi uang keluarga, jadi uang partai, atau jadi uang kelompoknya di saat terlalu banyak anak-anak bangsa yang tidak bisa melanjutkan sekolah, sebuah “jembatan” menuju kemandirian dan kesejahteraan. Pantaskah saya berkata pada orang tua, pada kakek-nenek kita, bahwa kita tidak mau ikut berproses untuk mengurus negara karena partai belum bersih? Haruskah kita menunggu semua partai beres dan “bersih” baru ikut turun tangan?

Saya pilih ikut ambil tanggung jawab tidak cuma jadi penonton. Bagi saya pilihannya jelas, mengutuk kegelapan ini atau ikut menyalakan lilin, menyalakan cahaya. Lipat tangan atau turun tangan. Saya pilih yang kedua, saya pilih menyalakan cahaya. Saya pilih turun tangan. Di tengah deretan masalah dan goncangan yang mengempiskan optimisme, kita harus pilih untuk terus hadir mendorong optimisme. Mendorong muncul dan terangnya harapan. Ya, mungkin akan dicurigai, bisa tidak populer bahkan bisa dikecam, karena di jalur ini kita sering menyaksikan keserakahan dengan mengatasnamakan rakyat.

Tapi sekali lagi ini soal rasa tanggung-jawab atas Indonesia kita. Ini bukan soal hitung-hitungan untung-rugi, bukan soal kalkulasi rute untuk menjangkau kursi, dan bukan soal siapa diuntungkan. Saya tidak mulai dengan bicara soal logistik atau pilih-pilih jalur, tetapi saya bicara soal potret bangsa kita dan soal tanggung-jawab kita. Tentang bagaimana semangat gerakan yang jadi pijar gelora untuk merdeka itu harus dinyalaterangkan lagi. Kita semua harus merasa turut memiliki atas masalah di bangsa ini.

Ini perjuangan, maka semua harus diusahakan, diperjuangkan bukan minta serba disiapkan. Tanggung-jawab kita adalah ikut berjuang -sekecil apapun- untuk memulihkan politik sebagai jalan untuk melakukan kebaikan, melakukan perubahan dan bukan sekedar mengejar kekuasaan. Kita harus lebih takut tentang pertanggungjawaban kita pada anak-cucu dan pada Tuhan soal pilihan kita hari ini: diam atau turun tangan. Para sejarawan kelak akan menulis soal pilihan ini.

Semangat ini melampaui urusan warna, bendera dan nama partai. Ini adalah semangat untuk ikut memastikan bahwa Republik ini adalah milik kita semua dan untuk kita semua, seperti kata Bung Karno saat pidato soal Pancasila 1 Juni 1945. Tugas kita kini adalah memastikan bahwa dimanapun anak bangsa dibesarkan, di perumahan nyaman, di kampung sesak-pengap tengah kota, atau di desa seterpencil apapun, ia punya peluang yang sama untuk merasakan kemakmuran, keterdidikan, kemandirian dan kebahagiaan sebagai anak Indonesia.

Saya tidak bawa cita-cita, saya mengemban misi. Cita-cita itu untuk diraih, misi itu untuk dilaksanakan. Semangat dan misi saya adalah ikut mengembalikan janji mulia pendirian Republik ini. Sekecil apapun itu, siap untuk terlibat demi melunasi tiap Janji Kemerdekaan. Janji yang dituliskan pada Pembukaan UUD 1945: melindungi, mencerdaskan, mensejahterakan dan jadi bagian dari dunia.

Kita semua sadar bahwa satu orang tidak bisa menyelesaikan seluruh masalah. Dan cara efektif untuk melanggengkan masalah adalah dengan kita semua hanya lipat tangan dan berharap ada satu orang terpilih jadi pemimpin lalu menyelesaikan seluruh masalah. Tantangan di negeri ini terlalu besar untuk diselesaikan oleh satu orang, tantangan ini harus diselesaikan lewat kerja kolosal. Jika tiap kita pilih turun tangan, siap berbuat maka perubahan akan bergulir.

Apalagi negeri ini sedang berubah. Tengok kondisi keluarga kita masing-masing. Negara ini telah memberi kita amat banyak. Sudah banyak saudara sebangsa yang padanya janji kemerdekaan itu telah terlunasi: sudah terlindungi, tersejahterakan, dan tercerdaskan. Tapi masih jauh lebih banyak saudara sebangsa yang pada mereka janji itu masih sebatas bacaan saat upacara, belum menjadi kenyataan hidup.

Di negeri ini masih ada terlalu banyak orang baik, masih amat besar kekuatan orang lurus di semua sektor. Saya temukan mereka saat berjalan ke berbagai tempat. Saat mendiskusikan undangan ini dengan anak-anak generasi baru Republik ini, saya bertemu dengan orang-orang baik yang pemberani, yang mencintai negerinya lebih dari cintanya pada citra dirinya, yang tak takut dikritik, dan selalu katakan siap turun tangan. Akankah kita yang sudah mendapatkan yang dijanjikan oleh Republik ini diam, tak mau tahu dan tak mau turun tangan? Pantaskah kita terus menerus melupakan -sambil tak minta maaf¬- pada saudara sebangsa yang masih jauh dari makmur dan terdidik?

Bersama teman segagasan, kami sedang membangun sebuah platform www.turuntangan.org untuk bertukar gagasan dan bergerak bersama. Ini bukan soal meraih kursi, ini soal kita turun tangan memastikan bahwa mereka yang kelak mengatasnamakan kita adalah orang-orang yang kesehariannya memperjuangkan perbaikan nasib kita, nasib seluruh bangsa.

Teman-teman juga punya pilihan yang sama. Lihat potret bangsa ini dan bisa pilih diam tak bergerak atau pilih untuk turut memiliki atas masalah lalu siap bergerak. Beranikan diri untuk bergerak, bangkitkan semangat untuk turun tangan, dan aktif gunakan hak untuk turut menentukan arah negara. Jalur ini bisa terjal dan penuh tantangan, bisa berhasil dan bisa gagal. Tapi nyali kita tidak ciut, dada kita penuh semangat karena kita telah luruskan niat, telah tegaskan sikap. Hari ini kita berkeringat tapi kelak butiran keringat itu jadi penumbuh rasa bangga pada anak-anak kita. Biar mereka bangga bahwa kita tidak tinggal diam dan tak ikut lakukan pembiaran, kita pilih turun tangan.

Saya mendiskusikan undangan ini dengan keluarga di rumah dan dengan Ibu dan Ayah di Jogja. Mereka mengikuti dari amat dekat urusan-urusan di negeri ini. Ayah menjawab, “Jalani dan hadapi. Hidup ini memang perjuangan, ada pertarungan dan ada risiko. Maju terus dan jalani dengan lurus.” Istri mengatakan, “yang penting tetap jaga nama baik, cuma itu yang kita punya buat anak-anak kita.” Ibu mengungkapkan ada rasa khawatir menyaksikan jalur ini tapi Ibu lalu katakan, “terus jalani dengan cara-cara benar. Saya titipkan anak saya ini bukan pada siapa-siapa, bukan kita yang akan jadi pelindungnya Anies. Saya titipkan anak saya pada Allah, biarkan Allah saja yang jadi pelindungnya.”

Itu jawaban mereka. Saya camkan amat dalam sambil berdoa, Insya Allah suatu saat saya bisa kembali ke mereka dan membuat mereka bersyukur bahwa kita ikut turun tangan, mau ikut ambil tanggung-jawab –sekecil apapun itu- untuk republik ini. Ini adalah sebuah jalur yang harus dijalani dengan ketulusan yaitu kesanggupan untuk tak terbang jika dipuji dan tak tumbang jika dikiritik. Bismillah, kita masuki proses ini dengan kepala tegak, Insya Allah terus jaga diri agar keluar dengan kepala tegak. Faidza ‘Azamta Fatawakkal ‘Alallah … bulatkan niat lalu berserah pada Sang Maha Kuasa.

Sebagai penutup, saya mengajak teman-teman untuk menengok video klip yang direkam dengan maksud sederhana untuk menyampaikan pertimbangan saya saat memutuskan untuk menerima tawaran ikut turun tangan dalam konvensi Partai Demokrat di link berikut ini: http://www.youtube.com/watch?v=7QNJqG0Fqf0

Semoga Allah SWT selalu meridloi perjalanan di jalur baru dari perjalanan yang sama ini dan semoga semakin banyak yang menyatakan siap untuk turun tangan bagi Republik tercinta ini.

Terima kasih dan salam hangat,

Anies Baswedan

Posted in , , , | Leave a comment

3 Nama, 1 Dahi, 7 Kerutan

Dahi Kelas Inspirasi Makassar

Di antara banyak keunikan dari kegiatan Indonesia Menyala dalam hal ini adalah persiapan Kelas Inspirasi, terdapat satu mozaik cerita singkat yang cukup unik dan sangat sayang untuk dilewatkan. Cerita kali ini membahas bukan tentang bagaimana kegiatannya dan bagaimana kegiatan itu berlangsung, tetapi akan membahas tentang “segelintir” orang unik yang menjadi bagian dari kegiatan ini (ingat yaa, kata “segelintir” nya menggunakan tanda kutip, jadi dengan nikmat akal yang telah Tuhan berikan kepada kita semua, saya yakin teman-teman sudah bisa mengartikan sendiri apa maksudnya. “apa memang maksudnya bro?” wadduh heheheh “sebenarnya saya juga tidak tahu”).

Cerita ini bukan cerita fiktif belaka, jadi jika ada kesamaan nama, tempat, waktu, dan sebagainya, itu benar-benar adalah kesengajaan kami – problem bos?. Tak ada maksud apapun menuliskannya, tak ada maksud negatif apapun, semata-mata untuk dijadikan cerita yang akan menjadi kenangan kita di hari esok, ketika kita sudah tua dan beranak-cucu nanti – ce ileh heheheh. Sepakat? “IYA” oke. Jadi, tak perlu berlama-lama lagi, selamat membaca.

Ceritanya berlatar waktu pada Januari 2013, tepat pada masa-masa awal tahap persiapan kegiatan Kelas Inspirasi, kala itu melalui pesan singkat ada undangan untuk menghadiri kopdar (kopi darat = bertemu di daratan sambil minum top kopi, kopinya orang Indonesia *selip iklan heheheh* = rapat santai) di bagian tribun lapangan Karebosi. Kurang lebih seperti inilah redaksi pesan singkatnya:

“Teman-teman Penyala, kopdar akan dilaksanakan pada hari Minggu, 6 Januari 2013 pukul 10.00 Wita (ontime) di tribun Karebosi. Silahkan hubungi Arya 085398212428, Warqah 081355275463, Faat 081354819151”

Singkat cerita, berangkatlah kami ke sana, ber asoy­-geboy di jalanan ibukota, menikmati beberapa godaan kedip si tiga mata: kuning, merah, daaaaan hijau, wuuussshhh melesat, menukik kiri-kanan, dan akhirnya sekali lagi singkat cerita, sampailah kami di sana. Kami disambut dengan gerimis romantis yang indah yang pelan-pelan melululantahkan tembok semu jahat sang karbon monoksida jalanan. Dan tedeeeet, naiklah kami ke panggung tribunnya, memandang jauh ke pepohonan hijau rindang di sebarang sana, ke puncak mandala yang menggelorakan rasa cinta pada bangsa, namun kemudian jatuh berkeping-keping ketika memandang lambang olimpiade dengan lima bundaran berwarna cerah lusuhnya di lantai lapangan, bertanya-tanya “kapan Indonesia akan juara olimpiade?”. (hahahah, mohon maaf tulisan di paragraf ini sedikit over dan melenceng dari gaya tulisan awal, mari kita kembali ke gaya awal).

Dan sekali lagi singkat cerita, setelah melalui perang hebat antara pasukan idealis yang ingin tetap menunggu dan pasukan yang beringas-menggerutu ingin pulang karena jadwal ontime nya molor sekitar 1 jam lebih - heheheh, berkumpullah teman-teman Penyala. Ketika itu, saya mulai bertanya-tanya dalam hati, yang mana yang namanya Arya, yang mana Warqah, dan yang mana yang Faat.

30 menit sebelumnya...

Plot cerita saya kembalikan ke bagian 30 menit sebelumnya, tepat ketika pasukan beringas yang ingin pulang berhasil merobohkan beberapa bagian tembok pertahanan yang dijaga oleh pasukan idealis yang ingin tetap menunggu - heheheh. Waktu itu saya mulai memikirkan untuk menelepon nama-nama yang ada di pesan singkat undangan tadi untuk menanyakan “kopdar hari ini, jadi atau tidak?”. Namun, sebelum menelepon, karena belum pernah bertemu dengan mereka sebelumnya, pikirku ada baiknya terlebih dahulu dilakukan analisis tipologi nama dari mereka masing-masing untuk menyesuaikan kesan suara pertama yang akan diberikan – ce ileh, hebohnya deh, heheheh. Berikut analisis saya waktu itu:

*** Nama 1: ARYA

Namanya Arya, letaknya di pesan singkat undangan tadi adalah yang paling awal disebutkan dari ketiga nama yang ada, jadi hipotesisnya dia adalah yang paling superior dari kedua nama yang lain, bisa jadi pemimpinnya, bisa jadi yang paling tahu semuanya, bisa jadi dialah yang menginisiasi kegiatan kopdar ini. Dalam hal redaksi nama: Arya, tentunya kita semua sepakat kalau nama Arya ini di lingkungan/mindset orang Indonesia adalah nama panggilan untuk seorang yang berjenis kelamin laki-laki. Jadi kesimpulannya, Arya adalah seorang laki-laki kharismatik yang menjadi pemimpin kegiatan ini.

***Nama 2: WARQAH

Namanya Warqah, letaknya di pesan singkat undangan tadi berada di urutan kedua, jadi hipotesisnya nomor dua itu biasanya adalah wakilnya atau karena organisasi ini baru dibentuk makanya kemungkinan besarnya adalah seorang sekretaris, seorang yang tidak banyak bicara, tapi tahu banyak tentang kegiatan ini, namanya ditempatkan di nomor dua untuk menggantikan nama yang paling awal apabila berhalangan. Dalam hal redaksi nama: Warqah, huruf “W” sebagai huruf awal namanya mengarahkan kita bahwa pemilik nama ini berjenis kelamin seorang perempuan. Selanjutnya, setelah menilik keseluruhan namanya, maka kita akan berpikiran bahwa nama ini adalah nama yang ber genre islami dengan patokan huruf “Q” di tengah-tengah dan huruf “H” di akhir nama yang biasanya identik dengan redaksi arab-arab. Jadi kesimpulannya, Warqah adalah seorang perempuan yang berasal dari keluarga yang taat beragama (karena orang tuanya memberikan nama yang ber genre islami kepada anaknya) yang berposisi sebagai sekretaris kegiatan ini (posisi sekretaris identik dengan perempuan).

***Nama 3: FAAT

Namanya Faat, letaknya di pesan singkat undangan tadi berada di urutan terakhir, jadi hipotesisnya nomor terakhir itu biasanya hanya dicantumkan di sana sebagai pelengkap apalagi biasanya 2 nama sudah cukup, sebagai bawahan yang serba bisa dan telaten dalam bekerja, hanya sebagai kroco-kroco atau kacuping-kacuping dalam kegiatan ini, namun memiliki tekad kuat dan sangat dapat diandalkan, semata-mata namanya diletakkan di sana sebagai wujud bualan kalau “Anda itu orang penting, jadi tetaplah bekerja untuk kami” ­– hahahah. Dalam hal redaksi nama: Faat, sulit untuk menyimpulkan jenis kelamin si pemilik nama ini bisa jadi laki-laki, bisa jadi perempuan, maka untuk sementara mari kita bungkus dulu. Jadi kesimpulannya, Faat adalah seorang bawahan yang memiliki kinerja yang cukup bagus dalam kegiatan ini yang berjenis kelamin bisa jadi laki-laki dan bisa jadi perempuan – hahahah.

Kembali ke 30 menit kemudian...

Sebagaimana biasanya sebuah kegiatan yang orang-orang yang hadir adalah orang-orang yang baru bertemu, maka seketika itu terjadilah seremonial saling jabat tangan yang dilanjutkan dengan berkenalan nama.

Nama pertama dari ketiga nama yang telah dianalisis di atas yang ku jabat, ku sentuh, dan ku belai – wadduh heheheh – adalah tangan orang yang bernama Warqah. Sosok perempuan cantik, anggun, berjilbab, dan islami yang sedari tadi merekah di pikiranku, sedetik kemudian meledak dan abunya beterbangan di mana-mana menutupi udara. Ternyata seorang laki berotot dengan nama lengkap Muhammad Warqah Hamzah. Selanjutnya, nama kedua yang ku jabat tangannya adalah tangan orang yang bernama Faat. Akhirnya jawaban dari kebimbangan antara laki-laki dan perempuan tadi terjawab sudah, Faat adalah seorang laki-laki, dengan gaya rambut mirip Amir Khan nya Bollywood lengkap dengan kumis tipis mempesonanya, dengan nama lengkap Muhammad Syafaat Mustari, sama sekali tidak ada potongan untuk jadi bawahan – hahahah.

Setelah itu, saya mencari-cari nama orang terakhir: Arya, ingin ku tahu seberapa kharismatik lelaki pemimpin ini, ternyata orangnya telat datang karena sesuatu dan lain hal. Singkat cerita, di penghujung kopdar setelah kita bersabar mendengar ceramah panjang dari Kak Bunga yang tidak peka terhadap wajah-wajah lusuh hadirin yang sedari tadi ingin segera mengakhiri kopdar kali ini, datanglah sosok Arya yang ku tunggu-tunggu itu didampingi dan diantar oleh Faat (kalau dipikir-pikir ulang, Faat ini memang cocok jadi bawahan yaa, hahahah). Booommm!!! 10 bom atom sekaliber bom atom di Herosima – Nagasaki meledak bersamaan di kepalaku, Arya ternyata seorang perempuan manis berjilbab dengan tinggi semampai, dengan nama panjang Nur Syarianingsih Syam. Weleh-weleh, dari 3 nama, untuk 1 dahi, dengan 7 kerutan.

Posted in , , , , | 4 Comments
Diberdayakan oleh Blogger.

Search

Swedish Greys - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.