Archive for Maret 2012

Hubungan Gelapku dengan Kompas (Part 1)

Hubungan Gelapu dengan Kompas (Part 1) Kali ini saya akan bercerita tentang sebuah benda (benda mati) yang yang memilik andil besar yang akhirnya mempengaruhi hidupku, dan jika tak berlebihan kiranya, dapat dikatakan adalah sebuah benda yang sangat berjasa, jasanya tak terkira banyaknya. Yaa sebenarnya, saya juga tidak habis pikir, kenapa benda yang satu ini rasa-rasanya hidup bahkan sekali lagi jika tak berlebihan kiranya, dapat dikatakan jauh lebih baik daripada makhluk hidup yang ada, yang saya temui sehari-harinya. Dia selalu hadir pada saat saya membutuhkannya, selalu memberikan solusi terhadap berbagai permasalahan yang sedang saya hadapi, memberikan ide pada saat saya menginginkan idenya, dan beberapa doa dan harapanku ternyata melalui perantaraannyalah akhirnya terkabulkan. Benda itu adalah KOMPAS (Koran Kompas), dan di bawah ini saya akan menceritakan beberapa kisah “hubungan gelap” ku dengannya, hanya sebagai pengingat bahwa cerita-cerita “ajaib” ini pernah terjadi dan akhirnya bisa saya kenang di kemudian hari.

1. KOMPAS, penghubung keakrabanku dengan sang inspirator/motivator dunia kampusku

Jika tak keliru, perkenalanku dengan Kompas terjadi pada pertengahan tahun 2008. Cerita singkatnya, waktu itu saya sedang mengagumi seorang kakak senior karena kecerdasan dan inspirasinya yang begitu luar biasa bagi kehidupan kampusku yang baru saja ku rintis. Sebagaimana biasanya para pengagum, mereka akan senantiasa mendekati dan meniru orang-orang yang dikaguminya, termasuk kebiasaan-kebiasaanya. Salah satu kebiasaan yang saya perhatikan dari kakak senior ini adalah di mana-mana dia selalu membawa koran Kompas dan ketika ada waktu luang maka dia akan membacanya.

Seiring berjalannya waktu, akhirnya saya dan kakak senior ini semakin akrab karena kami sama-sama menjadi petinggi pengurus sebuah organisasi di kampus di mana dia menjadi Director nya (semacam ketua) dan saya menjadi sekretarisnya. Akhirnya pada suatu hari, saya memberanikan diri untuk bertanya beberapa hal yang selama ini hanya ku pendam, salah satunya adalah mengenai kebiasaannya membawa dan membaca koran Kompas. Singkat cerita, setelah saya bertanya dan dia menjawab, saya ketahui bahwa kunci kesuksesan dunia akademik kampusnya selama ini dan akhirnya membawanya menjadi salah satu mahasiswa top di kampus, adalah karena kebiasaannya membaca koran Kompas.

Dia telah beberapa kali mengikuti lomba karya tulis baik lokal maupun nasional, dan beberapa kali telah mendapatkan juara, dan katanya sering kali ide dan data-data karya tulisnya dia dapatkan di koran Kompas. Saya juga akhirnya ketahui, bahwa koran Kompas menjadi kunci kegemilangan dan keenceran otaknya di dalam kelas ketika sedang membahas kasus-kasus hukum, utamanya kasus-kasus yang sedang aktual, itulah yang membuatnya akrab dan disegani oleh banyak dosen.

Di akhir tanya-jawab kami, saya menanyakan tempat di mana dia biasa mendapatkan koran Kompasnya di kampus. Dijawab kalau dia membelinya di tempat fotokopi Fakultas Ekonomi (di samping kantin “awas kepala” Fakultas Ekonomi). Sesaat setelah pembicaraan akrab kami itu berakhir, saya segera meluncur ke tempat yang ditunjukkan dan mendapati tumpukan koran Kompas di sana. Saya sedikit terkejut ketika menanyakan harganya kepada si Ibu penjual, hanya Rp 1.000,- (belakangan ku ketahui bahwa koran Kompas yang dijual di sana mendapat subsidi dari pemerintah/perguruan tinggi/fakultas sehingga hanya dijual Rp 1.000,- kepada mahasiswa. Mungkin untuk memancing animo membaca para mahasiswa, pikirku). Selain harganya yang “miring”, juga terdapat kupon berwarna yang distaples di halaman 1 nya, yang berdasarkan catatan di kuponnya, jika mengumpulkan 10 kupon, maka akan dapat 1 tiket nonton gratis di bioskop. Waooow. (jadi menurut mesin kalkulator ekonomi a la Sengkang di otakku, jika kita membeli koran Kompas selama 10 hari, maka hanya akan mengeluarkan uang sebanyak Rp 10.000,- (jika mengigat dan membandingkannya dengan alokasi uang makanku, saya jadi geleng-geleng kepala). Dan secara otomatis saya akan mendapatkan 10 kupon yang dapat ditukarkan menjadi 1 tiket nonton yang sekurang-kurangnya harganya Rp 15.000,-. Jadi, untungnya jika diuangkan adalah Rp 5.000,- dan secara keseluruhan saya dapat ilmu, dapat koran, dan dapat tiket nonton. Mantap).

Esoknya dan hari-hari setelahnya, setiap pagi atau disela-sela jeda kuliah saya akan bertandang ke tempat fotokopi Fakultas Ekonomi dan kembali dengan koran Kompas di tangan lengkap dengan semangat hidup yang menyertainya. Esoknya dan hari-hari setelahnya pula saya semakin akrab dengan kakak senior yang tadi, kali ini saya sudah memenuhi satu dari beberapa kebiasaannya, kali ini tak bermaksud bangga diri, saya telah sejajar dengannya soal ilmu dan berita yang dibaca. Sebentar lagi saya akan mencapai apa yang telah dia capai, gumamku dalam hati kala itu, dan beberapa tahun setelahnya ternyata gumaman itu akhirnya menjadi kenyataan.

Bersambung ke Hubungan Gelapku dengan Kompas (Part 2)

Posted in , , , | Leave a comment
Diberdayakan oleh Blogger.

Search

Swedish Greys - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.