Archive for Juni 2012

Cinta, Kue Buroncong, & Kue Burongkoh

Postingan ini saya mulai tanpa pembuka seperti postingan-postingan sebelumnya. Singkatnya, ide tulisan postingan ini terjadi karena saya sedang lapar, sedikit nge galau hahahah, plus pikiran gokil yang tiba-tiba saja datang, maka jadilah tulisan-tulisan di bawah ini. Intinya adalah hubungan keterpaksaan antara “cinta”, “kue buroncong”, dan “kue burongkoh”, selamat menikmati kelezatannya.

Kue Buroncong Kue Burongkoh

#1 CINTA PALSU itu mirip-mirip KUE BURONCONG, indah dan enak pada awalnya, tapi lama-lama jadi keras dan hambar.

#2 CINTA SEJATI itu mirip-mirip KUE BURONGKOH, panas-panas baru jadi enak, dingin-dingin masuk kulkas enak, biasa-biasa juga enak. Makin lama, makin doyan.

#3 Sangat mudah untuk mencari KUE BURONCONG, pagi-pagi banyak kok di pinggir jalan dan di perempatan.

#4 Tapi kalau KUE BURONGKOH, carinya butuh tenaga ekstra, karena hanya dijual di tempat-tempat tertentu dan biasanya baru dibuat kalau ada hajatan.

#5 Cara buat KUE BURONCONG juga tergolong mudah, tinggal buat adonan campuran tepung, kelapa, dan sedikit gula. Makanya harganya murah.

#6 Tapi kalau KUE BURONGKOH, buatnya butuh proses yang lama dan pengerjaan istimewa: adonannya, cara bungkusnya, dan cara ngukusnya. Makanya harganya mahal.

#7 KUE BURONCONG itu tergolong kue yang terbuka, dan karena itu kemungkinan sedikit tidak hiegenis.

#8 Kalau KUE BORONGKOH tergolong kue yang tertutup, dibungkus oleh daun pisang, dan karena itu peluang ketidakhiegenisnya tentu kecil.

Sekian. Sebagai penutup, dihubungkan dengan apa yang telah saya tuliskan di atas, izinkan saya untuk sedikit memberikan saran bagi Anda yang sedang mencari pasangan hidup, carilah pasangan yang sifatnya seperti KUE BURONGKOH, maka insya Allah hubungan Anda akan menjadi hubungan bertipe KUE BURONGKOH pula.

Posted in , , , , , , , , | Leave a comment

Apa Kabar Indonesia? Masalah Baru Apalagi Hari Ini?

Apa Kabar IndonesiaPostingan berikut adalah saduran dari tulisan lama saya yang berasal dari buku tulisku yang saya dapatkan di sela-sela buku lainnya dalam rangka pembongkaran dan penyusunan ulang buku-buku ke rak yang ku lakukan seminggu ini. Pikirku, akan lebih menarik jika dapat dituliskan di blog ini dan di share kepada para pembaca sekalian, sekaligus juga untuk mencegah hilangnya tulisan ini dan meminimalisir hancurnya tulisan karena buku tulisnya dimakan rayap. Tulisan ini bertanggal 24 November 2007, pukul 18:53 Wita, bertempat di rumah PHL, judulnya sebagaimana di atas: “Apa Kabar Indonesia? Masalah Baru Apalagi Hari Ini?”, selamat membaca, selamat menghayal.

Kasihan, kasihan, kasihan, dan kasihan. Mungkin hanya kata itulah yang cocok dikatakan untuk menggambarkan kabar negeriku saat ini. Tak ada tempat baginya untuk kata-kata seperti hebat, kuat, maju, ataukah kaya. Kata-kata itu telah dilahap habis negeri orang di belahan sana, hanya meninggalkan kata kasihan untuk negeriku, Indonesia.

Terbentuk dari ribuan pulau dari Sabang di kaki barat sampai ke Merauke di timur jauh sana. Gugusan pulau yang seakan sengaja diciptakan sebagai batu permata yang digantung di bawah garis ekuator bumi tengah. Begitu indah.

Mari, ku ajak engkau mendekat ke sana, berlari dari suatu kota ke kota lainnya dan sesekali harus melompat dari pulau ke pulau. Lihat dan perhatikan apa sebenarnya isi dari permata itu.

Suara-suara gaduh menyeruak, sepertinya mereka mengatakan “tolong”. Semakin lama suara-suara itu semakin jelas, memang benar berbunyi “tolong”. Kemudian tampak dari jauh ratusan orang berlarian compang-camping, sesekali menengok ke belakang seakan-akan mereka berada di tengah arena balap banteng di Spanyol sana.

Aku penasaran apa yang ada di belakang mereka, aku kaget luar biasa. Ternyata lebih dahsyat malah dari belasan banteng bertanduk runcing tajam. Air bah setinggi pohon kelapa membuka mulutnya lebar-lebar, kenyang melahap semua yang ada di depannya, berkecepatan kayak mobil formula.

Aku berusaha mengulurkan tangan kananku kepada seorang gadis cilik yang menangis kebingungan. Hampir aku mencapainya. Tubuhku tiba-tiba saja tersedot masuk ke dalam lubang hitam sempit, latar berubah aku tiba di Kota Padang, bumi si anak durhaka Malin Kundang.

Aku mengangkat kaki sebelah memulai langkah awal di kota ini, sreeeek, kakiku menyentuh tanah kembali. Tiba-tiba sesuatu berbeda terasa dari kuku kaki hingga ke ujung rambut keringku. Semuanya berguncang maju-mundur, kiri-kanan, atas-bawah tak beraturan. Aku berlari sempoyongan tak berarah. Ku pandang semua di sekelilingku, aku memutar badan satu lingkaran penuh. Di sana aku melihat tembok-tembok kokoh yang selama ini menjadi tameng dari terik matahari, hujan, dan dari dinginnya malam, roboh bagai mainan bongkar pasang rata dengan tanah.

Beberapa mobil ambulans berseliweran ke sana ke mari dengan sirinenya yang memekikkan telinga, menambah tegang suasana. Orang-orang bermuka bingung dan panik, semuanya begitu. Mereka memenuhi jalan-jalan kota mengarah ke suatu tempat yang beberapa saat setelahnya aku ketahui tempat itu adalah kamp pengungsian.

Dari Sumatera Barat kita lari-lari kecil ke Riau. Aku sempat tersesat sebelum akhirnya sampai di sana. Ada kabut tebal pekat putih menghalangi jalan, baunya pun menciderai hidung. “Kebakaran hutan lagi”, kataku dalam hati.

Dari sana kita ambil ancang-ancang dan melompat lebar ke Pulau Kalimantan. Aku tersungkur jatuh dengan wajah menempel di tanah. Kakiku tersandung dahan pohon. Aku mengangkat wajah, mencoba menengok, aku berada di tengah hutan.

Beberapa saat kemudian terdengar bunyi rongrongan mesin gergaji. Pijakanku terasa bergoncang ketika sebatang pohon besar jatuh ke tanah. Tak hanya sekali, tapi puluhan kali. Aku mendekat ke sumber suara, terdengar bunyi kracak-kracak dahan pohon. Sebatang pohon besar sepuluh kali lipat dari badanku mengarah jatuh tepat ke tempatku berdiri. Untunglah lubang hitam sempit itu muncul tepat waktu, aku tiba di Poso, Sulawesi Tengah, malah hari kira-kira setelah isya.

Berbeda dari tempat-tempat sebelumnya, hanya kata sepi dan tegang yang muncul di otakku. Tak ada seorang pun terlihat bahkan bunyi jangkik malam pun tak ada. Aku tertarik pada sebuah rumah yang lampunya menyala di atas teras, aku ditarik sesuatu untuk mendekat ke sana. Aku menaiki anak tangga kayu basah rumah panggung itu. Sebelum mengetuk pintu, sempat aku menyelidik melalui celah-celah jendela depannya. Aku melihat siluet dua orang tegap berdiri, di tangan mereka ada parang. Aku pindah ke celah sampingnya, ku lihat seseorang yang bergerak tertatih-tatih, di bawah kakinya bercak-bercak cairan kental merah bertebaran kayak bintang di langit malam ini. Dia terluka parah.

Keringat dinginku bercucuran dari balik kulit pelipis, aku tak pernah melihat yang seperti ini. Aku mundur perlahan-lahan menuruni tangga. Tapi di dua anak tangga terakhir aku terpeleset jatuh terbaring ke tanah menghadap angkasa. “Siapa itu?”, terdengar suara berat dan serak dari dalam rumah tadi, diikuti dera-dera langkah kaki, sampai terdengar bunyi engsel pintu diputar. Cepat-cepat aku bangun memutar badan, berlari secepat mungkin, lompat masuk ke dalam hutan, lari sekencang-kencangnya. Di belaang aku mendengar langkah panjang menghampiri. Semakin kencang lariku, semakin jelas suara langkahnya. Aku tiba di pinggir sungai dan aku lompat ke dalamnya.

“Aku tak bisa berenang, aku tak bisa berenang”, begitu teriakku di dalam air. Ajaibnya kaki dan tanganku tiba-tiba bergerak sendiri, melakukan gerakan teratur dan kompak mirip atlet renang olimpiade yang mendekati garis finish. Dia akan juara. Aku membiarkannya membawaku ke permukaan. Kepalaku muncul duluan, merasakan indahnya menghirup udara. Sayup-sayup basah ku buka mata, sinar kesilauan dari benda bendar di atas sana. Sudah siang.

Setelah merasa cukup sadar, aku menjajakan pandangan, bertanya-tanya, tempat yang bagaimana lagi ini. Desingan tombak besi runcing saling berpapasan memecah udara tepat di atasku. Belasan lagi mengikuti di belakangnya, ditembakkan dari sisi kiri-kanan sungai. Selanjutnya, anak-anak panah sepanjang dua kaki, melesat berkelok-kelok membentuk parabola mendarat di perut seseorang sebagai landasan pacunya. Tak mau ketinggalan, batu-batu sungai bundar sebesar kepalangan tangan, beterbangan bagai debu, membuat orang-orang pada melindungi kepalanya. Aku tahu, aku sekarang berada di Papua, lagi-lagi perang suku, yang dibatasi oleh sungai. Pastinya sudah banyak korban. Selalu saja terjadi.

Latar berubah sekali lagi, kali ini aku berdiri di trotoar jalan pinggir pantai, malam hari. Angin laut sepoi-sepoi mengeringkan rambutku yang basah tadi. Ada banyak turis di sini. Mereka menikmati malam ini dengan makan-makan, berdansa, berkejar-kejaran, dan lain-lain di atas pasir putih pantai itu. Beberapa di antara mereka tertawa besar dengan mulut menganga lebar. Namun suara mereka jadi tak jelas karena termakan oleh alunan musik rock beraksen Inggris yang keluar dari loudspekar besar di panggung sana.

Tiba-tiba BOOOOM, percayalah kalau suaranya jauh lebih keras beratus-ratus kali lipat dari tulisannya saat dibaca. Bayangkan sendiri saja. Aku spontan memejamkan mata keras-keras, kepalaku sakit, bunyi tiiit mendengung panjang di lubang telingaku. “Apa gendang telingaku baik-baik saja?”, bunyi yang luar biasa dahsyat. Perlahan ku buka kedua mataku. Meja dan kursi beterbangan berubah posisi puluhan meter dari tempatnya semula. Potongan-potongan badan berlapis kulit manusia menyerupai tangan, kepala, kaki, dan lainnya memenuhi tempat tadi. Memang benar adalah potongan manusia.

Pasir yang tadinya putih berkilau, berubah jadi merah oleh darah. Turis-turis itu panik lari ketakutan keluar gerbang yang di atasnya bertuliskan “Pantai Jimbaran”. Bom mengguncang Bali, pulau dewata. Dunia gempar mendengarnya.

Lubang hitam sempit itu muncul kembali. Tapi bukan aku yang tersedot ke dalamnya, tapi adalah semua yang ada di sekelilingku. Tempat baru lagi, aku tahu ini tempat terakhir untuk perjalanan hari ini. Aku berada di halaman sebuah gedung besar megah, atapnya berwarna hijau berbentuk menyerupai buku. Ku lihat diriku, mengenakan jas hitam, kemeja cerah, dan dasi kasual bergaris-garis, lengkap dengan sepatu kulit impor asal Perancis.

Aku menjajakan kaki langkah demi langkah di atas lantai marmer bersih mengilapnya. Aku tiba di depan pintu besar yang di atasnya bertuliskan “Nusantara 1”. Aku mengekor di belakang orang-orang yang berjalan masuk pintu itu. Seorang pria yang berdiri di sana menyapa “selamat pagi” padaku dengan senyumnya yang lebar.

Aku menemukan kursiku, kursi bernomor 409. Di mejanya terdapat papan kecil dari kayu jati berukir namaku. Aku duduk perlahan berusaha agar jasku tak terlipat. Beberapa saat setelahnya entah kapan dimulainya, di depan orang-orang pada adu jotos. Pipi lawan tangan, kaki lawan lengan. Aku mengira pertandingan tinju kelas berat, berita heboh-berita heboh, anggota dewan adu jotos di meja pimpinan DPR. Suasana di luar gedung tak mau kalah dengan yang ada di dalam. Mahasiswa dan polisi anti huru-hara saling terkam beterbangan mirip dalam film kungfu. Aku pusing memilih di antaranya, yang mana yang lebih enak ditonton, anggota dewan versus anggota dewan atau mahasiswa versus polisi anti huru-hara.

Telepon genggamku berdering, aku raih dari saku jasku mematikannya tapi tak bisa. Ku coba lagi tetap tak bisa. Aku membuka mata, aku kembali ke dunia nyata. Ternyata yang berdering adalah jam wekerku di atas meja belajar. Aku mencapainya dan memencet tombol atasnya, berhenti berdering.

Aku keluar kamar mengarah ke WC untuk cuci muka. Tak sampai ke WC, terdengar bunyi plaaak di teras rumah. Aku buka pintur rumah, menemukan sebuah koran di sana. Aku memungutnya, masuk ke dalam rumah, duduk di sofa yang menghadap ke televisi. Halaman depannya dengan huruf tebal bertuliskan “Apa Kabar Indonesia?”. Aku membaca bagian bawahnya yang terdiri dari empat kolom tulisan panjang-panjang, mencoba mencari jawaban dari pertanyaan yang muncul di otakku, “masalah baru apalagi hari ini?”.

Posted in , , , , , , | Leave a comment

(Kalau) Saya Presiden, Mereka Menterinya

Presiden Setelah cukup lama rasanya tidak menulis postingan yang bertema pengandaian: “jika”, “kalau”, “bilamana”, “nanti”, dan sebagainya sebagaimana write style ku selama ini (sok!), dan jika boleh agak lebay, mungkin di antara para pembaca setia blog ini sudah ada yang kangeeen dengan tulisan-tulisan saya yang bertema seperti itu (adakah? hahahah), maka kali ini alhamdulillah kebetulan saya punya ide untuk menulis tulisan bualan seperti itu lagi dengan judul: (kalau) saya presiden, mereka menterinya.

Ide tulisan ini sebenarnya saya hadirkan karena kegalauan saya melihat nasib negeri kita tercinta ini: Negara Kesatuan Republik Indonesia, tanah air, tumpah darah, dan kebanggaan kita semua. Salah satu pertanyaan besarnya adalah siapa yang telah begitu tega membuat negeri ini menjadi negeri yang kacaunya bukan main, bobroknya minta ampun, dan sedihnya setengah mati seperti saat sekarang ini? Ada beberapa jawaban yang muncul, tapi kalau diminta untuk menemukan jawaban instant yang dapat membuat kita sedikit puas karena terdapat objek yang bisa kita persalahkan (menyesuaikan kebiasaan orang Indonesia untuk menyalahkan jika terdapat masalah hahahah), maka jawabku: mereka adalah para pemimpin, para pejabat, dan para birokrat negeri ini sendiri.

Banyak orang yang mengatakan bahwa pemimpin negeri ini terlalu lambat, terlalu peragu, dan terlalu mementingkan faksi politiknya sehingga prioritas terhadap kesejahteraan rakyat diabaikan, dan saya pun mengiyakan pendapat tersebut. Banyak orang yang mengatakan bahwa sebagian besar pejabat negeri ini adalah tidak kapabel atau tidak berkeahlian dengan jabatan dan tugas yang diembannya sehingga prioritas terhadap kemakmuran rakyat berjalan setengah hati, dan saya pun mengangguk mantap dengan pendapat tersebut. Dan banyak orang yang mengatakan bahwa banyak birokrat negeri ini yang menjadi birokrat bukan karena kualitas dan/atau kinerjanya, tapi karena praktik nepotisme dan praktik “uang muka” nya, dan saya pun tersenyum ikut meng oke-jempol kan pendapat tersebut.

Terkait hal tersebut di atas, berangkat dari pemikiran sempit ini, menurut saya hal yang pertama-tama harus dibenahi jika kita ingin memperbaiki negeri ini dan memajukannya di kemudian hari adalah memperbaiki pemimpinnya, pejabatnya, dan para birokratnya, istilahnya para teladannya. Berangkat dari hal inilah pengandaian saya itu dimulai: seandainya saya menjadi presiden, maka siapa gerangan orang-orang yang saya pilih dan tempatkan menjadi menteri yang membantu saya mengurus negeri ini sehingga negeri ini dapat diperbaiki dan dimajukan.

Setelah melalui seleksi singkat, berbagai analisis dan pertimbangan yang singkat pula, juga melalui penelusuran track record mereka secara sederhana lewat internet dan mass media, inilah mereka-mereka itu, menteri-menteri kebanggaanku, mereka-mereka yang profesional pada tugas yang diembannya masing-masing:

1. Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan: PRABOWO SUBIANTO

Prabowo Subianto

2. Menteri Koordinator Perekonomian: JUSUF KALL

Jusuf Kalla

3. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan: ANIES BASWEDAN

Anies Baswedan

4. Menteri Hukum dan HAM: YUSRIL IHZA MAHENDRA

Yusril Ihza Mahendra

5. Menteri Agama: QURAISH SHIHAB

Quraish Shihab

6. Menteri Keuangan: SRI MULYANI INDRAWATI

Sri Mulyani Indrawati

7. Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan: KHOFIFAH INDAR PARAWANSAH

Khofifah Indar Parawansah

8. Menteri Negara Perumahan Rakyat: CIPUTRA

Ciputra

9. Menteri Negara Pemuda dan Olahraga: MARUARAR SIRAIT

Maruarar Sirait

10. Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara: DAHLAN ISKAN

Dahlan Iskan

Itulah mereka-mereka yang saya percaya bisa bekerja secara profesional dan saya yakini akan memberikan hasil yang maksimal dari kinerja mereka untuk negara tercinta ini. Mungkin ada beberapa di antara para pembaca yang bertanya tentang pos-pos jabatan menteri lainnya kenapa tidak diisi, saya jawab bahwa untuk saat ini saya belum menemukan orang yang cocok dan capable serta saya percaya untuk itu.

Selain pos-pos jabatan menteri di atas, kalau saya diizinkan punya hak prerogatif lagi untuk memilih orang-orang untuk pos-pos lainnya di luar kementerian yaitu untuk lembaga negara dan komisi negara serta untuk bisa mengintervensi kekuasaan lainnya yaitu khususnya untuk kekuasaan yudikatif, berikut orang-orang kebanggaan saya itu:

11. Gubernur Bank Indonesia: ANGGITO ABIMANYU

Anggito Abimanyu

12. Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi: ABRAHAM SAMAD

Abraham Samad

13. Ketua Mahkamah Agung: ASEP IWAN IRIAWAN

Asep Iwan Iriawan

14. Ketua Mahkamah Konstitusi: MAHFUD MD

Mahfud MD

Sekian, bagaimana, ada yang bisa membantu saya membayangkan bagaimana kondisi negara ini jika para pemimpin, pejabat, dan birokratnya adalah orang-orang yang di atas? mantap kan. Atau ada yang mau mengusulkan nama-nama baru untuk pos-pos jabatan lainnya yang belum saya isi dan temukan? Atau ada yang mau mengoreksi dan protes terhadap apa-apa yang telah saya pilih di atas. Monggoo, silahkan, kotak komentar di bawah siap untuk menampung segala aspirasi dan argumen Anda, semata-mata untuk kebaikan Indonesia kita tercinta ini. MAJU INDONESIA, INDONESIA BISA, INDONESIA RAYA!!!

Posted in , , | Leave a comment

Happy Anniversary for Pancasila (Part 2)

Pancasila Saat IniBagaimanakah model demokrasi permusyawaratan itu? dan apa yang membedakannya dengan model demokrasi berdasarkan voting? mari kita membahasnya bersama-sama. Model demokrasi permusyawaratan secara sederhana dan jelas sebenarnya sudah termaktub dalam bunyi Sila Ke-4 Pancasila yaitu adanya (1) unsur perwakilan berdasarkan sistem permusyawaratan dan (2) unsur prioritas tertinggi tetap untuk kepentingan rakyat (dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat).

Menghubungkannya dengan sistem pemilu kita saat ini yang kita ketahui menerapkan sistem keterwakilan berdasarkan pemilihan atau voting baik untuk presiden, DPR, DPD, dan DPRD, hal tersebut jelas-jelas dan secara terang-terangan telah bertentangan dengan Sila Ke-4 Pancasila. Mungkin beberapa di antara Anda yang nasionalis dan optimis sontak mengatakan, “kalau begitu mari kita perbaiki kesalahan ini, mulai saat ini juga, sedikit demi sedikit”, beberapa lainnya di antara Anda juga mungkin mengatakan, “sebenarnya bisa diperbaiki, namun banyak hal yang perlu dibenahi dan itu membutuhkan waktu yang cukup lama”, dan beberapa lainnya lagi di antara Anda mungkin secara pesimis mengatakan, “tidak usahlah diperbaiki lagi, pake yang sekarang aja”. Kalau saya diminta memilih dari 3 kategori “Anda” di atas, maka saya akan memilih yang pertama yang nasionalis dan optimis, dan lagi-lagi sebaiknya Anda juga mengikuti apa yang saya pilih tersebut. Karena kalau tidak, segera keluar dari blog saya ini dan jangan kembali lagi, kita tak butuh orang-orang yang cengeng dan pesimis di sini peace heheheh.

Ya, karena saya dan Anda telah sama-sama memilih pilihan untuk memperbaiki kesalahan terkait Sila Ke-4 Pancasila tersebut dalam sistem pemilu kita (terbukti karena Anda masih membaca postingan blog ini heheheh), maka supaya tidak dianggap sebagai segelintir orang yang hanya jago berkomentar dan mengkritik tanpa solusi, maka kali ini mari kita memberikan solusi cerdas yang kita punya itu sekaligus menunjukkan bagaimana model demokrasi permusyawaratan yang seharusnya diterapkan di Indonesia yang sesuai dengan Sila Ke-4 Pancasila.

Sebuah artikel opini yang pernah dimuat di koran Kompas beberapa waktu lalu akhirnya melengkapi dan membuat terang terkait beberapa istilah sehubungan dengan pemikiran saya (sok mengklaim sebagai “pemikiran saya” lagi heheheh) tentang model demokrasi permusyawaratan yang seharusnya diadopsi oleh sistem pemilu kita. Sebenarnya saya sudah mencari-cari clipping koran tersebut supaya saya dapat mengutip beberapa kalimatnya ke dalam postingan ini, namun karena saya tidak menemukan clipping nya, maka izinkan saya menjelaskan melalui kata-kata saya sendiri.

Indonesia, negara kita tercinta ini dengan sistem norma, nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat, dan kebudayaannya adalah tidak tepat untuk menerapkan sistem pemilu berupa keterwakilan melalui pemilihan (yang biasa juga kita sebut berdasarkan suara terbanyak atau voting) seperti yang berlaku saat sekarang ini. Indonesia, negara kita tercinta ini lebih cocok jika menerapkan sistem pemilu (seharusnya bukan lagi diistilahkan sebagai “pemilu”) berupa keterwakilan melalui penunjukan. Apa yang dimaksud dengan keterwakilan melalui penunjukan? Dan apa kelebihannya dengan keterwakilan berdasarkan pemilihan?

Ya, reformasi telah berlangsung selama 14 tahun lamanya, dan melalui reformasi ini dilahirkan sistem pemilihan pemimpin dan keterwakilan, melalui sesuatu yang kemudian kita istilahkan sebagai pemilu langsung. Selama masa reformasi ini, kita telah melalui 3 kali pemilu yang mana di antaranya 2 kali pemilu yang dilakukan langsung oleh rakyat yaitu yang diselenggarakan pada tahun 2004 dan tahun 2009. Pertanyaannya: bagaimana hasilnya, menggembirakankah atau memurungkankah? jawaban saya: memurungkan, dan Anda juga lebih baik menjawab sama dengan saya. Adakah di antara Anda yang bisa membuktikan sebaliknya? Tidak ada yang angkat tangan kan, oke, sudah jelas heheheh.

Kita tidak bisa menutup mata dan telinga dan mengakui bahwa keadaan negara kita tercinta ini kian hari kian memprihatinkan. Tidak usahlah jauh-jauh menengok ke desa dan pelosok sana untuk mencari bukti nyata dari kata “memprihatinkan” ini. Kita hanya perlu memencet tombol ON televisi kita masing-masing di rumah (terserah modelnya: CRT, LED, LCD, dan sebagainya, yang penting bisa nyala, heheheh) dan memilih program dari channel Metro TV ataukah TV One, maka kita akan segera melihat hal yang memprihatinkan itu: KORUPSI ANGGOTA DEWAN, PEGAWAI NEGERI, & PEJABAT PEMERINTAHAN.

Singkat cerita, salah satu penyebab dari sekian banyak penyebab terjadinya korupsi yang kita kenal baik secara teori dan praktek adalah karena kurangnya atau bahkan tidak adanya rasa tanggung jawab sosial pada diri anggota dewan, pegawai negeri, dan pejabat pemerintahan korup tersebut. Mereka sama sekali tidak memiliki hubungan kedekatan secara emosional dengan masyarakat yang memilihnya, tidak pernah hidup dan merasakan kehidupan masyarakat yang memilihnya, dan tidak tahu apa masalah serta harapan masyarakat yang memilihnya. Hanya bermodal foto narsis beralmamater partai lengkap dengan senyum indah di wajahnya yang tentu saja sudah diedit susah payah via Photoshop, ditambahkan tulisan nama lengkap yang ditambah-tambahi gelar akademis atau bangsawan yang tak tahu asalnya, kemudian dicetak ukuran jumbo dan itupun ngutang di percetakan atau kalau tidak ngutang pasti minta diskon, dan menjelang tengah malam berdirilah balihonya di sudut-sudut strategis ibukota oleh tukang-tukang becak yang dijanjikan akan diberi upah pembeli rokok, entah rokok sebatang atau sebungkus heheheh.

Ya, intinya, siapa yang balihonya paling banyak, yang ada iklannya sekali-kali muncul di televisi, yang banyak bantuan sosial “ada U di balik B nya”, dan sebagainya, maka dialah yang akhirnya akan mendapatkan undangan bertinta emas sebagai pemilik kursi empuk di gedung beratap buku hijau di Senayan sana atau yang akan dijemput langsung oleh mobil super mewah bernomor plat RI 1 yang membawanya ke istana megah, bekas milik jenderal VOC di jalan Medan Merdeka Utara sana. Ya, bukannya berniat untuk menjelek-jelekkan orang-orang yang seharusnya tersinggung ya, hanya saja supaya kita bisa merefresh bagaimana hubungan antara baliho jumbo narsis, sistem pemilu berdasarkan pemilihan, dan keadaan negara yang memprihatinkan, itu saja kok, tidak lebih.

Dan supaya keadaan negara ini tidak terus menerus memprihatinkan seperti sekarang dan supaya kita tidak menjadi negara dan warganegara yang menyia-nyiakan segala nikmat dan kelimpahan yang telah diberikan oleh Yang Maha Memberi di atas sana, maka marilah kita mulai memperbaiki kesalahan ini melalui penerapan model demokrasi permusyawaratan melalui sistem keterwakilan melalui penunjukan. Pastinya masih banyak di antara Anda yang tidak mengerti mengenai konsep perbaikan ini, karena sedari tadi saya hanya membahasnya secara setengah-setengah atau kalau jujur dikatakan dibahas secara kacau balau dan tak terarah heheheh. Baiklah saya akan mulai serius membahasnya.

Baca Lanjutannya di Happy Anniversary for Pancas ila (Part 3)

Posted in , , , | Leave a comment

Happy Anniversary for Pancasila (Part 1)

Hari Lahirnya Pancasila Pertama-tama, mengawali postingan kali ini, saya ingin sedikit mengumbar salah satu kebego’an terabal-abal saya yang terjadi karena dipancing oleh pemberitaan gencar satu dua hari ini di televisi tentang Pancasila dan topik-topik seputarnya. Kebego’an saya tersebut adalah dari kemarin sampai sebelum jam 9 malam, hari ini (01/06/2012) saya tidak tahu bahwa hari ini adalah peringatan Hari Lahirnya Pancasila hahahah. Kemarin, saya telah keliru karena mengira bahwa hari ini adalah peringatan Hari Kesaktian Pancasila mengingat kedua hari peringatan ini sama-sama bertanggal 1, yang mana satunya bertanggal 1 Juni dan satunya lagi bertanggal 1 Oktober. Sebenarnya saya juga ragu-ragu dengan keyakinan keliru sebelumnya tersebut, karena setahu saya Hari Kesaktian Pancasila diperingati setelah terjadinya G/30S/PKI yang bertanggal 30 September. Dari sana saya berpikir bahwa mana mungkin hari ini tanggal 1 Juni diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila, yang tanggal 30 September nya masih 2 bulan lagi, “hari apa hari ini yah?” pikirku penasaran sedari kemarin hingga sebelum jam 9 malam. Hingga akhirnya tepat jam 9 malam (mungkin ada yang bertanya: “kok pake jam?”, jawabku “karena saya lihat jamnya”, kagak penting hahahah), seorang pembawa acara pada sebuah program talk show di televisi mengatakan sepotong kalimat “…peringatan Hari Lahirnya Pancasila…”, saya akhirnya mangguk-mangguk sendiri sekaligus merasa menjadi orang terbodoh se-Indonesia karena tidak tahu dengan hari peringatan ini. Tapi, sekeliru apapun saya, sebego’ apapun saya, dijamin saya 100,5% cinta mati sama Indonesia heheheh.

Terlepas dari cerita kebego’an tak penting di atas, sebenarnya melalui postingan ini saya berniat untuk menulis sesuatu yang bertemakan Pancasila, supaya bisa dikatakan ikut menyemarakkan hari peringatan ini dan juga supaya tak kalah dengan para komentator yang sedari tadi nyerocos tentang Pancasila di televisi. Mengenai tema Pancasila ini, sebenarnya saya memiliki banyak hal yang ingin dituliskan, tapi karena keterbatasan tempat dan untuk tetap menjaga fokus topik tulisan setiap postingannya, akhirnya saya memutuskan bahwa kali ini saya ingin memberikan komentar terkait Sila Ke-4 Pancasila, yaitu “kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan” (masih hafalkan Anda? masih, lupa, atau hafal-hafal ingat, terserah, saya hanya ingin Anda tahu bahwa saya sayang sama Anda, sebagai sesama warganegara Indonesia tentunya, heheheh).

Sila Ke-4 Pancasila ini seringkali dihubung-hubungkan dengan sistem pemilihan umum (pemilu) yang telah berlaku di Indonesia saat ini. Tapi weeeiiits tunggu dulu, betulkah itu? apakah Sila Ke-4 Pancasila benar-benar menginginkan kita memberlakukan sistem pemilu seperti saat ini? apakah “permusyawaratan” itu telah identik dengan sistem pemilu seperti yang ada sekarang? jawabku: TIDAK, jawaban Anda sebaiknya juga harus TIDAK, alasannya, mari kita bahas bersama-sama di bawah ini, namun sebelumnya sebagai catatan: komentar-komentar dan argumen-argumen di bawah adalah murni dari pemikiran saya yang dangkal ini, tak berarti saya ingin mengobrak-abrik dan menjelek-jelekkan sistem yang telah dengan susah payah dibuat oleh orang-orang “pintar” kita, semata-mata hanya sebagai bentuk penyaluran aspirasi dan pendapat yang bebas demi kemajuan bangsa dan negara kita tercinta ini heheheh.

Mengawali komentar saya ini, saya meminta kerelaan Anda sebentar untuk membaca dan melafalkan ulang dengan penuh penghayatan tulisan yang ada di bawah ini (ingat: benar-benar dibaca, benar-benar dilafalkan, dan benar-benar dihayati):

KERAKYATAN YANG DIPIMPIN OLEH HIKMAT KEBIJAKSANAAN DALAM PERMUSYAWARATAN/PERWAKILAN

Sekali lagi:

KERAKYATAN YANG DIPIMPIN OLEH HIKMAT KEBIJAKSANAAN DALAM PERMUSYAWARATAN/PERWAKILAN

Sekali lagi deh, yang terakhir:

KERAKYATAN YANG DIPIMPIN OLEH HIKMAT KEBIJAKSANAAN DALAM PERMUSYAWARATAN/PERWAKILAN

Terima kasih saya ucapkan atas kerelaan Anda, mari kita lanjutkan pembahasannya. Salah satu dari sedikit pernyataan dari Bapak Mahfud MD yang begitu kental dan terekam mantap di kepala saya adalah pernyataannya yang disampaikan dalam sebuah seminar di ruang vicon Fakultas Hukum Unhas yang diselenggarkan beberapa bulan yang lalu. Beliau dalam sebuah pernyataannya mengatakan “negara Indonesia adalah negara demokrasi permusyawaratan, bukan demokrasi berdasarkan voting”. Saya seketika setelah mendengar pernyataan singkat tersebut merasa tersetrum dan sebentar kemudian tersesat dengan berbagai letupan pemikiran di otak yang mengikutinya sehingga saya tidak menghiraukan lagi kalimat-kalimat seterusnya yang diseminarkan oleh Bapak Mahfud MD. Saya ulangi: “negara Indonesia adalah negara demokrasi permusyawaratan, bukan demokrasi berdasarkan voting”. Apakah pernyataan ini benar? jawabku: BENAR, jawaban Anda sebaiknya juga harus BENAR. Apakah pernyataan tersebut berlandaskan dan sesuai dengan Sila Ke-4 Pancasila? jawabku: BENAR, jawaban Anda sekali lagi sebaiknya juga harus BENAR.

Berangkat dari pernyataan tersebut, mari kita sama-sama merenungkan dan menjawab pertanyaan: apakah Indonesia negara kita tercinta ini telah menerapkan demokrasi permusyawaratan atau yang diterapkan malah demokrasi berdasarkan voting? Ya, kali ini Anda telah lebih pintar dan lebih gesit dengan jawaban yang benar: “saat ini Indonesia menerapkan demokrasi berdasarkan voting”.

Model demokrasi berdasarkan voting pada dasarnya tidaklah salah karena memang secara teori dan praktek model demokrasi yang dikenal di dunia ada 2 yaitu dapat berupa model demokrasi permusyawaratan ataukah model demokrasi berdasarkan voting. Namun, karena wilayah penerapan demokrasi tersebut adalah di Indonesia yang “katanya” menganut demokrasi Pancasila, maka seharusnya model demokrasi yang diterapkan harus sesuai dengan nilai-nilai yang diinginkan oleh Pancasila, dan model demokrasi yang sesuai tersebut adalah model demokrasi permusyawaratan.

Baca lanjutannya di Happy Anniversary for Pancasila (Part 2)

Posted in , , , | Leave a comment
Diberdayakan oleh Blogger.

Search

Swedish Greys - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.