The Most Inspired Story: The Parable of Pipelines

“SEBUAH CERITA INSPIRATIF TENTANG SEORANG PEMBAWA EMBER DAN SEORANG PEMBUAT SALURAN PIPA”

Ember atau Saluran Pipa Pada kesempatan sore hari ini, sambil menunggu cuaca sedikit bersahabat untuk bisa keluar rumah, saya akan berbagi tentang sebuah cerita yang menurutku begitu inspiratif, bahkan jika tidak berlebihan bisa dikatakan adalah salah satu cerita terinspiratif yang pernah saya dengar dan saya ketahui. Mungkin beberapa di antara kita telah mendengar dan mengetahuinya, tapi saya yakin masih banyak di antara kita yang tidak seberuntung itu, maka dari itu saya berharap postingan ini dapat menjadi media agar lebih banyak orang mengetahuinya dan akhirnya mengambil pelajaran darinya.

Sekedar info: cerita ini saya ketahui sebagai hikmah telah “terjebak” dalam bisnis 3 huruf (eMeLeM) beberapa tahun silam, melalui sebuah buku yang dipinjamkan oleh si Bapak upline baik hati itu. Buku yang memuat cerita ini berjudul: “The Parable of Pipelines” (arti: perumpamaan saluran pipa) karya Burke Hedges (lupakan niat untuk mencarinya di toko buku, karena tidak ada dijual). Beberapa waktu setelahnya, cerita ini kembali saya temukan dan baca sebagai kutipan yang dimuat di salah satu buku wajib bisnis dunia berjudul “The Cashflow Quadrant” (pasti tahu kan?) karya Robert T. Kiyosaki. Ceritanya adalah cerita fiktif namun kefiktifannya tidak mengurangi nilai-nilai yang dimuatnya. Ceritanya sedikit panjang, namun mengingat inspirasi positif yang dimuatnya itu tidak menjadi persoalan. Selamat membaca, selamat menikmati, baca secara perlahan, jika Anda akhirnya mengerti maksudnya, bisa jadi ini adalah saat titik balik masa depan Anda yang lebih baik.

 

Pada zaman dahulu kala, begitu kisah ini dimulai, ada dua orang saudara sepupu yang tinggal di suatu tempat. Keduanya dikenal punya semangat dan ambisi yang kuat untuk menggapai kemajuan. Yang pertama bernama Pablo, yang kedua bernama Bruno. Keduanya tinggal dalam rumah yang berdampingan di desa kecil dalam lembah itu.

Keduanya adalah pemuda yang penuh semangat dan berkemampuan tinggi. Keduanya juga memendam cita-cita yang sama tingginya. Keduanya sama-sama ingin menggapai bintang di langit untuk mewujudkan impian-impiannya.

Keduanya sering berkhayal, suatu saat nanti mereka akan menjadi orang yang paling kaya di desa itu. Mereka berdua sama-sama cemerlang dan sangat tekun dalam bekerja. Yang mereka perlukan hanyalah kesempatan untuk mewujudkan impian itu. Kata pepatah, untuk menjadi sukses kesiapan haruslah bertemu dengan kesempatan. Dan, keduanya sama-sama siap.

Pada suatu hari, apa yang mereka tunggu selama ini datanglah. Kesempatan itu muncul secara tiba-tiba. Kepala desa dari desa itu mendatangi mereka dengan maksud untuk mempekerjakan mereka sebagai pembawa air. Setelah melalui pembicaraan yang singkat, akhirnya kepala desa dan kedua pemuda itu setuju dengan pekerjaan yang ditawarkan. Pekerjaan mereka adalah membawa air dari sungai yang terletak di pinggir desa, ke tempat penampungan air yang terletak di tengah desa tersebut. Pekerjaan itu hanya dipercayakan kepada mereka berdua, Pablo dan Bruno.

Tidak menunggu perintah selanjutnya, keduanya langsung membawa dua buah ember dan segera menuju ke sungai. Sepanjang siang keduanya mengangkut air dengan ember. Menjelang sore, tempat penampungan air sudah penuh sampai ke permukaan. Kepala desa menggaji keduanya 1 sen per emper dikalikan jumlah ember air yang masing-masing mereka bawa.

“Wow, apa yg kita cita-citakan selama ini akan terkabul!”, teriak Bruno gembira. “Rasanya sulit dipercaya, kita mendapatkan penghasilan sebanyak ini”.

Namun, Pablo tidak berhenti sampai di situ. Dia tidak yakin begitu saja. Pulang ke rumah, Pablo merasakan punggungnya nyeri semua. Kedua telapak tangannya juga lecet-lecet. Semua itu disebabkan dua ember berat berisi air yang dibawanya bolak-balik dari sungai ke penampungan air sepanjang hari tadi. Begitu pagi tiba, perasaannya jadi kecut karena harus pergi bekerja. Tidak ingin punggung dan tangannya bermasalah lagi, Pablo justru berpikir keras mencari akal bagaimana caranya mengangkut air dari sungai ke desa tanpa harus terluka. Tanpa harus menanggung rasa nyeri di punggung. Tanpa melakukan hal itu semur hidupnya.

Pablo, Si Manusia Saluran Pipa

“Bruno, aku punya rencana”, kata Pablo keesokan harinya, setelah semalam tak bisa tidur memikirkan jalan keluar pekerjaan mereka. Sambil membawa ember-ember mereka masing-masing dan mereka pun menuju ke sungai. Pablo melanjutkan, “daripada kita mondar-mandir setiap hari membawa ember ke sungai dan hanya mendapatkan beberapa sen per hari, mengapa tidak sekalian saja kita membangun pipa saluran air dari sungai ke desa kita.”

Bruno langsung menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba.

“Saluran pipa air! Ide dari mana itu!” kata Bruno tegas.

“Kita kan sudah mempunyai pekerjaan yg sangat bagus dan menghasilkan uang dengan mudah, Pablo. Aku bisa membawa seratus ember sehari. Dengan upah satu sen per ember, berarti penghasilan kita bisa satu dolar per hari! Aku akan menjadi orang kaya. Dan ini berarti pada setiap akhir minggu aku bisa membeli sepasang sepatu baru. Pada setiap akhir bulan, aku bisa membeli seekor sapi. Setelah enam bulan kemudian, aku bisa membangun sebuah rumah kecil. Kau melihat, tidak ada pekerjaan semenguntungkan mengangkut air di desa ini. Lagipula, pada setiap akhir minggu kita mendapat libur. Setiap akhir tahun kita juga mendapat cuti dua minggu dengan gaji penuh. Kita akan hidup dengan sangat layak, dilihat dari sudut manapun. Jadi, buang jauh-jauh idemu untuk membangun saluran pipa airmu itu”.

Tapi Pablo tidak putus asa. Dia tetap bersikukuh pada idenya itu. Dengan sabar dia menerangkan bagaimana proses membangun pipa salurannya itu kepada sahabatnya. Bruno tak beranjak sedikitpun dengan tawaran Pablo.

Akhirnya, Pablo memutuskan untuk bekerja paruh waktu saja. Dia tetap bekerja mengangkuti ember-ember itu. Sementara sisa waktunya, ditambah libur akhir minggunya, dia pakai untuk membangun saluran pipanya itu.

Sejak awal melakukan pekerjaannya ini, dia telah menyadari akan sangat sulit membangun saluran pipa itu dari sungai ke desanya. Menggali di tanah keras yang mengandung banyak batu jelas tak kalah menyakitkannya dengan luka lecet dan punggung nyeri karena mengangkut air.

Pablo juga menyadari, karena upah yang dia terima sekarang berdasarkan jumlah ember yang diangkutnya, maka penghasilannya pun secara otomatis menurun. Dia juga sudah sangat paham bahwa dibutuhkan waktu satu atau dua tahun sebelum saluran pipanya itu bisa berfungsi seperti yang dia harapkan.

Namun, Pablo tak pernah kendur dengan keyakinannya. Dia tahu persis akan impian dan cita-citanya. Sebab itu dia terus bekerja tanpa kenal lelah.

Melihat apa yang dilakukan Pablo, orang-orang desa dan Bruno mulai mengejek Pablo. Mereka menyebutnya “Pablo si manusia saluran pipa”. Bruno, yang punya penghasilan dua kali lipat dibandingkan Pablo, hampir setiap saat membangga-banggakan barang baru yang berhasil dibelinya. Dia juga selalu mengatakan Pablo bodoh karena telah meninggalkan pekerjaan yang jelas-jelas menghasilkan banyak uang itu.

Bruno juga telah berhasil membeli seekor keledai yang dilengkapi pelana yang terbuat dari kulit baru. Dia menambatkan keledainya itu di rumah barunya yang kini terdiri dari dua lantai. Dia juga membeli baju-baju yang indah dan hampir selalu terlihat makan di warung-warung. Panggilannya sehari-hari juga sudah berubah. Kini orang-orang di desa memanggilnya Mr. Bruno! Mereka selalu menyambutnya ke manapun ia pergi. Bruno juga tak segan-segan mentraktir para penyambutnya ini dengan minum-minum di bar, karena mereka selalu ikut tertawa ketika ia menceritakan lelucon-leluconnya.

Tindakan-Tindakan Kecil dengan Hasil Besar

Kini, pemandangan kontras mulai tampak di antara kedua sahabat itu. Sementara Bruno asyik berbaring santai di hammock (tempat tidur gantung berupa jaring) pada sore hari, pada akhir minggu, Pablo tampak terus berlelehan keringat menggali saluran pipanya. Pada bulan-bulan awal, Pablo memang tak menunjukkan hasil apapun dari usahanya. Tampak betul bahwa pekerjaannya sangat berat. Bahkan jauh lebih berat dari pekerjaan yang dilakukan Bruno. Selain harus tetap bekerja pada akhir minggu, Pablo juga bekerja di malam hari.

Tapi Pablo selalu mengingatkan pada diri sendiri bahwa cita-cita masa depan itu sesungguhnya dibangun berdasarkan pada perjuangan yang dilakukan hari ini. Dari hari ke hari dia terus menggali. Centi demi centi!

Pepatah yang selalu diingat Pablo adalah, sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit. Dia selalu bersenandung setiap mengayunkan cangkulnya ke tanah yang mengandung batu karang. Dari satu centimeter, menjadi dua centimeter, sepuluh centimeter, satu meter, dua puluh meter, seratus meter, dan seterusnya.

Pablo mulai melihat hasil kerja kerasnya.

Ibarat pepatah yang lainnya lagi, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Kata-kata itu selalu dia tanamkan pada dirinya setelah dia kembali ke gubuknya yang sederhana, sepulang dari bekerja. Tubuhnya amat lelah setelah seharian menggali saluran pipa. Dia sudah bisa memperkirakan keberhasilan yang bakal dicapainya. Lalu dia akan berusaha keras untuk mencapainya, hari itu juga. Pablo sangat yakin, kerja kerasnya ini akan menghasilkan kekayaan yang jauh lebih besar daripada tenaga dan waktu yang sudah dia keluarkan saat ini.

“Fokuslah pada imbalan yang akan kau peroleh dari pekerjaanmu”. Kata-kata itu terus diingat Pablo, dan dia ulang-ulang setiap akan pergi tidur. Sementara hampir setiap saat, dari bar desa itu dia selalu mendengar gelak tawa yang kerap mengiringinya ke alam mimpi.

Fokus, fokus,fokus. Imbalannya pasti jauh lebih besar.

Keadaan Menjadi Terbalik

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Dan pada suatu hari, Pablo menyadari saluran pipanya sudah tampak setengah jadi. Ini berarti dia hanya perlu berjalan separuh dari jarak yang biasa ia tempuh untuk mengambil air danau itu. Waktu yg tersisa, kini, dia gunakan untuk menyelesaikan saluran pipanya. Saat-saat penyelesaian saluran pipanya pun semakin dekat dan nyata.

Setiap saat beristirahat, Pablo menyaksikan sahabatnya Bruno yang terus saja mengangkat ember-ember. Bahu Bruno juga tampak semakin lama semakin membungkuk. Dia tampak menyeringai kesakitan, meski sering berusaha dia sembunyikan. Langkahnya juga semakin lamban, akibat kerja keras setiap hari. Bruno merasa sedih dan kecewa karena merasa “ditakdirkan” untuk terus menerus mengangkut ember-ember setiap hari sepanjang hidupnya.

Bruno semakin jarang tampak bersantai-santai di tempat tidur gantungnya. Dia lebih sering terlihat di bar. Begitu melihat kedatangan Bruno, orang-orang di bar itu biasanya akan saling berbisik, “Eh, lihat, Bruno si manusia ember”. Mereka juga saling tertawa geli saat beberapa orang mabuk meniru postur tubuh Bruno yang sudah membungkuk dan caranya berjalan semakin tampak terseok-seok. Bruno tidak lagi pernah mentraktir teman-temannya di bar, atau menceritakan lelucon-lelucon tanda kegembiraan. Dia lebih suka duduk sendiri di sudut gelap yang ditemani botol-botol minuman keras di sekelilingnya.

Akhirnya, terjadi juga kegemparan di desa itu. Saat bahagia Pablo pun tiba. Saluran yang dia bangun sudah selesai. Hampir semua orang desa berkumpul saat air mulai mengalir dari saluran pipanya menuju ke penampungan air di desa. Sekarang, desa itu sudah bisa mendapat pasokan air bersih secara tetap. Bahkan penduduk desa yang sebelumnya tinggal agak jauh dari tempat itu kemudian pindah mencari tempat yang lebih dekat dengan sumber air itu.

Setelah saluran pipa itu selesai, Pablo tidak perlu lagi membawa-bawa ember. Airnya akan terus mengalir, baik dia sedang bekerja maupun tidak. Air itu terus mengalir, baik dia sedang bekerja maupun tidak. Air itu terus mengalir, baik saat dia makan, tidur ataupun bermain-main. Air itu tetap mengalir di akhir minggu ketika dia menikmati banyak permainan. Semakin banyak air yang mengalir ke desa, semakin banyak pula uang yang mengalir ke kantong Pablo.

Pablo yang tadinya terkenal dengan julukan Pablo si Manusia Saluran Pipa, kini menjadi lebih terkenal dengan sebutan Pablo si Manusia Ajaib. Para politisi memuji-muji dia karena visinya yang jauh ke depan. Mereka meminta Pablo mau mencalonkan diri sebagai walikota. Tetapi, Pablo paham sekali apa yang sesungguhnya dia capai bukanlah sebuah keajaiban. Ini semua sebenarnya barulah langkah awal dari suatu pencapaian cita-cita yang besar. Memang benar, nyatanya Pablo mempunyai rencana yang jauh lebih besar daripada apa yang sudah dihasilkan di desanya.

Pablo sesungguhnya berencana membangun saluran pipa kekayaannya di seluruh dunia!

Mengajak Teman-Temannya untuk Membantu

Saluran pipa membuat Bruno si Manusia Ember kehilangan pekerjaan. Pablo sangat prihatin melihat sahabatnya itu sampai merasa perlu mengemis-ngemis minuman di bar. Karena iba, Pablo berniat menemui Bruno.

“Bruno, saya datang ke sini untuk meminta bantuanmu,” kata Pablo.

Bruno meluruskan dulu bahunya yang bongkok baru kemudian menjawab, “kau jangan menghina saya.”

“Tidak. Saya datang kesini bukan untuk menghina. Saya justru ingin menawarkan peluang bisnis yang amat bagus. Dua tahun lamanya saya bekerja untuk bisa menyelesaikan pembangunan saluran pipa saya yang pertama. Tetapi, selama dua tahun tersebut saya belajar banyak hal. Saya jadi tahu alat-alat apa saja yang harus digunakan. Saya juga lebih paham tempat mana yang harus saya cangkul duluan, dan tempat mana yanng keras dan sulit dicangkul. Saya juga semakin mengerti di mana seharusnya menanam pipa-pipa itu. Dan selama saya bekerja, saya juga rajin mencatat apa yang telah saya lakukan. Oleh sebab itu, sekarang ini saya sudah mampu mengembangkan sebuah cara yang lebih baik untuk membangun saluran-saluran pipa lainnya.”

Setelah diam sejenak, Pablo melanjutkan. “Sebetulnya saya bisa saja membangun saluran pipa itu sendirian dalam waktu setahun. Tetapi, rasanya saya harus berpikir, untuk apa saya harus menghabiskan waktu satu tahun hanya untuk membangun satu saluran pipa itu. Rencana saya adalah mengajari kamu dan orang-orang lain yang tertarik, cara membangun saluran pipa. Nantinya, kamu dan orang-orang yang sudah saya ajari itu mengajarkan lagi kepada orang-orang baru lainnya lagi. Begitulah seterusnya. Sampai suatu saat nanti, setiap desa di wilayah ini sudah memiliki saluran pipa. Lalu, saluran pipa ini menyebar ke setiap desa di negara kita. Bahkan akhirnya, pipa-pipa seperti ini akan ada di semua desa seluruh dunia.”

“Coba kamu renungkan baik-baik,” lanjut Pablo, “Nantinya kita bisa mengutip sejumlah uang untuk setiap galon air yang dialirkan melalui saluran-saluran pipa tersebut. Semakin banyak air yang mengalir melalui saluran-saluran pipa tersebut, semakin banyak pula uang yang akan masuk ke kantung kita. Pipa yang baru selesai saya buat ini, sebenarnya bukanlah akhir dari cita-cita saya. Justru pipa saya itu merupakan awal dari cita-cita.”

Akhirnya, Bruno menyadari betapa besar potensi bisnis yang ditawarkan sahabatnya itu. Dia tersenyum, kemudian mengacungkan tangannya yang lecet-lecet kepada sahabatnya. Mereka berjabat tangan, kemudian berpelukan. Bagaikan dua orang sahabat lama yang sudah tidak berjumpa.

Peluang Usaha Saluran Pipa di Dunia Pembawa Ember

Tahun demi tahun pun berlalu. Pablo dan Bruno sudah lama pensiun. Usaha saluran pipa mereka yang mendunia terus-menerus mengalirkan ratusan juta dollar per tahun ke rekening-rekening bank mereka. Ketika mereka jalan-jalan di desa, kadang-kadang mereka melihat beberapa orang pemuda. Mereka tampak sibuk mengangkuti air dengan ember.

Kedua sahabat masa kecil ini selalu berusaha mengajak pemuda-pemuda seperti itu untuk berbincang-bincang. Mereka selalu mengisahkan kisah hidup mereka sebagai pembawa ember sampai kemudian menjadi pembangun saluran pipa. Lalu mereka menawarkan bantuan, untuk membangun saluran pipa. Tetapi, hanya sedikit di antara mereka yang mau mendengarkan nasihat mereka dan bersedia meraih peluang untuk melakukan usaha membangun saluran pipa mereka sendiri. Memang menyedihkan, melihat banyak di antara pembawa ember itu menolak tawaran tersebut. Bruno sering merasa heran dengan alasan-alasan yang selalu mereka kemukakan.

“Saya tidak ada waktu.”

“Teman saya bilang bahwa dia kenal orang yang berusaha membangun saluran pipa tetapi ternyata gagal.”

“Hanya mereka yang lebih dulu terjun dalam usaha saluran pipa ini yang akhirnya bisa sukses.”

“Seumur hidup, dari nenek moyang hingga orang tua saya, hanya mengenal pekerjaan saya sebagai pengangkut ember. Saya akan tetap mempertahankan profesi saya itu.”

“Saya tahu, ada orang-orang yang akhirnya merugi karena membangun saluran pipa seperti itu. Jadi saya tidak mau mengikuti jejak mereka. Saya tak mau merugi.”

Pablo dan Bruno benar-benar prihatin melihat mental para pembawa ember ini. Ternyata ada banyak sekali orang yang tidak punya visi tentang masa depan mereka. Visi tentang bagaimana hidup mereka beberapa tahun mendatang. Tetapi akhirnya mereka pasrah saja.

Mereka sadar bahwa hidup di dunia yang masih didominasi oleh mental pembawa ember ini, semuanya bisa terlihat statis. Hanya sedikit saja mereka yang berani dan punya ambisi untuk mencapai kesuksesan melalui saluran pipa.

#TAMAT#

 

Jadi, siapa sesungguhnya kita? Seorang pembawa ember? Ataukah seorang pembangun saluran pipa? Apakah anda hanya mendapat uang, upah, gaji, atau apapun namanya, hanya jika Anda datang ke tempat kerja, dan bekerja? Seperti yang dilakukan Bruno, si pengangkut ember?

Ataukah Anda adalah seorang yang hanya sekali saja melakukan sesuatu, dan kemudian mendapatkan uang secara terus-menerus, sepanjang hidup, seperti yang diperoleh Pablo, si pembuat saluran pipa?

Siapa Diri Anda Sesungguhnya,

Seorang Pembawa Ember?

Atau Seorang Pembuat Saluran Pipa?

Posted in , , , , , , , . Bookmark the permalink. RSS feed for this post.

Leave a Reply

Diberdayakan oleh Blogger.

Search

Swedish Greys - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.