Archive for 2012

Ujian Profesi Advokat Diundur Maret 2013

Beberapa waktu terakhir, setelah sedikit melakukan pencarian informasi tentang kapan waktu pelaksanaan Ujian Profesi Advokat 2012, baik itu melalui penelusuran ke website Peradi dan hukum-online maupun dengan menghubungi langsung via surel, akhirnya saya dapatkan informasi bahwa Ujian Profesi Advokat tahun 2012 diundurkan pelaksanaannya ke bulan Maret 2013. Sekali lagi, supaya ke-shahih-an info ini dapat dipercaya, berikut di bawah ini saya tampilkan gambar potongan-potongan s urel saya dengan Peradi.

1. Surel Saya ke Peradi, tertanggal 21 November 2012 15:10

(1)

2. Surel Peradi ke Saya, satu menit setelahnya 21 November 2012 15:11

(2)

3. Surel Peradi ke Saya, beberapa menit kemudian 21 November 2012 15:28

(3)

Karena permasalahan kualitas resolusi dari gambar potongan surel tersebut, kemungkinan besar teman-teman tidak bisa membacanya dengan jelas. Maka dari itu, di bawah ini saya tuliskan isi surel dari Peradi di poin 3, yaitu:

Salam…

Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI) memutuskan tidak akan menggelar ujian advokat di tahun 2012.

Artinya, praktis tahun ini, PERADI hanya menggelar satu kali ujian yakni yang diperuntukkan bagi advokat dari Kongres Advokat Indonesia, April 2012 silam.

PERADI sudah memutuskan tidak akan ada ujian untuk tahun 2012 ini. Alasannya karena PERADI lagi disibukkan dengan banyak kegiatan seperti Law Asia Conference dan Rapat Kerja PERADI.

DPN PERADI berencana menggelar ujian advokat berikutnya pada bulan Maret 2013. Namun, DPN PERADI belum memutuskan tanggal persisnya.

Demikian info yang bisa kami sampaikan

Terima kasih atas pengertiannya

Jadi, berdasarkan informasi tersebut di atas saya terus-tegaskan informasi tersebut kepada teman-teman bahwa tidak akan ada Ujian Profesi Advokat (UPA) untuk tahun 2012, Ujian Profesi Advokat (UPA) nya baru akan digelar pada bulan Maret 2013. Semoga informasi ini bermanfaat, sekian dan terima kasih. Terus berjuang dan belajar para calon officium nobile.

Posted in , , | Leave a comment

The Most Inspired Story: The Parable of Pipelines

“SEBUAH CERITA INSPIRATIF TENTANG SEORANG PEMBAWA EMBER DAN SEORANG PEMBUAT SALURAN PIPA”

Ember atau Saluran Pipa Pada kesempatan sore hari ini, sambil menunggu cuaca sedikit bersahabat untuk bisa keluar rumah, saya akan berbagi tentang sebuah cerita yang menurutku begitu inspiratif, bahkan jika tidak berlebihan bisa dikatakan adalah salah satu cerita terinspiratif yang pernah saya dengar dan saya ketahui. Mungkin beberapa di antara kita telah mendengar dan mengetahuinya, tapi saya yakin masih banyak di antara kita yang tidak seberuntung itu, maka dari itu saya berharap postingan ini dapat menjadi media agar lebih banyak orang mengetahuinya dan akhirnya mengambil pelajaran darinya.

Sekedar info: cerita ini saya ketahui sebagai hikmah telah “terjebak” dalam bisnis 3 huruf (eMeLeM) beberapa tahun silam, melalui sebuah buku yang dipinjamkan oleh si Bapak upline baik hati itu. Buku yang memuat cerita ini berjudul: “The Parable of Pipelines” (arti: perumpamaan saluran pipa) karya Burke Hedges (lupakan niat untuk mencarinya di toko buku, karena tidak ada dijual). Beberapa waktu setelahnya, cerita ini kembali saya temukan dan baca sebagai kutipan yang dimuat di salah satu buku wajib bisnis dunia berjudul “The Cashflow Quadrant” (pasti tahu kan?) karya Robert T. Kiyosaki. Ceritanya adalah cerita fiktif namun kefiktifannya tidak mengurangi nilai-nilai yang dimuatnya. Ceritanya sedikit panjang, namun mengingat inspirasi positif yang dimuatnya itu tidak menjadi persoalan. Selamat membaca, selamat menikmati, baca secara perlahan, jika Anda akhirnya mengerti maksudnya, bisa jadi ini adalah saat titik balik masa depan Anda yang lebih baik.

 

Pada zaman dahulu kala, begitu kisah ini dimulai, ada dua orang saudara sepupu yang tinggal di suatu tempat. Keduanya dikenal punya semangat dan ambisi yang kuat untuk menggapai kemajuan. Yang pertama bernama Pablo, yang kedua bernama Bruno. Keduanya tinggal dalam rumah yang berdampingan di desa kecil dalam lembah itu.

Keduanya adalah pemuda yang penuh semangat dan berkemampuan tinggi. Keduanya juga memendam cita-cita yang sama tingginya. Keduanya sama-sama ingin menggapai bintang di langit untuk mewujudkan impian-impiannya.

Keduanya sering berkhayal, suatu saat nanti mereka akan menjadi orang yang paling kaya di desa itu. Mereka berdua sama-sama cemerlang dan sangat tekun dalam bekerja. Yang mereka perlukan hanyalah kesempatan untuk mewujudkan impian itu. Kata pepatah, untuk menjadi sukses kesiapan haruslah bertemu dengan kesempatan. Dan, keduanya sama-sama siap.

Pada suatu hari, apa yang mereka tunggu selama ini datanglah. Kesempatan itu muncul secara tiba-tiba. Kepala desa dari desa itu mendatangi mereka dengan maksud untuk mempekerjakan mereka sebagai pembawa air. Setelah melalui pembicaraan yang singkat, akhirnya kepala desa dan kedua pemuda itu setuju dengan pekerjaan yang ditawarkan. Pekerjaan mereka adalah membawa air dari sungai yang terletak di pinggir desa, ke tempat penampungan air yang terletak di tengah desa tersebut. Pekerjaan itu hanya dipercayakan kepada mereka berdua, Pablo dan Bruno.

Tidak menunggu perintah selanjutnya, keduanya langsung membawa dua buah ember dan segera menuju ke sungai. Sepanjang siang keduanya mengangkut air dengan ember. Menjelang sore, tempat penampungan air sudah penuh sampai ke permukaan. Kepala desa menggaji keduanya 1 sen per emper dikalikan jumlah ember air yang masing-masing mereka bawa.

“Wow, apa yg kita cita-citakan selama ini akan terkabul!”, teriak Bruno gembira. “Rasanya sulit dipercaya, kita mendapatkan penghasilan sebanyak ini”.

Namun, Pablo tidak berhenti sampai di situ. Dia tidak yakin begitu saja. Pulang ke rumah, Pablo merasakan punggungnya nyeri semua. Kedua telapak tangannya juga lecet-lecet. Semua itu disebabkan dua ember berat berisi air yang dibawanya bolak-balik dari sungai ke penampungan air sepanjang hari tadi. Begitu pagi tiba, perasaannya jadi kecut karena harus pergi bekerja. Tidak ingin punggung dan tangannya bermasalah lagi, Pablo justru berpikir keras mencari akal bagaimana caranya mengangkut air dari sungai ke desa tanpa harus terluka. Tanpa harus menanggung rasa nyeri di punggung. Tanpa melakukan hal itu semur hidupnya.

Pablo, Si Manusia Saluran Pipa

“Bruno, aku punya rencana”, kata Pablo keesokan harinya, setelah semalam tak bisa tidur memikirkan jalan keluar pekerjaan mereka. Sambil membawa ember-ember mereka masing-masing dan mereka pun menuju ke sungai. Pablo melanjutkan, “daripada kita mondar-mandir setiap hari membawa ember ke sungai dan hanya mendapatkan beberapa sen per hari, mengapa tidak sekalian saja kita membangun pipa saluran air dari sungai ke desa kita.”

Bruno langsung menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba.

“Saluran pipa air! Ide dari mana itu!” kata Bruno tegas.

“Kita kan sudah mempunyai pekerjaan yg sangat bagus dan menghasilkan uang dengan mudah, Pablo. Aku bisa membawa seratus ember sehari. Dengan upah satu sen per ember, berarti penghasilan kita bisa satu dolar per hari! Aku akan menjadi orang kaya. Dan ini berarti pada setiap akhir minggu aku bisa membeli sepasang sepatu baru. Pada setiap akhir bulan, aku bisa membeli seekor sapi. Setelah enam bulan kemudian, aku bisa membangun sebuah rumah kecil. Kau melihat, tidak ada pekerjaan semenguntungkan mengangkut air di desa ini. Lagipula, pada setiap akhir minggu kita mendapat libur. Setiap akhir tahun kita juga mendapat cuti dua minggu dengan gaji penuh. Kita akan hidup dengan sangat layak, dilihat dari sudut manapun. Jadi, buang jauh-jauh idemu untuk membangun saluran pipa airmu itu”.

Tapi Pablo tidak putus asa. Dia tetap bersikukuh pada idenya itu. Dengan sabar dia menerangkan bagaimana proses membangun pipa salurannya itu kepada sahabatnya. Bruno tak beranjak sedikitpun dengan tawaran Pablo.

Akhirnya, Pablo memutuskan untuk bekerja paruh waktu saja. Dia tetap bekerja mengangkuti ember-ember itu. Sementara sisa waktunya, ditambah libur akhir minggunya, dia pakai untuk membangun saluran pipanya itu.

Sejak awal melakukan pekerjaannya ini, dia telah menyadari akan sangat sulit membangun saluran pipa itu dari sungai ke desanya. Menggali di tanah keras yang mengandung banyak batu jelas tak kalah menyakitkannya dengan luka lecet dan punggung nyeri karena mengangkut air.

Pablo juga menyadari, karena upah yang dia terima sekarang berdasarkan jumlah ember yang diangkutnya, maka penghasilannya pun secara otomatis menurun. Dia juga sudah sangat paham bahwa dibutuhkan waktu satu atau dua tahun sebelum saluran pipanya itu bisa berfungsi seperti yang dia harapkan.

Namun, Pablo tak pernah kendur dengan keyakinannya. Dia tahu persis akan impian dan cita-citanya. Sebab itu dia terus bekerja tanpa kenal lelah.

Melihat apa yang dilakukan Pablo, orang-orang desa dan Bruno mulai mengejek Pablo. Mereka menyebutnya “Pablo si manusia saluran pipa”. Bruno, yang punya penghasilan dua kali lipat dibandingkan Pablo, hampir setiap saat membangga-banggakan barang baru yang berhasil dibelinya. Dia juga selalu mengatakan Pablo bodoh karena telah meninggalkan pekerjaan yang jelas-jelas menghasilkan banyak uang itu.

Bruno juga telah berhasil membeli seekor keledai yang dilengkapi pelana yang terbuat dari kulit baru. Dia menambatkan keledainya itu di rumah barunya yang kini terdiri dari dua lantai. Dia juga membeli baju-baju yang indah dan hampir selalu terlihat makan di warung-warung. Panggilannya sehari-hari juga sudah berubah. Kini orang-orang di desa memanggilnya Mr. Bruno! Mereka selalu menyambutnya ke manapun ia pergi. Bruno juga tak segan-segan mentraktir para penyambutnya ini dengan minum-minum di bar, karena mereka selalu ikut tertawa ketika ia menceritakan lelucon-leluconnya.

Tindakan-Tindakan Kecil dengan Hasil Besar

Kini, pemandangan kontras mulai tampak di antara kedua sahabat itu. Sementara Bruno asyik berbaring santai di hammock (tempat tidur gantung berupa jaring) pada sore hari, pada akhir minggu, Pablo tampak terus berlelehan keringat menggali saluran pipanya. Pada bulan-bulan awal, Pablo memang tak menunjukkan hasil apapun dari usahanya. Tampak betul bahwa pekerjaannya sangat berat. Bahkan jauh lebih berat dari pekerjaan yang dilakukan Bruno. Selain harus tetap bekerja pada akhir minggu, Pablo juga bekerja di malam hari.

Tapi Pablo selalu mengingatkan pada diri sendiri bahwa cita-cita masa depan itu sesungguhnya dibangun berdasarkan pada perjuangan yang dilakukan hari ini. Dari hari ke hari dia terus menggali. Centi demi centi!

Pepatah yang selalu diingat Pablo adalah, sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit. Dia selalu bersenandung setiap mengayunkan cangkulnya ke tanah yang mengandung batu karang. Dari satu centimeter, menjadi dua centimeter, sepuluh centimeter, satu meter, dua puluh meter, seratus meter, dan seterusnya.

Pablo mulai melihat hasil kerja kerasnya.

Ibarat pepatah yang lainnya lagi, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Kata-kata itu selalu dia tanamkan pada dirinya setelah dia kembali ke gubuknya yang sederhana, sepulang dari bekerja. Tubuhnya amat lelah setelah seharian menggali saluran pipa. Dia sudah bisa memperkirakan keberhasilan yang bakal dicapainya. Lalu dia akan berusaha keras untuk mencapainya, hari itu juga. Pablo sangat yakin, kerja kerasnya ini akan menghasilkan kekayaan yang jauh lebih besar daripada tenaga dan waktu yang sudah dia keluarkan saat ini.

“Fokuslah pada imbalan yang akan kau peroleh dari pekerjaanmu”. Kata-kata itu terus diingat Pablo, dan dia ulang-ulang setiap akan pergi tidur. Sementara hampir setiap saat, dari bar desa itu dia selalu mendengar gelak tawa yang kerap mengiringinya ke alam mimpi.

Fokus, fokus,fokus. Imbalannya pasti jauh lebih besar.

Keadaan Menjadi Terbalik

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Dan pada suatu hari, Pablo menyadari saluran pipanya sudah tampak setengah jadi. Ini berarti dia hanya perlu berjalan separuh dari jarak yang biasa ia tempuh untuk mengambil air danau itu. Waktu yg tersisa, kini, dia gunakan untuk menyelesaikan saluran pipanya. Saat-saat penyelesaian saluran pipanya pun semakin dekat dan nyata.

Setiap saat beristirahat, Pablo menyaksikan sahabatnya Bruno yang terus saja mengangkat ember-ember. Bahu Bruno juga tampak semakin lama semakin membungkuk. Dia tampak menyeringai kesakitan, meski sering berusaha dia sembunyikan. Langkahnya juga semakin lamban, akibat kerja keras setiap hari. Bruno merasa sedih dan kecewa karena merasa “ditakdirkan” untuk terus menerus mengangkut ember-ember setiap hari sepanjang hidupnya.

Bruno semakin jarang tampak bersantai-santai di tempat tidur gantungnya. Dia lebih sering terlihat di bar. Begitu melihat kedatangan Bruno, orang-orang di bar itu biasanya akan saling berbisik, “Eh, lihat, Bruno si manusia ember”. Mereka juga saling tertawa geli saat beberapa orang mabuk meniru postur tubuh Bruno yang sudah membungkuk dan caranya berjalan semakin tampak terseok-seok. Bruno tidak lagi pernah mentraktir teman-temannya di bar, atau menceritakan lelucon-lelucon tanda kegembiraan. Dia lebih suka duduk sendiri di sudut gelap yang ditemani botol-botol minuman keras di sekelilingnya.

Akhirnya, terjadi juga kegemparan di desa itu. Saat bahagia Pablo pun tiba. Saluran yang dia bangun sudah selesai. Hampir semua orang desa berkumpul saat air mulai mengalir dari saluran pipanya menuju ke penampungan air di desa. Sekarang, desa itu sudah bisa mendapat pasokan air bersih secara tetap. Bahkan penduduk desa yang sebelumnya tinggal agak jauh dari tempat itu kemudian pindah mencari tempat yang lebih dekat dengan sumber air itu.

Setelah saluran pipa itu selesai, Pablo tidak perlu lagi membawa-bawa ember. Airnya akan terus mengalir, baik dia sedang bekerja maupun tidak. Air itu terus mengalir, baik dia sedang bekerja maupun tidak. Air itu terus mengalir, baik saat dia makan, tidur ataupun bermain-main. Air itu tetap mengalir di akhir minggu ketika dia menikmati banyak permainan. Semakin banyak air yang mengalir ke desa, semakin banyak pula uang yang mengalir ke kantong Pablo.

Pablo yang tadinya terkenal dengan julukan Pablo si Manusia Saluran Pipa, kini menjadi lebih terkenal dengan sebutan Pablo si Manusia Ajaib. Para politisi memuji-muji dia karena visinya yang jauh ke depan. Mereka meminta Pablo mau mencalonkan diri sebagai walikota. Tetapi, Pablo paham sekali apa yang sesungguhnya dia capai bukanlah sebuah keajaiban. Ini semua sebenarnya barulah langkah awal dari suatu pencapaian cita-cita yang besar. Memang benar, nyatanya Pablo mempunyai rencana yang jauh lebih besar daripada apa yang sudah dihasilkan di desanya.

Pablo sesungguhnya berencana membangun saluran pipa kekayaannya di seluruh dunia!

Mengajak Teman-Temannya untuk Membantu

Saluran pipa membuat Bruno si Manusia Ember kehilangan pekerjaan. Pablo sangat prihatin melihat sahabatnya itu sampai merasa perlu mengemis-ngemis minuman di bar. Karena iba, Pablo berniat menemui Bruno.

“Bruno, saya datang ke sini untuk meminta bantuanmu,” kata Pablo.

Bruno meluruskan dulu bahunya yang bongkok baru kemudian menjawab, “kau jangan menghina saya.”

“Tidak. Saya datang kesini bukan untuk menghina. Saya justru ingin menawarkan peluang bisnis yang amat bagus. Dua tahun lamanya saya bekerja untuk bisa menyelesaikan pembangunan saluran pipa saya yang pertama. Tetapi, selama dua tahun tersebut saya belajar banyak hal. Saya jadi tahu alat-alat apa saja yang harus digunakan. Saya juga lebih paham tempat mana yang harus saya cangkul duluan, dan tempat mana yanng keras dan sulit dicangkul. Saya juga semakin mengerti di mana seharusnya menanam pipa-pipa itu. Dan selama saya bekerja, saya juga rajin mencatat apa yang telah saya lakukan. Oleh sebab itu, sekarang ini saya sudah mampu mengembangkan sebuah cara yang lebih baik untuk membangun saluran-saluran pipa lainnya.”

Setelah diam sejenak, Pablo melanjutkan. “Sebetulnya saya bisa saja membangun saluran pipa itu sendirian dalam waktu setahun. Tetapi, rasanya saya harus berpikir, untuk apa saya harus menghabiskan waktu satu tahun hanya untuk membangun satu saluran pipa itu. Rencana saya adalah mengajari kamu dan orang-orang lain yang tertarik, cara membangun saluran pipa. Nantinya, kamu dan orang-orang yang sudah saya ajari itu mengajarkan lagi kepada orang-orang baru lainnya lagi. Begitulah seterusnya. Sampai suatu saat nanti, setiap desa di wilayah ini sudah memiliki saluran pipa. Lalu, saluran pipa ini menyebar ke setiap desa di negara kita. Bahkan akhirnya, pipa-pipa seperti ini akan ada di semua desa seluruh dunia.”

“Coba kamu renungkan baik-baik,” lanjut Pablo, “Nantinya kita bisa mengutip sejumlah uang untuk setiap galon air yang dialirkan melalui saluran-saluran pipa tersebut. Semakin banyak air yang mengalir melalui saluran-saluran pipa tersebut, semakin banyak pula uang yang akan masuk ke kantung kita. Pipa yang baru selesai saya buat ini, sebenarnya bukanlah akhir dari cita-cita saya. Justru pipa saya itu merupakan awal dari cita-cita.”

Akhirnya, Bruno menyadari betapa besar potensi bisnis yang ditawarkan sahabatnya itu. Dia tersenyum, kemudian mengacungkan tangannya yang lecet-lecet kepada sahabatnya. Mereka berjabat tangan, kemudian berpelukan. Bagaikan dua orang sahabat lama yang sudah tidak berjumpa.

Peluang Usaha Saluran Pipa di Dunia Pembawa Ember

Tahun demi tahun pun berlalu. Pablo dan Bruno sudah lama pensiun. Usaha saluran pipa mereka yang mendunia terus-menerus mengalirkan ratusan juta dollar per tahun ke rekening-rekening bank mereka. Ketika mereka jalan-jalan di desa, kadang-kadang mereka melihat beberapa orang pemuda. Mereka tampak sibuk mengangkuti air dengan ember.

Kedua sahabat masa kecil ini selalu berusaha mengajak pemuda-pemuda seperti itu untuk berbincang-bincang. Mereka selalu mengisahkan kisah hidup mereka sebagai pembawa ember sampai kemudian menjadi pembangun saluran pipa. Lalu mereka menawarkan bantuan, untuk membangun saluran pipa. Tetapi, hanya sedikit di antara mereka yang mau mendengarkan nasihat mereka dan bersedia meraih peluang untuk melakukan usaha membangun saluran pipa mereka sendiri. Memang menyedihkan, melihat banyak di antara pembawa ember itu menolak tawaran tersebut. Bruno sering merasa heran dengan alasan-alasan yang selalu mereka kemukakan.

“Saya tidak ada waktu.”

“Teman saya bilang bahwa dia kenal orang yang berusaha membangun saluran pipa tetapi ternyata gagal.”

“Hanya mereka yang lebih dulu terjun dalam usaha saluran pipa ini yang akhirnya bisa sukses.”

“Seumur hidup, dari nenek moyang hingga orang tua saya, hanya mengenal pekerjaan saya sebagai pengangkut ember. Saya akan tetap mempertahankan profesi saya itu.”

“Saya tahu, ada orang-orang yang akhirnya merugi karena membangun saluran pipa seperti itu. Jadi saya tidak mau mengikuti jejak mereka. Saya tak mau merugi.”

Pablo dan Bruno benar-benar prihatin melihat mental para pembawa ember ini. Ternyata ada banyak sekali orang yang tidak punya visi tentang masa depan mereka. Visi tentang bagaimana hidup mereka beberapa tahun mendatang. Tetapi akhirnya mereka pasrah saja.

Mereka sadar bahwa hidup di dunia yang masih didominasi oleh mental pembawa ember ini, semuanya bisa terlihat statis. Hanya sedikit saja mereka yang berani dan punya ambisi untuk mencapai kesuksesan melalui saluran pipa.

#TAMAT#

 

Jadi, siapa sesungguhnya kita? Seorang pembawa ember? Ataukah seorang pembangun saluran pipa? Apakah anda hanya mendapat uang, upah, gaji, atau apapun namanya, hanya jika Anda datang ke tempat kerja, dan bekerja? Seperti yang dilakukan Bruno, si pengangkut ember?

Ataukah Anda adalah seorang yang hanya sekali saja melakukan sesuatu, dan kemudian mendapatkan uang secara terus-menerus, sepanjang hidup, seperti yang diperoleh Pablo, si pembuat saluran pipa?

Siapa Diri Anda Sesungguhnya,

Seorang Pembawa Ember?

Atau Seorang Pembuat Saluran Pipa?

Posted in , , , , , , , | Leave a comment

Uhibbuka Fillah (Aku Mencintaimu Karena Allah)

Aku Mencintaimu Karena Allah Salah satu akun twitter yang paling saya suka dan senangi untuk membaca tweet-tweet di timeline nya adalah akun yang bernama @ManJaddaWaJadaa مَن جَدَّ وَجَدَ (blog nya: http://manjaddawajadaa.wordpress.com). Malam ini (24/07/2012) akun ini memberikan kultwit mengenai sesuatu yang sedang saya pikirkan dan renungkan beberapa waktu terakhir ini, sesuatu yang kadang kala ketika iman di hati ini sedang lowbat, mampu membuatnya merasakan kegalauan sebagaimana istilah muda-mudi zaman sekarang. Namun kadang kala pula ketika iman di hati lagi full power nya, membuatnya semakin yakin dengan banyak keputusan-keputusan berat dan pahit yang telah diambil sebelumnya: pengendalian diri, penghindaran, kesabaran, menundukkan pandangan, dan sebagainya, dan juga membuat diri ini semakin optimis dengan janji Allah Swt mengenainya. Sesuatu itu adalah tentang wanita, tentang jodoh untuk diri ini, tentang pendamping hidup kelak, tentang perasaaan cinta dan kasih sayang, dan tentang pencarian harta yang paling berharga di dunia yaitu isteri yang sholehah.

Karena begitu menariknya tweet-tweet yang dituliskan, maka dari itu akan terasa sayang jika tidak “diabadikan” dan dibiarkan tertelan oleh tweet-tweet setelahnya, maka pikirku lebih baik menulis ulangnya ke dalam blog ini. Besar harapan saya bagi para pembaca yang budiman yang juga sedang merasakan hal yang sama, merisaukan hal yang sama, dan sedang mencari pencerahan tentangnya yang kebetulan sedang bertamu di blog saya ini bisa membacanya dan mengambil pelajaran dan hikmah darinya. Selamat merelungi bait-bait kalimat indahnya.

(Keterangan: Ikhwan = kata ganti atau panggilan untuk pria/laki-laki; Ukhti = kata ganti atau panggilan untuk wanita/perempuan; Akhwat = golongan/jenis/kumpulan/keseluruhan wanita/perempuan)

#1 Wahai Ukhti, Jika aku seorang Ikhwan yang mengatakan cinta padamu karena Allah namun tanpa malu mendekatimu,

#2 apa kau tidak merasa takut terjerat padaku?

#3 Jika aku seorang Ikhwan yang mengatakan cinta padamu karena Allah namun tanpa malu dengan genit menggodamu,

#4 apa kau tidak merasa risih pada kegenitanku?

#5 Jika aku seorang Ikhwan yang mengatakan cinta padamu karena Allah namun tanpa segan merayumu,

#6 apakah kau terbuai oleh bujuk rayuku?

#7 Jika aku seorang Ikhwan yang mengatakan cinta padamu karena Allah namun tak bisa menjaga izzah ketika berdekatan denganmu,

#8 apakah kau tidak bisa menolakku dengan perisai malumu?

#9 Jika aku seorang Ikhwan yang mengatakan cinta padamu karena Allah namun tanpa merasa berdosa berani menyentuhmu,

#10 apakah kau tidak takut Allah murka padamu, masihkah kau percaya pada ucapanku? tak curigakah kau padaku?

#11 Tak inginkah kau menjauhiku? atau karena kau telah terjebak ke dalam jurang cinta nafsu,

#12 sehingga kau tak mampu menolakku meski kau tahu semua ucapanku ”Mencintaimu Karena Allah” adalah palsu.

#13 Ketahuilah Ukhti, jika aku seorang Ikhwan sejati yang mencintaimu karena Allah,

#14 aku tidak akan berani menyentuhmu, bahkan hatimu sekalipun.

#15 Karena aku malu pada Allah jika bayanganku mengacaukan kekhusuk’an ibadahmu.

#16 Jika aku seorang Ikhwan sejati yang mencintaimu karena Allah,

#17 aku tidak akan pernah berani merayumu, menggodamu, bahkan dengan bebas tanpa batas berinteraksi denganmu. Karena kau belumlah halal bagiku.

#18 Aku malu jika harus membuatmu lebih banyak mengingatku dari pada mengingat-Nya.

#19 Aku malu jika harus menjadi seseorang yang membuat-Nya cemburu padamu karena kau rela melanggar larangan-larangan-Nya karena cintamu padaku.

#20 Jika aku seorang Ikhwan sejati yang mencintaimu karena Allah aku tidak akan khawatir tidak dapat memilikimu.

#21 Karena tak mengungkapkan cintaku padamu sekarang meski saat ini aku begitu mengagumimu dan menginginkanmu menjadi bidadariku.

#22 Karena aku yakin jika engkau memang ditakdirkan untukku, engkau pasti akan menjadi milikku meski aku tak mengikatmu.

#23 Bukankah jika Allah tidak mentakdirkan kita bersama diikat pun pasti akan terlepas juga akhirnya.

#24 Jadi untuk apa aku risau? Ukhti, sadarlah, jika aku seorang Ikhwan yang benar-benar mencintaimu karena Allah,

#25 Aku hanya akan berani merayumu, menggodamu, dan menyentuhmu setelah engkau telah halal bagiku.

#26 Untuk semua muslimah, Ukhti, tetaplah berusaha menjadi shalihah meski zaman telah berubah, barokallahu fiik.

#27 Semoga dengan tweet singkat ini Ikhwan dan Akhwat ini dapat memberikan kita arah bagaimana seharusnya kita bersikap apabila kejedot cinta.

#28 Buat sang Ikhwan sejati, jangan sekali-kali mengatakan "aku mencintaimu karena Allah" apabila nafsu masih mendominasimu.

#29 Buat sang Akhwat, kalau memang sang Ikhwan mencintaimu karena Allah, minta dia lekas halalkan dalam balutan cinta yang suci.

#30 Mencintaimu karena Allah untuk dirimu, wahai Halalku.

Posted in , , , , , , , | Leave a comment

Cinta, Kue Buroncong, & Kue Burongkoh

Postingan ini saya mulai tanpa pembuka seperti postingan-postingan sebelumnya. Singkatnya, ide tulisan postingan ini terjadi karena saya sedang lapar, sedikit nge galau hahahah, plus pikiran gokil yang tiba-tiba saja datang, maka jadilah tulisan-tulisan di bawah ini. Intinya adalah hubungan keterpaksaan antara “cinta”, “kue buroncong”, dan “kue burongkoh”, selamat menikmati kelezatannya.

Kue Buroncong Kue Burongkoh

#1 CINTA PALSU itu mirip-mirip KUE BURONCONG, indah dan enak pada awalnya, tapi lama-lama jadi keras dan hambar.

#2 CINTA SEJATI itu mirip-mirip KUE BURONGKOH, panas-panas baru jadi enak, dingin-dingin masuk kulkas enak, biasa-biasa juga enak. Makin lama, makin doyan.

#3 Sangat mudah untuk mencari KUE BURONCONG, pagi-pagi banyak kok di pinggir jalan dan di perempatan.

#4 Tapi kalau KUE BURONGKOH, carinya butuh tenaga ekstra, karena hanya dijual di tempat-tempat tertentu dan biasanya baru dibuat kalau ada hajatan.

#5 Cara buat KUE BURONCONG juga tergolong mudah, tinggal buat adonan campuran tepung, kelapa, dan sedikit gula. Makanya harganya murah.

#6 Tapi kalau KUE BURONGKOH, buatnya butuh proses yang lama dan pengerjaan istimewa: adonannya, cara bungkusnya, dan cara ngukusnya. Makanya harganya mahal.

#7 KUE BURONCONG itu tergolong kue yang terbuka, dan karena itu kemungkinan sedikit tidak hiegenis.

#8 Kalau KUE BORONGKOH tergolong kue yang tertutup, dibungkus oleh daun pisang, dan karena itu peluang ketidakhiegenisnya tentu kecil.

Sekian. Sebagai penutup, dihubungkan dengan apa yang telah saya tuliskan di atas, izinkan saya untuk sedikit memberikan saran bagi Anda yang sedang mencari pasangan hidup, carilah pasangan yang sifatnya seperti KUE BURONGKOH, maka insya Allah hubungan Anda akan menjadi hubungan bertipe KUE BURONGKOH pula.

Posted in , , , , , , , , | Leave a comment

Apa Kabar Indonesia? Masalah Baru Apalagi Hari Ini?

Apa Kabar IndonesiaPostingan berikut adalah saduran dari tulisan lama saya yang berasal dari buku tulisku yang saya dapatkan di sela-sela buku lainnya dalam rangka pembongkaran dan penyusunan ulang buku-buku ke rak yang ku lakukan seminggu ini. Pikirku, akan lebih menarik jika dapat dituliskan di blog ini dan di share kepada para pembaca sekalian, sekaligus juga untuk mencegah hilangnya tulisan ini dan meminimalisir hancurnya tulisan karena buku tulisnya dimakan rayap. Tulisan ini bertanggal 24 November 2007, pukul 18:53 Wita, bertempat di rumah PHL, judulnya sebagaimana di atas: “Apa Kabar Indonesia? Masalah Baru Apalagi Hari Ini?”, selamat membaca, selamat menghayal.

Kasihan, kasihan, kasihan, dan kasihan. Mungkin hanya kata itulah yang cocok dikatakan untuk menggambarkan kabar negeriku saat ini. Tak ada tempat baginya untuk kata-kata seperti hebat, kuat, maju, ataukah kaya. Kata-kata itu telah dilahap habis negeri orang di belahan sana, hanya meninggalkan kata kasihan untuk negeriku, Indonesia.

Terbentuk dari ribuan pulau dari Sabang di kaki barat sampai ke Merauke di timur jauh sana. Gugusan pulau yang seakan sengaja diciptakan sebagai batu permata yang digantung di bawah garis ekuator bumi tengah. Begitu indah.

Mari, ku ajak engkau mendekat ke sana, berlari dari suatu kota ke kota lainnya dan sesekali harus melompat dari pulau ke pulau. Lihat dan perhatikan apa sebenarnya isi dari permata itu.

Suara-suara gaduh menyeruak, sepertinya mereka mengatakan “tolong”. Semakin lama suara-suara itu semakin jelas, memang benar berbunyi “tolong”. Kemudian tampak dari jauh ratusan orang berlarian compang-camping, sesekali menengok ke belakang seakan-akan mereka berada di tengah arena balap banteng di Spanyol sana.

Aku penasaran apa yang ada di belakang mereka, aku kaget luar biasa. Ternyata lebih dahsyat malah dari belasan banteng bertanduk runcing tajam. Air bah setinggi pohon kelapa membuka mulutnya lebar-lebar, kenyang melahap semua yang ada di depannya, berkecepatan kayak mobil formula.

Aku berusaha mengulurkan tangan kananku kepada seorang gadis cilik yang menangis kebingungan. Hampir aku mencapainya. Tubuhku tiba-tiba saja tersedot masuk ke dalam lubang hitam sempit, latar berubah aku tiba di Kota Padang, bumi si anak durhaka Malin Kundang.

Aku mengangkat kaki sebelah memulai langkah awal di kota ini, sreeeek, kakiku menyentuh tanah kembali. Tiba-tiba sesuatu berbeda terasa dari kuku kaki hingga ke ujung rambut keringku. Semuanya berguncang maju-mundur, kiri-kanan, atas-bawah tak beraturan. Aku berlari sempoyongan tak berarah. Ku pandang semua di sekelilingku, aku memutar badan satu lingkaran penuh. Di sana aku melihat tembok-tembok kokoh yang selama ini menjadi tameng dari terik matahari, hujan, dan dari dinginnya malam, roboh bagai mainan bongkar pasang rata dengan tanah.

Beberapa mobil ambulans berseliweran ke sana ke mari dengan sirinenya yang memekikkan telinga, menambah tegang suasana. Orang-orang bermuka bingung dan panik, semuanya begitu. Mereka memenuhi jalan-jalan kota mengarah ke suatu tempat yang beberapa saat setelahnya aku ketahui tempat itu adalah kamp pengungsian.

Dari Sumatera Barat kita lari-lari kecil ke Riau. Aku sempat tersesat sebelum akhirnya sampai di sana. Ada kabut tebal pekat putih menghalangi jalan, baunya pun menciderai hidung. “Kebakaran hutan lagi”, kataku dalam hati.

Dari sana kita ambil ancang-ancang dan melompat lebar ke Pulau Kalimantan. Aku tersungkur jatuh dengan wajah menempel di tanah. Kakiku tersandung dahan pohon. Aku mengangkat wajah, mencoba menengok, aku berada di tengah hutan.

Beberapa saat kemudian terdengar bunyi rongrongan mesin gergaji. Pijakanku terasa bergoncang ketika sebatang pohon besar jatuh ke tanah. Tak hanya sekali, tapi puluhan kali. Aku mendekat ke sumber suara, terdengar bunyi kracak-kracak dahan pohon. Sebatang pohon besar sepuluh kali lipat dari badanku mengarah jatuh tepat ke tempatku berdiri. Untunglah lubang hitam sempit itu muncul tepat waktu, aku tiba di Poso, Sulawesi Tengah, malah hari kira-kira setelah isya.

Berbeda dari tempat-tempat sebelumnya, hanya kata sepi dan tegang yang muncul di otakku. Tak ada seorang pun terlihat bahkan bunyi jangkik malam pun tak ada. Aku tertarik pada sebuah rumah yang lampunya menyala di atas teras, aku ditarik sesuatu untuk mendekat ke sana. Aku menaiki anak tangga kayu basah rumah panggung itu. Sebelum mengetuk pintu, sempat aku menyelidik melalui celah-celah jendela depannya. Aku melihat siluet dua orang tegap berdiri, di tangan mereka ada parang. Aku pindah ke celah sampingnya, ku lihat seseorang yang bergerak tertatih-tatih, di bawah kakinya bercak-bercak cairan kental merah bertebaran kayak bintang di langit malam ini. Dia terluka parah.

Keringat dinginku bercucuran dari balik kulit pelipis, aku tak pernah melihat yang seperti ini. Aku mundur perlahan-lahan menuruni tangga. Tapi di dua anak tangga terakhir aku terpeleset jatuh terbaring ke tanah menghadap angkasa. “Siapa itu?”, terdengar suara berat dan serak dari dalam rumah tadi, diikuti dera-dera langkah kaki, sampai terdengar bunyi engsel pintu diputar. Cepat-cepat aku bangun memutar badan, berlari secepat mungkin, lompat masuk ke dalam hutan, lari sekencang-kencangnya. Di belaang aku mendengar langkah panjang menghampiri. Semakin kencang lariku, semakin jelas suara langkahnya. Aku tiba di pinggir sungai dan aku lompat ke dalamnya.

“Aku tak bisa berenang, aku tak bisa berenang”, begitu teriakku di dalam air. Ajaibnya kaki dan tanganku tiba-tiba bergerak sendiri, melakukan gerakan teratur dan kompak mirip atlet renang olimpiade yang mendekati garis finish. Dia akan juara. Aku membiarkannya membawaku ke permukaan. Kepalaku muncul duluan, merasakan indahnya menghirup udara. Sayup-sayup basah ku buka mata, sinar kesilauan dari benda bendar di atas sana. Sudah siang.

Setelah merasa cukup sadar, aku menjajakan pandangan, bertanya-tanya, tempat yang bagaimana lagi ini. Desingan tombak besi runcing saling berpapasan memecah udara tepat di atasku. Belasan lagi mengikuti di belakangnya, ditembakkan dari sisi kiri-kanan sungai. Selanjutnya, anak-anak panah sepanjang dua kaki, melesat berkelok-kelok membentuk parabola mendarat di perut seseorang sebagai landasan pacunya. Tak mau ketinggalan, batu-batu sungai bundar sebesar kepalangan tangan, beterbangan bagai debu, membuat orang-orang pada melindungi kepalanya. Aku tahu, aku sekarang berada di Papua, lagi-lagi perang suku, yang dibatasi oleh sungai. Pastinya sudah banyak korban. Selalu saja terjadi.

Latar berubah sekali lagi, kali ini aku berdiri di trotoar jalan pinggir pantai, malam hari. Angin laut sepoi-sepoi mengeringkan rambutku yang basah tadi. Ada banyak turis di sini. Mereka menikmati malam ini dengan makan-makan, berdansa, berkejar-kejaran, dan lain-lain di atas pasir putih pantai itu. Beberapa di antara mereka tertawa besar dengan mulut menganga lebar. Namun suara mereka jadi tak jelas karena termakan oleh alunan musik rock beraksen Inggris yang keluar dari loudspekar besar di panggung sana.

Tiba-tiba BOOOOM, percayalah kalau suaranya jauh lebih keras beratus-ratus kali lipat dari tulisannya saat dibaca. Bayangkan sendiri saja. Aku spontan memejamkan mata keras-keras, kepalaku sakit, bunyi tiiit mendengung panjang di lubang telingaku. “Apa gendang telingaku baik-baik saja?”, bunyi yang luar biasa dahsyat. Perlahan ku buka kedua mataku. Meja dan kursi beterbangan berubah posisi puluhan meter dari tempatnya semula. Potongan-potongan badan berlapis kulit manusia menyerupai tangan, kepala, kaki, dan lainnya memenuhi tempat tadi. Memang benar adalah potongan manusia.

Pasir yang tadinya putih berkilau, berubah jadi merah oleh darah. Turis-turis itu panik lari ketakutan keluar gerbang yang di atasnya bertuliskan “Pantai Jimbaran”. Bom mengguncang Bali, pulau dewata. Dunia gempar mendengarnya.

Lubang hitam sempit itu muncul kembali. Tapi bukan aku yang tersedot ke dalamnya, tapi adalah semua yang ada di sekelilingku. Tempat baru lagi, aku tahu ini tempat terakhir untuk perjalanan hari ini. Aku berada di halaman sebuah gedung besar megah, atapnya berwarna hijau berbentuk menyerupai buku. Ku lihat diriku, mengenakan jas hitam, kemeja cerah, dan dasi kasual bergaris-garis, lengkap dengan sepatu kulit impor asal Perancis.

Aku menjajakan kaki langkah demi langkah di atas lantai marmer bersih mengilapnya. Aku tiba di depan pintu besar yang di atasnya bertuliskan “Nusantara 1”. Aku mengekor di belakang orang-orang yang berjalan masuk pintu itu. Seorang pria yang berdiri di sana menyapa “selamat pagi” padaku dengan senyumnya yang lebar.

Aku menemukan kursiku, kursi bernomor 409. Di mejanya terdapat papan kecil dari kayu jati berukir namaku. Aku duduk perlahan berusaha agar jasku tak terlipat. Beberapa saat setelahnya entah kapan dimulainya, di depan orang-orang pada adu jotos. Pipi lawan tangan, kaki lawan lengan. Aku mengira pertandingan tinju kelas berat, berita heboh-berita heboh, anggota dewan adu jotos di meja pimpinan DPR. Suasana di luar gedung tak mau kalah dengan yang ada di dalam. Mahasiswa dan polisi anti huru-hara saling terkam beterbangan mirip dalam film kungfu. Aku pusing memilih di antaranya, yang mana yang lebih enak ditonton, anggota dewan versus anggota dewan atau mahasiswa versus polisi anti huru-hara.

Telepon genggamku berdering, aku raih dari saku jasku mematikannya tapi tak bisa. Ku coba lagi tetap tak bisa. Aku membuka mata, aku kembali ke dunia nyata. Ternyata yang berdering adalah jam wekerku di atas meja belajar. Aku mencapainya dan memencet tombol atasnya, berhenti berdering.

Aku keluar kamar mengarah ke WC untuk cuci muka. Tak sampai ke WC, terdengar bunyi plaaak di teras rumah. Aku buka pintur rumah, menemukan sebuah koran di sana. Aku memungutnya, masuk ke dalam rumah, duduk di sofa yang menghadap ke televisi. Halaman depannya dengan huruf tebal bertuliskan “Apa Kabar Indonesia?”. Aku membaca bagian bawahnya yang terdiri dari empat kolom tulisan panjang-panjang, mencoba mencari jawaban dari pertanyaan yang muncul di otakku, “masalah baru apalagi hari ini?”.

Posted in , , , , , , | Leave a comment

(Kalau) Saya Presiden, Mereka Menterinya

Presiden Setelah cukup lama rasanya tidak menulis postingan yang bertema pengandaian: “jika”, “kalau”, “bilamana”, “nanti”, dan sebagainya sebagaimana write style ku selama ini (sok!), dan jika boleh agak lebay, mungkin di antara para pembaca setia blog ini sudah ada yang kangeeen dengan tulisan-tulisan saya yang bertema seperti itu (adakah? hahahah), maka kali ini alhamdulillah kebetulan saya punya ide untuk menulis tulisan bualan seperti itu lagi dengan judul: (kalau) saya presiden, mereka menterinya.

Ide tulisan ini sebenarnya saya hadirkan karena kegalauan saya melihat nasib negeri kita tercinta ini: Negara Kesatuan Republik Indonesia, tanah air, tumpah darah, dan kebanggaan kita semua. Salah satu pertanyaan besarnya adalah siapa yang telah begitu tega membuat negeri ini menjadi negeri yang kacaunya bukan main, bobroknya minta ampun, dan sedihnya setengah mati seperti saat sekarang ini? Ada beberapa jawaban yang muncul, tapi kalau diminta untuk menemukan jawaban instant yang dapat membuat kita sedikit puas karena terdapat objek yang bisa kita persalahkan (menyesuaikan kebiasaan orang Indonesia untuk menyalahkan jika terdapat masalah hahahah), maka jawabku: mereka adalah para pemimpin, para pejabat, dan para birokrat negeri ini sendiri.

Banyak orang yang mengatakan bahwa pemimpin negeri ini terlalu lambat, terlalu peragu, dan terlalu mementingkan faksi politiknya sehingga prioritas terhadap kesejahteraan rakyat diabaikan, dan saya pun mengiyakan pendapat tersebut. Banyak orang yang mengatakan bahwa sebagian besar pejabat negeri ini adalah tidak kapabel atau tidak berkeahlian dengan jabatan dan tugas yang diembannya sehingga prioritas terhadap kemakmuran rakyat berjalan setengah hati, dan saya pun mengangguk mantap dengan pendapat tersebut. Dan banyak orang yang mengatakan bahwa banyak birokrat negeri ini yang menjadi birokrat bukan karena kualitas dan/atau kinerjanya, tapi karena praktik nepotisme dan praktik “uang muka” nya, dan saya pun tersenyum ikut meng oke-jempol kan pendapat tersebut.

Terkait hal tersebut di atas, berangkat dari pemikiran sempit ini, menurut saya hal yang pertama-tama harus dibenahi jika kita ingin memperbaiki negeri ini dan memajukannya di kemudian hari adalah memperbaiki pemimpinnya, pejabatnya, dan para birokratnya, istilahnya para teladannya. Berangkat dari hal inilah pengandaian saya itu dimulai: seandainya saya menjadi presiden, maka siapa gerangan orang-orang yang saya pilih dan tempatkan menjadi menteri yang membantu saya mengurus negeri ini sehingga negeri ini dapat diperbaiki dan dimajukan.

Setelah melalui seleksi singkat, berbagai analisis dan pertimbangan yang singkat pula, juga melalui penelusuran track record mereka secara sederhana lewat internet dan mass media, inilah mereka-mereka itu, menteri-menteri kebanggaanku, mereka-mereka yang profesional pada tugas yang diembannya masing-masing:

1. Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan: PRABOWO SUBIANTO

Prabowo Subianto

2. Menteri Koordinator Perekonomian: JUSUF KALL

Jusuf Kalla

3. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan: ANIES BASWEDAN

Anies Baswedan

4. Menteri Hukum dan HAM: YUSRIL IHZA MAHENDRA

Yusril Ihza Mahendra

5. Menteri Agama: QURAISH SHIHAB

Quraish Shihab

6. Menteri Keuangan: SRI MULYANI INDRAWATI

Sri Mulyani Indrawati

7. Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan: KHOFIFAH INDAR PARAWANSAH

Khofifah Indar Parawansah

8. Menteri Negara Perumahan Rakyat: CIPUTRA

Ciputra

9. Menteri Negara Pemuda dan Olahraga: MARUARAR SIRAIT

Maruarar Sirait

10. Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara: DAHLAN ISKAN

Dahlan Iskan

Itulah mereka-mereka yang saya percaya bisa bekerja secara profesional dan saya yakini akan memberikan hasil yang maksimal dari kinerja mereka untuk negara tercinta ini. Mungkin ada beberapa di antara para pembaca yang bertanya tentang pos-pos jabatan menteri lainnya kenapa tidak diisi, saya jawab bahwa untuk saat ini saya belum menemukan orang yang cocok dan capable serta saya percaya untuk itu.

Selain pos-pos jabatan menteri di atas, kalau saya diizinkan punya hak prerogatif lagi untuk memilih orang-orang untuk pos-pos lainnya di luar kementerian yaitu untuk lembaga negara dan komisi negara serta untuk bisa mengintervensi kekuasaan lainnya yaitu khususnya untuk kekuasaan yudikatif, berikut orang-orang kebanggaan saya itu:

11. Gubernur Bank Indonesia: ANGGITO ABIMANYU

Anggito Abimanyu

12. Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi: ABRAHAM SAMAD

Abraham Samad

13. Ketua Mahkamah Agung: ASEP IWAN IRIAWAN

Asep Iwan Iriawan

14. Ketua Mahkamah Konstitusi: MAHFUD MD

Mahfud MD

Sekian, bagaimana, ada yang bisa membantu saya membayangkan bagaimana kondisi negara ini jika para pemimpin, pejabat, dan birokratnya adalah orang-orang yang di atas? mantap kan. Atau ada yang mau mengusulkan nama-nama baru untuk pos-pos jabatan lainnya yang belum saya isi dan temukan? Atau ada yang mau mengoreksi dan protes terhadap apa-apa yang telah saya pilih di atas. Monggoo, silahkan, kotak komentar di bawah siap untuk menampung segala aspirasi dan argumen Anda, semata-mata untuk kebaikan Indonesia kita tercinta ini. MAJU INDONESIA, INDONESIA BISA, INDONESIA RAYA!!!

Posted in , , | Leave a comment

Happy Anniversary for Pancasila (Part 2)

Pancasila Saat IniBagaimanakah model demokrasi permusyawaratan itu? dan apa yang membedakannya dengan model demokrasi berdasarkan voting? mari kita membahasnya bersama-sama. Model demokrasi permusyawaratan secara sederhana dan jelas sebenarnya sudah termaktub dalam bunyi Sila Ke-4 Pancasila yaitu adanya (1) unsur perwakilan berdasarkan sistem permusyawaratan dan (2) unsur prioritas tertinggi tetap untuk kepentingan rakyat (dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat).

Menghubungkannya dengan sistem pemilu kita saat ini yang kita ketahui menerapkan sistem keterwakilan berdasarkan pemilihan atau voting baik untuk presiden, DPR, DPD, dan DPRD, hal tersebut jelas-jelas dan secara terang-terangan telah bertentangan dengan Sila Ke-4 Pancasila. Mungkin beberapa di antara Anda yang nasionalis dan optimis sontak mengatakan, “kalau begitu mari kita perbaiki kesalahan ini, mulai saat ini juga, sedikit demi sedikit”, beberapa lainnya di antara Anda juga mungkin mengatakan, “sebenarnya bisa diperbaiki, namun banyak hal yang perlu dibenahi dan itu membutuhkan waktu yang cukup lama”, dan beberapa lainnya lagi di antara Anda mungkin secara pesimis mengatakan, “tidak usahlah diperbaiki lagi, pake yang sekarang aja”. Kalau saya diminta memilih dari 3 kategori “Anda” di atas, maka saya akan memilih yang pertama yang nasionalis dan optimis, dan lagi-lagi sebaiknya Anda juga mengikuti apa yang saya pilih tersebut. Karena kalau tidak, segera keluar dari blog saya ini dan jangan kembali lagi, kita tak butuh orang-orang yang cengeng dan pesimis di sini peace heheheh.

Ya, karena saya dan Anda telah sama-sama memilih pilihan untuk memperbaiki kesalahan terkait Sila Ke-4 Pancasila tersebut dalam sistem pemilu kita (terbukti karena Anda masih membaca postingan blog ini heheheh), maka supaya tidak dianggap sebagai segelintir orang yang hanya jago berkomentar dan mengkritik tanpa solusi, maka kali ini mari kita memberikan solusi cerdas yang kita punya itu sekaligus menunjukkan bagaimana model demokrasi permusyawaratan yang seharusnya diterapkan di Indonesia yang sesuai dengan Sila Ke-4 Pancasila.

Sebuah artikel opini yang pernah dimuat di koran Kompas beberapa waktu lalu akhirnya melengkapi dan membuat terang terkait beberapa istilah sehubungan dengan pemikiran saya (sok mengklaim sebagai “pemikiran saya” lagi heheheh) tentang model demokrasi permusyawaratan yang seharusnya diadopsi oleh sistem pemilu kita. Sebenarnya saya sudah mencari-cari clipping koran tersebut supaya saya dapat mengutip beberapa kalimatnya ke dalam postingan ini, namun karena saya tidak menemukan clipping nya, maka izinkan saya menjelaskan melalui kata-kata saya sendiri.

Indonesia, negara kita tercinta ini dengan sistem norma, nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat, dan kebudayaannya adalah tidak tepat untuk menerapkan sistem pemilu berupa keterwakilan melalui pemilihan (yang biasa juga kita sebut berdasarkan suara terbanyak atau voting) seperti yang berlaku saat sekarang ini. Indonesia, negara kita tercinta ini lebih cocok jika menerapkan sistem pemilu (seharusnya bukan lagi diistilahkan sebagai “pemilu”) berupa keterwakilan melalui penunjukan. Apa yang dimaksud dengan keterwakilan melalui penunjukan? Dan apa kelebihannya dengan keterwakilan berdasarkan pemilihan?

Ya, reformasi telah berlangsung selama 14 tahun lamanya, dan melalui reformasi ini dilahirkan sistem pemilihan pemimpin dan keterwakilan, melalui sesuatu yang kemudian kita istilahkan sebagai pemilu langsung. Selama masa reformasi ini, kita telah melalui 3 kali pemilu yang mana di antaranya 2 kali pemilu yang dilakukan langsung oleh rakyat yaitu yang diselenggarakan pada tahun 2004 dan tahun 2009. Pertanyaannya: bagaimana hasilnya, menggembirakankah atau memurungkankah? jawaban saya: memurungkan, dan Anda juga lebih baik menjawab sama dengan saya. Adakah di antara Anda yang bisa membuktikan sebaliknya? Tidak ada yang angkat tangan kan, oke, sudah jelas heheheh.

Kita tidak bisa menutup mata dan telinga dan mengakui bahwa keadaan negara kita tercinta ini kian hari kian memprihatinkan. Tidak usahlah jauh-jauh menengok ke desa dan pelosok sana untuk mencari bukti nyata dari kata “memprihatinkan” ini. Kita hanya perlu memencet tombol ON televisi kita masing-masing di rumah (terserah modelnya: CRT, LED, LCD, dan sebagainya, yang penting bisa nyala, heheheh) dan memilih program dari channel Metro TV ataukah TV One, maka kita akan segera melihat hal yang memprihatinkan itu: KORUPSI ANGGOTA DEWAN, PEGAWAI NEGERI, & PEJABAT PEMERINTAHAN.

Singkat cerita, salah satu penyebab dari sekian banyak penyebab terjadinya korupsi yang kita kenal baik secara teori dan praktek adalah karena kurangnya atau bahkan tidak adanya rasa tanggung jawab sosial pada diri anggota dewan, pegawai negeri, dan pejabat pemerintahan korup tersebut. Mereka sama sekali tidak memiliki hubungan kedekatan secara emosional dengan masyarakat yang memilihnya, tidak pernah hidup dan merasakan kehidupan masyarakat yang memilihnya, dan tidak tahu apa masalah serta harapan masyarakat yang memilihnya. Hanya bermodal foto narsis beralmamater partai lengkap dengan senyum indah di wajahnya yang tentu saja sudah diedit susah payah via Photoshop, ditambahkan tulisan nama lengkap yang ditambah-tambahi gelar akademis atau bangsawan yang tak tahu asalnya, kemudian dicetak ukuran jumbo dan itupun ngutang di percetakan atau kalau tidak ngutang pasti minta diskon, dan menjelang tengah malam berdirilah balihonya di sudut-sudut strategis ibukota oleh tukang-tukang becak yang dijanjikan akan diberi upah pembeli rokok, entah rokok sebatang atau sebungkus heheheh.

Ya, intinya, siapa yang balihonya paling banyak, yang ada iklannya sekali-kali muncul di televisi, yang banyak bantuan sosial “ada U di balik B nya”, dan sebagainya, maka dialah yang akhirnya akan mendapatkan undangan bertinta emas sebagai pemilik kursi empuk di gedung beratap buku hijau di Senayan sana atau yang akan dijemput langsung oleh mobil super mewah bernomor plat RI 1 yang membawanya ke istana megah, bekas milik jenderal VOC di jalan Medan Merdeka Utara sana. Ya, bukannya berniat untuk menjelek-jelekkan orang-orang yang seharusnya tersinggung ya, hanya saja supaya kita bisa merefresh bagaimana hubungan antara baliho jumbo narsis, sistem pemilu berdasarkan pemilihan, dan keadaan negara yang memprihatinkan, itu saja kok, tidak lebih.

Dan supaya keadaan negara ini tidak terus menerus memprihatinkan seperti sekarang dan supaya kita tidak menjadi negara dan warganegara yang menyia-nyiakan segala nikmat dan kelimpahan yang telah diberikan oleh Yang Maha Memberi di atas sana, maka marilah kita mulai memperbaiki kesalahan ini melalui penerapan model demokrasi permusyawaratan melalui sistem keterwakilan melalui penunjukan. Pastinya masih banyak di antara Anda yang tidak mengerti mengenai konsep perbaikan ini, karena sedari tadi saya hanya membahasnya secara setengah-setengah atau kalau jujur dikatakan dibahas secara kacau balau dan tak terarah heheheh. Baiklah saya akan mulai serius membahasnya.

Baca Lanjutannya di Happy Anniversary for Pancas ila (Part 3)

Posted in , , , | Leave a comment

Happy Anniversary for Pancasila (Part 1)

Hari Lahirnya Pancasila Pertama-tama, mengawali postingan kali ini, saya ingin sedikit mengumbar salah satu kebego’an terabal-abal saya yang terjadi karena dipancing oleh pemberitaan gencar satu dua hari ini di televisi tentang Pancasila dan topik-topik seputarnya. Kebego’an saya tersebut adalah dari kemarin sampai sebelum jam 9 malam, hari ini (01/06/2012) saya tidak tahu bahwa hari ini adalah peringatan Hari Lahirnya Pancasila hahahah. Kemarin, saya telah keliru karena mengira bahwa hari ini adalah peringatan Hari Kesaktian Pancasila mengingat kedua hari peringatan ini sama-sama bertanggal 1, yang mana satunya bertanggal 1 Juni dan satunya lagi bertanggal 1 Oktober. Sebenarnya saya juga ragu-ragu dengan keyakinan keliru sebelumnya tersebut, karena setahu saya Hari Kesaktian Pancasila diperingati setelah terjadinya G/30S/PKI yang bertanggal 30 September. Dari sana saya berpikir bahwa mana mungkin hari ini tanggal 1 Juni diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila, yang tanggal 30 September nya masih 2 bulan lagi, “hari apa hari ini yah?” pikirku penasaran sedari kemarin hingga sebelum jam 9 malam. Hingga akhirnya tepat jam 9 malam (mungkin ada yang bertanya: “kok pake jam?”, jawabku “karena saya lihat jamnya”, kagak penting hahahah), seorang pembawa acara pada sebuah program talk show di televisi mengatakan sepotong kalimat “…peringatan Hari Lahirnya Pancasila…”, saya akhirnya mangguk-mangguk sendiri sekaligus merasa menjadi orang terbodoh se-Indonesia karena tidak tahu dengan hari peringatan ini. Tapi, sekeliru apapun saya, sebego’ apapun saya, dijamin saya 100,5% cinta mati sama Indonesia heheheh.

Terlepas dari cerita kebego’an tak penting di atas, sebenarnya melalui postingan ini saya berniat untuk menulis sesuatu yang bertemakan Pancasila, supaya bisa dikatakan ikut menyemarakkan hari peringatan ini dan juga supaya tak kalah dengan para komentator yang sedari tadi nyerocos tentang Pancasila di televisi. Mengenai tema Pancasila ini, sebenarnya saya memiliki banyak hal yang ingin dituliskan, tapi karena keterbatasan tempat dan untuk tetap menjaga fokus topik tulisan setiap postingannya, akhirnya saya memutuskan bahwa kali ini saya ingin memberikan komentar terkait Sila Ke-4 Pancasila, yaitu “kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan” (masih hafalkan Anda? masih, lupa, atau hafal-hafal ingat, terserah, saya hanya ingin Anda tahu bahwa saya sayang sama Anda, sebagai sesama warganegara Indonesia tentunya, heheheh).

Sila Ke-4 Pancasila ini seringkali dihubung-hubungkan dengan sistem pemilihan umum (pemilu) yang telah berlaku di Indonesia saat ini. Tapi weeeiiits tunggu dulu, betulkah itu? apakah Sila Ke-4 Pancasila benar-benar menginginkan kita memberlakukan sistem pemilu seperti saat ini? apakah “permusyawaratan” itu telah identik dengan sistem pemilu seperti yang ada sekarang? jawabku: TIDAK, jawaban Anda sebaiknya juga harus TIDAK, alasannya, mari kita bahas bersama-sama di bawah ini, namun sebelumnya sebagai catatan: komentar-komentar dan argumen-argumen di bawah adalah murni dari pemikiran saya yang dangkal ini, tak berarti saya ingin mengobrak-abrik dan menjelek-jelekkan sistem yang telah dengan susah payah dibuat oleh orang-orang “pintar” kita, semata-mata hanya sebagai bentuk penyaluran aspirasi dan pendapat yang bebas demi kemajuan bangsa dan negara kita tercinta ini heheheh.

Mengawali komentar saya ini, saya meminta kerelaan Anda sebentar untuk membaca dan melafalkan ulang dengan penuh penghayatan tulisan yang ada di bawah ini (ingat: benar-benar dibaca, benar-benar dilafalkan, dan benar-benar dihayati):

KERAKYATAN YANG DIPIMPIN OLEH HIKMAT KEBIJAKSANAAN DALAM PERMUSYAWARATAN/PERWAKILAN

Sekali lagi:

KERAKYATAN YANG DIPIMPIN OLEH HIKMAT KEBIJAKSANAAN DALAM PERMUSYAWARATAN/PERWAKILAN

Sekali lagi deh, yang terakhir:

KERAKYATAN YANG DIPIMPIN OLEH HIKMAT KEBIJAKSANAAN DALAM PERMUSYAWARATAN/PERWAKILAN

Terima kasih saya ucapkan atas kerelaan Anda, mari kita lanjutkan pembahasannya. Salah satu dari sedikit pernyataan dari Bapak Mahfud MD yang begitu kental dan terekam mantap di kepala saya adalah pernyataannya yang disampaikan dalam sebuah seminar di ruang vicon Fakultas Hukum Unhas yang diselenggarkan beberapa bulan yang lalu. Beliau dalam sebuah pernyataannya mengatakan “negara Indonesia adalah negara demokrasi permusyawaratan, bukan demokrasi berdasarkan voting”. Saya seketika setelah mendengar pernyataan singkat tersebut merasa tersetrum dan sebentar kemudian tersesat dengan berbagai letupan pemikiran di otak yang mengikutinya sehingga saya tidak menghiraukan lagi kalimat-kalimat seterusnya yang diseminarkan oleh Bapak Mahfud MD. Saya ulangi: “negara Indonesia adalah negara demokrasi permusyawaratan, bukan demokrasi berdasarkan voting”. Apakah pernyataan ini benar? jawabku: BENAR, jawaban Anda sebaiknya juga harus BENAR. Apakah pernyataan tersebut berlandaskan dan sesuai dengan Sila Ke-4 Pancasila? jawabku: BENAR, jawaban Anda sekali lagi sebaiknya juga harus BENAR.

Berangkat dari pernyataan tersebut, mari kita sama-sama merenungkan dan menjawab pertanyaan: apakah Indonesia negara kita tercinta ini telah menerapkan demokrasi permusyawaratan atau yang diterapkan malah demokrasi berdasarkan voting? Ya, kali ini Anda telah lebih pintar dan lebih gesit dengan jawaban yang benar: “saat ini Indonesia menerapkan demokrasi berdasarkan voting”.

Model demokrasi berdasarkan voting pada dasarnya tidaklah salah karena memang secara teori dan praktek model demokrasi yang dikenal di dunia ada 2 yaitu dapat berupa model demokrasi permusyawaratan ataukah model demokrasi berdasarkan voting. Namun, karena wilayah penerapan demokrasi tersebut adalah di Indonesia yang “katanya” menganut demokrasi Pancasila, maka seharusnya model demokrasi yang diterapkan harus sesuai dengan nilai-nilai yang diinginkan oleh Pancasila, dan model demokrasi yang sesuai tersebut adalah model demokrasi permusyawaratan.

Baca lanjutannya di Happy Anniversary for Pancasila (Part 2)

Posted in , , , | Leave a comment

Obat Anti Insomnia a la Monzter

Insomnia Sewaktu masih kuliah dulu, sebagai seorang ndeso dari kampung yang demi untuk mengejar mimpinya, akhirnya merantau ke kota heheheh, saya seringkali mendengar beberapa istilah “kota” yang diucapkan atau menjadi bagian dari percakapan lepas teman-teman kampus yang begitu asing dan saya tidak tahu artinya (asli kunonya, heheheh). Diperparah dengan kegengsian dan kemalu-maluan, saya pun hanya menyimpan istilah-istilah tersebut di kepala, tanpa berusaha untuk mencari tahu artinya, yang saya akui untuk beberapa waktu tertentu saya juga merasa “tersiksa” dan penasaran, apa sih sebenarnya arti dari istilah-istilah tersebut.

Salah satu istilah “kota” yang begitu asing di telinga ndeso seperti saya ketika itu adalah istilah INSOMNIA. Teman-teman di kampus seringkali berujar kalau dirinya itu menderita insomnia. Bukan hanya dalam percakapan verbal, istilah insomnia pun seringkali menghiasi status teman-teman di facebook seperti dengan menulis: “insomnia again, oh no” atau “tersiksa banget karena insomnia” dan sebagainya. Terus terang, arti dari istilah insomnia ini baru benar-benar saya paham betul saat saya menginjak semester 7 perkuliahan. Sederhananya menurut yang saya tangkap dan pahami waktu itu, insomnia adalah sebuah penyakit yang mengakibatkan penderitanya susah tertidur (terlelap) di malam hari. Pikirku waktu itu, insomnia mungkin disebabkan karena pola tidur yang tidak teratur, karena sedang banyak masalah atau pikiran, dan bisa juga karena adanya gangguan kesehatan yang akhirnya memunculkan penyakit tersebut.

Terus terang, saya merasa aneh bin menggelitik dengan penyakit yang satu ini, benar-benar tidak masuk akal pikirku. Apa sih susahnya tidur itu, kok susah amat yaa, semua orang selalu pasti bisa untuk tidur. Meskipun sebenarnya ketika saya ditanya bagaimana cara tertidur itu saya tidak tahu jawabannya, tapi kalau ditanya bagaimana proses atau cara untuk “memancing” diri kita untuk tertidur, maka saya akan jawab dengan mudah dengan jawaban tinggal berbaring relaks, memejamkan mata, dan mengosongkan pikiran, tunggu beberapa waktu, maka tertidurlah kita, ngoroklah kita, dan bermimpi indahlah kita heheh.

Waktu di kampung dulu, saya tidak pernah mendengar ada orang yang menderita penyakit susah tidur seperti ini, meskipun tetap ada pengecualian bagi orang-orang yang sedang menderita penyakit atau sedang punya masalah dan banyak pikiran. Di kampung dulu, paling lambat jam 11 malam, semua orang sudah tidur, dan tidurnya pun adalah yang berkategori tidur lelap. Di malam hari, hanya ada gonggongan anjing yang seringkali memecah malam karena menyahut kepada sesamanya, menyahut kepada mereka-mereka yang halus yang lompat-lompat, yang ngesot-ngesot, yang terbang-terbang, yang tembus-tembus, dan sebagainya, atau menyahut kepada mereka-mereka yang kasar yang bertopeng, mengendap-endap, dan bersenjata tajam hahahah. Jadi kesimpulanku, penyakit insomnia ini adalah penyakit yang menyerang orang-orang kota dan sok modern (istilahnya: mayoritas diderita oleh orang-orang yang tinggal di kota) dan sangat jarang menyerang orang-orang ndeso dan bersahaja heheheh.

Berhubung karena saya sudah merantau dan berdomisili di kota selama hampir 5 (lima) tahun lamanya, memiliki KTP kota, jatuh cinta sama cewek kota wahahah, makan makanan kota, dan hidup dengan pola kehidupan kota (ngapa mi seng orang kota ee heheheh), akhirnya tak disangka dan tak dinyana, beberapa waktu yang lalu saya pun untuk pertama kalinya mengalami penyakit insomnia ini. Satu kata yang mewakili untuk mendeskripsikan penyakit ini yaitu TER-SIK-SA. Bagaimana tidak tersiksa: Pertama, tubuh sudah lelah dan kecapean karena segudang aktivitas dan pekerjaan hari ini, tapi tubuh (bisa juga: mata) tidak bisa tertidur untuk memulihkan tenaga untuk dipakai lagi di esok hari. Kedua, orang-orang di sekitar termasuk tetangga sudah tertidur semua, saya di sini masih terjaga dan mengandai-ngandai betapa nikmatnya kalau bisa memejamkan mata dan tertidur. Dan ketiga, tersiksa karena justru karena tidak bisa tidur ini, berbagai masalah dan beban pikiran yang sedang saya hadapi akhirnya muncul satu per satu, saling mengait, dan bergerak semrawutan di dalam kepala, dan mau tak mau memaksa saya untuk memikirkannya dan menemukan solusinya, tambah parah.

Namun akhirnya saya pun menemukan cara/solusi/obat untuk menghilangkan penyakit insomnia ini dan terbukti ampuh dan mujarab untuk diri saya sendiri. Cara ini sebenarnya sudah saya lakukan sejak kecil dulu sewaktu masih sekolah, ketika saya tidak bisa tidur karena memikirkan soal-soal ulangan esok hari yang istilahku “tidak akan ada jawaban, kecuali dari pikiranmu, karena nyontek itu dilarang dan memalukan” sok, karena berbagai hafalan rumus-rumus fisika dari Keppler, Newton, dan Voltase yang sedang melayang-layang di kepala dan tidak mau diam, atau karena PR-PR ku yang belum sempat saya selesaikan malam ini dan diharuskan bangun di subuh hari untuk melanjutkan pengerjaannya. Cara yang saya maksudkan sebenarnya bisa dikatakan adalah sebuah cara norak yang saya harap teman-teman para pembaca postingan ini juga bisa mempraktekkannya, di sini saya hanya mau berbagi cara/solusi/obat bagi teman-teman yang sudah merasa putus asa untuk menghilangkan penyakit insomnia yang sedang dideritanya.

Cara yang saya maksud adalah dengan memikirkan hal-hal yang kita anggap menyenangkan atau kita sukai sampai ke hal sedetail-detailnya. Contoh dari pengalaman saya sendiri (catatan: tak bermaksud lebay yak), waktu kecil dulu saya suka menggambar, khususnya menggambar rumah, suka dengan suasana keluarga, dan cukup tertarik untuk hal-hal yang berbau bisnis dan wirausaha (kurang lebih seperti game PS: Harvest Moon – Bact to Nature lah: ada rumah tinggal, rumah hewan, dan kompleks pertanian, ada interaksi dengan orang-orang dan keluarga, dan ada kegiatan bisnis berupa pertanian dan peternakan). Berangkat dari hal-hal yang saya anggap menyenangkan tersebut, ketika saya tidak bisa tidur, maka saya akan memposisikan diri saya sebagai seorang yang memegang stick PS atau sebagai seorang sutradara atau sebagai personal eyes (penglihatan langsung dari orangnya) dan segera memulai adegannya.

Adegan ku mulai dari gambaran sekumpulan orang-orang yang berencana untuk pindah ke suatu tempat untuk mendapatkan kehidupan baru (semacam bertransmigrasi lah), pada adegan ini saya akan detailkan mengenai berapa jumlah mereka, komposisi pria-wanitanya, komposisi umur mereka, wajah mereka, sampai pada personality mereka. Adegan selanjutnya adalah bagaimana cara mereka pindah dimulai dari mengemas barang-barang yang akan dibawa dan perjalanan mereka untuk sampai pada tempat tujuan. Adegan selanjutnya seringkali saya memikirkan kalau mereka ini sampai pada suatu tempat yang cukup lapang, terpencil, dan pada beberapa bagiannya adalah hutan. Adegan selanjutnya adalah mereka mulai merencanakan untuk membangun rumah sederhana untuk mereka tinggali, detailnya: bagaimana pembagian tugas mereka: yang mengambil kayu dari hutan, yang memotong kayu, yang memasang dan memaku, sedang wanita-wanitanya menyiapkan makan siang seadanya, dan seterusnya. Setelah itu saya akan memikirkan bagaimana gambar rumah mereka, dengan desain yang sederhana, namun tetap apik dan kelihatan indah, dan bisa menampung mereka di dalamnya. Melompat ke adegan yang lebih jauh, mereka mulai membuka lahan untuk bercocok tanam, berkebun, dan sebagainya disesuaikan dengan kondisi tanah dan cuaca daerah tersebut, dan hasilnya setelah dipanen akan dijual ke pasar yang jauhnya berpuluh-puluh kilometer yang mereka tempuh berjam-jam dengan berjalan kaki. Hasil dari penjualan tersebut, kemudian mereka belikan barang-barang kebutuhan lainnya dan sebagiannya lagi mereka tabung. Dan seterusnya dan seterusnya.

Seringkali ketika memikirkan beberapa detail dari satu adegan, saya seringkali sudah merasa rileks dan akhirnya tertidur. Esoknya, ketika menjelang tidur lagi, saya akan melanjutkan adegan terakhir dari yang terpotong sebelumnya. Begitulah seterusnya sampai sedetail-detailnya hingga menjadi sebuah cerita kehidupan yang kompleks dan holystic.

Beberapa waktu terakhir ini, saya kembali mengalami sedikit gangguan untuk bisa tidur lebih cepat. Namun kali ini adegan ceritanya tidak selebay seperti adegan-adegan di atas waktu kecil dulu. Adegan-adegan yang ku munculkan di pikiran adalah adegan-adegan tentang step by step membangun rumah idaman masa depanku: lokasinya di mana, luas tanahnya berapa, model pagarnya, tampak atasnya, pembagian ruangannya, dan sebagainya. Meskipun saya tidak sempat menghitung berapa waktu yang saya habiskan untuk memikirkan hal-hal tersebut hingga saya tertidur, namun saya yakin hal tersebut hanya butuh belasan menit saja, bahkan bisa jadi hanya beberapa menit saja.

Saya kira bagi teman-teman yang sedang menderita atau mengalami insomnia, tidak ada salahnya untuk mencoba cara saya ini. Mungkin teman-teman masih bingung mengenai bagaimana cara memulainya, yaa sederhanya teman-teman hanya tinggal memikirkan sejenak mengenai hal-hal apa yang teman-teman anggap menyenangkan atau teman-teman sukai, lalu kemudian mengarahkan pikiran kita sebagai seorang pemegang stick atau sebagai sutradara atau personal eyes dan mulai memikirkannya. Contoh sederhana lainnya: kalau teman-teman suka traveling, selanjutnya memikirkan akan traveling ke mana, packing hal-hal yang mau dibawa, mungkin bisa ngajak teman, perjalanan di pesawat, sampai di tujuan, membayangkan suasana bandara, makan siang di mana, dan seterusnya dan seterusnya, cukup yah. Pokoknya selamat mencoba heheheh.

Posted in , , , | Leave a comment

KW2 nya Model JILC 2012

Sudah seminggu ini ketika saya lewat di depan JILC Toddopuli dan melihat model baru di spanduk besarnya (model yang di tengah yaa), rasa-rasanya saya pernah lihat dan familiar dengan orang yang mirip dengan itu. Dan sudah seminggu ini pula saya tersiksa memikirkan mengenai miripnya di bagian mana? dan siapa orangnya? hahahah. Berikut di bawah ini adalah gambar spanduknya yang sudah saya crop: (mabok seri 1 heheheh)

Potongan Foto

Kemarin saya lewat lagi di depan JILC Toddopuli dan akhirnya saya mengetahui kalau bagian miripnya adalah pada bagian matanya atau paling tidak pada sorot matanya yang saya istilahkan termasuk dalam kategori syahdu-syahdu mematikan Wakakakak. Berikut di bawah ini gambar matanya yang sudah di zoom dan di crop: (mabok seri 2, heheheh)

Hmmm… orangnya memang sangat mirip, utamanya pada bagian matanya (sorot matanya) hahahah. Dan setelah saya mencari-cari (“mencari-cari” sebenarnya adalah istilah pembenaran dari “menyabotase”. Peace!!!) foto-fotonya di FB, lalu menyeleksinya dengan susah payah untuk menemukan yang paling mirip, inilah hasilnya. Mirip toh? yaa paling tidak di sekitaran KW 2 lah miripnya.

 

Mohon maaf bagi orang si empunya foto di atas atau yang merasa mirip dengan foto di atas atas keonaran yang saya buat ini, yang saya perkirakan membuat Anda di sana sedikit tersakkots-sakkots atau mual-mual berhadiah. Postingan ini dibuat hanya sebagai ajang reunian semata untuk mempererat tali silaturahmi di antara kita peace!!! Appahhh? wueeek ;p

CATATAN: foto di atas adalah non fiktif belaka, jadi jika ada persamaan orang, gambar, bentuk, dan sebagainya dan itu membuat ketersinggungan atau ketidakenakan di dalam dada dan panas di kepala (meskipun sebenarnya kecil kemungkinan), silahkan melayangkan surat protes kepada kami baik via call maupun via SMS, maka kami akan segera menghapus postingan ini heheheh (tapi saya harap tidak ada ji). Terima kasih.

Posted in , | Leave a comment

Menunggu Desember 2012: Ujian Profesi Advokat

Membuka postingan kali ini, izinkan saya menyanyikan sepenggal lagu syahdu ciptaan Mbak Melly Goeslaw (PERHATIAN: saya mohon dengan sangat untuk jangan sekali-kali membayangkan bagaimana saya menyanyikannya hahahah).

menghitung hari

detik demi detik

masa ku nanti apa kan ada

jalan cerita kisah yang panjang

menghitung hari

Ya, penggalan lagu itulah yang bisa dikatakan mewakili gundah gulananya (cee ileh :p) perasaanku saat ini setelah mengetahui kalau Ujian Profesi Advokat (UPA) baru akan dilaksanakan pada bulan Desember 2012. Jika seandainya menyalahkan itu dibolehkan, maka saya akan menyalahkan si dosen yang kalo ngajar lihatnya ke dinding belakang kelas yang ngurus administrasi jadwal PKPA (Pendidikan Khusus Profesi Advokat) yang lalu. Yang karena amburadulnya administrasi dan manajemen yang ada, hingga jadwal pelaksanaan PKPA bertabrakan dengan jadwal pelaksanaan UPA, dan karena itu gugurlah peluang untuk mengikuti UPA tahun lalu sehingga harus menunggu UPA tahun ini. Perlu digarisbawahi bahwa 12 bulan adalah waktu yang cukup lama, TITIK.

Informasi mengenai pelaksanaan UPA tahun ini yaitu pada Desember 2012 saya dapatkan langsung dari Peradi (Perhimpunan Advokat Indonesia) melalui surel (surat elektronik) yang mereka kirimkan. Agar ke shahihan info ini dapat dibuktikan, berikut di bawah ini saya tempelkan potongan gambar surel-surel antara saya dengan Peradi.

1. Surel dari saya ke Peradi, tertanggal 19 Maret 2012 pukul 16:51 Wita

Surel 1

2. Surel dari Peradi ke Saya, tertanggal 19 Maret 2012 pukul 16:51 Wita

Surel 2

3. Surel dari saya ke Peradi, tertanggal 22 Maret 2012 pukul 16:27 Wita

Surel 3 

4. Surel dari Peradi ke Saya, tertanggal 22 Maret 2012 pukul 16:27 Wita

Surel 4

4. Surel dari Peradi ke Saya, tertanggal 12 April 2012 pukul 15:36 Wita

Surel 5

Dengan demikian, sekali lagi berdasarkan informasi yang saya peroleh dari surel-surel komunikasi di atas, diketahui bahwa pelaksanaan UPA baru akan dilaksanakan pada bulan Desember 2012. Jadi kalau dihitung-hitung, kita harus menunggu selama 9 bulan (bisa lahir satu anak ini hahahah).

Namun, sebagai bijak yang menghargai waktu dan mensyukuri kehidupan yang telah diberikan oleh Tuhan, alangkah baiknya jika waktu 9 sembilan bulan menunggu tersebut kita gunakan untuk mempersiapkan diri, mengulang teori-teori ilmu hukum yang ada, memahirkan beberapa kemampuan praktis yang akan diteskan, sehingga kelak jika waktu UPA telah tiba, tidak ada kendala yang berarti dalam mengerjakan dan menyelesaikan soal-soalnya, dan akhirnya lulus tes lah kita. Alangkah menyesalnya kita, jika waktu selama 9 bulan ini kita gunakan hanya untuk hal-hal yang antah berantah, tak ada gunanya, lalu pada saat UPA hanya sedikit soal yang bisa kita jawab dan selesaiakan, dan hasilnya sudah bisa ditebak, kita tidak lulus. Selamat menunggu, selamat belajar, selamat berjuang para calon officium nobile.

Baca lanjutan: Ujian Profesi Advokat Diundur Maret 2013

Oh ya, sekedar promosi dari bisnis sampingan yang saya geluti sambil menunggu pelaksanaan Ujian Profesi Advokat yang diundur ini, Bapak, Ibu, dan rekan-rekan sejawat (sesama calon officium nobile, insyaAllah :D) yang ingin melihat-lihat produk sutera berupa kemeja, hem, dan sebagainya, bisa mengunjungi website kami Suterawarna.com (atau follow Twitter kami @SuteraWarna atau kunjungi fan pages Facebook kami Sutera Warna) atau bisa dengan mengklik gambar di bawah, terima kasih.

Suterawarna.com

Posted in , , | Leave a comment

MakassarPropertyDotCom was Not Avalaible

Beberapa waktu yang lalu, diilhami dari membaca beberapa artikel di internet tentang pekerjaan-pekerjaan yang memiliki prospek cerah ke depannya dan dilanjutkan dengan membaca sebuah buku menarik  di toko buku beberapa waktu setelahnya tentang lima pekerjaan yang memiliki prospek besar menjadi milyarder, saya akhirnya kerasukan dengan pikiran-pikiran untuk mencoba bekerja dan meniti karir sebagai seorang broker properti hahahah.

Selanjutnya, diilhami oleh iklan keren Berniaga.com dan TokoBagus.com yang akhir-akhir ini sedang gencar-gencarnya ditayangkan di televisi, saya akhirnya memikirkan sebuah ide untuk membuat sebuah website komersial yang khusus melayani transaksi jual-beli properti seperti ruko, rumah, tanah kavling, dan sebagainya, sehingga nantinya ketika sudah jadi, bisa saya otomatisasi sehingga saya masih bisa mengerjakan pekerjaan-pekerjaan menyenangkan berikutnya. Berangkat dari itu semua, saya mulai memikirkan tentang pembangunan sistem websitenya, bagaimana menggaet orang yang ingin menjual propertinya untuk memasukkannya ke website ini nanti, dan bagaimana promosinya ke orang-orang.

Hal pertama yang menguras pikiran saya tentang rencana pembuatan website ini adalah mengenai apa nama domain dari websitenya, nama domain yang kira-kira menarik minat pembeli dan penjual, nama domain yang mudah diingat, dan nama domain yang ketika membaca atau mendengarnya maka kita sudah bisa menebak isi dari website tersebut. Setelah beberapa hari saya memikirkannya, di jalanan ketika sedang mengendara, sebelum tidur di malam hari, dan ketika lihat-lihat brand yang ku temui di jalanan, akhirnya saya memutuskan untuk mengambil nama domain yaitu www.makassarproperty.com, namanya cukup menarik, mudah diingat, mudah diketik di keyboard, dan cukup mewakili isi dari websitenya.

Namun beberapa hari setelahnya, harapan ide itu pun pupus dan hancur berserakan hahahah. Waktu itu saya sedang dalam kegiatan survey percetakan dalam rangka persiapan insya Allah bisnis Independent Publishing ku (mohon doanya yaa semoga niat bisnis ini lancar heheh). Di sebuah lorong di sekitar jalan veteran selatan, saya menemukan sebuah ruko kantor dari apa yang sudah ku pikirkan dan ku rancang selama seminggu ini. Kantor nyata dari www.makasssarproperty.com ternyata sudah ada dan itu artinya www.makassarproperty.com versi ku sudah tidak tersedia lagi.

Merasa sedih sih tidak, justru malah merasa menggelitik, karena apa yang sedang saya pikirkan ternyata sudah dipikirkan oleh orang-orang jauh-jauh waktu sebelumnya. Sebenarnya, saya masih memikirkan untuk tidak menyerah dan memilih cara lain untuk melanjutkan ide saya ini yaitu dengan mengganti nama domainnya dengan nama domain yang berbeda namun tetap menarik. Tapi karena analisis abal-abal saya melihat ruko kantor dari www.makassarproperty.com yang nyata kelihatan tidak ada tanda-tanda kehidupan kantor sama sekali, maka saya akhirnya simpulkan kalau ide bisnis ini masih perlu saya pikirkan matang-matang untuk memulainya heheheh. Istilahku “mengapa kita harus bersusah-susah untuk mengalaminya sendiri, kalau kita sudah bisa melihat hasilnya secara langsung yang telah dilakukan oleh orang lain”.

Ini dia foto ruko kantor dari www.makassarproperty.com yang sempat saya abadikan sesaat setelah menemukannya (11/04/2012) hahahah.

Makassar Property

Dan ini setelah saya zoom banner nya:

Makassar Property Zoom

Posted in , , | Leave a comment

Manakala Hidupmu Susah Untuk Dijalani…

Pagi ini (11/04/2012) ketika saya mengecek inbox surel (surat elektronik) ku, terdapat satu kiriman surel yang isinya begitu menarik dan membuat saya sedikit merenung. Dan saya  pikir ada baiknya saya bagikan kepada para pembaca sekalian yang entah dari mana bisa terdampar di blog saya ini. Surel ini adalah surel yang saya subscribe (berlangganan) yang dikirimkan dari seseorang yang bernama Anne Ahira, seorang pakar internet marketing. Berikut di bawah ini isi surel yang saya maksudkan, semoga bermanfaat.

Toples

Seorang professor berdiri di depan kelas filsafat dan mempunyai beberapa barang di depan mejanya. Saat kelas dimulai, tanpa mengucapkan sepatah kata, dia mengambil sebuah toples mayones kosong yang besar dan mulai mengisi dengan bola-bola golf. Kemudian dia berkata pada para muridnya, apakah toples itu sudah penuh? Mahasiswa menyetujuinya.

Kemudian professor mengambil sekotak batu koral dan menuangkannya ke dalam toples. Dia mengguncang dengan ringan. Batu-batu koral masuk, mengisi tempat yang kosong di antara bola-bola golf. Kemudian dia bertanya pada para muridnya, Apakah toples itu sudah penuh? Mereka setuju bahwa toples itu sudah penuh.

Selanjutnya profesor mengambil sekotak pasir dan menebarkan ke dalam toples. Tentu saja pasir itu menutup segala sesuatunya. Profesor sekali lagi bertanya apakah toples sudah penuh? Para murid dengan suara bulat berkata, "Yaa!"

Profesor kemudian menyeduh dua cangkir kopi dari bawah meja dan menuangkan isinya ke dalam toples, dan secara efektif mengisi ruangan kosong di antara pasir. Para murid tertawa. "Sekarang", kata profesor ketika suara tawa mereda, "Saya ingin kalian memahami bahwa toples ini mewakili kehidupanmu.”

"Bola-bola golf adalah hal-hal yang penting - Tuhan, keluarga, anak-anak, kesehatan, teman dan para sahabat. Jika segala sesuatu hilang
dan hanya tinggal mereka, maka hidupmu masih tetap penuh."

"Batu-batu koral adalah segala hal lain, seperti pekerjaanmu, rumah dan mobil."

"Pasir adalah hal-hal yang lainnya, hal-hal yg sepele."

"Jika kalian pertama kali memasukkan pasir ke dalam toples,"  lanjut profesor, "Maka tidak akan tersisa ruangan untuk batu koral ataupun untuk bola-bola golf. Hal yang sama akan terjadi dalam hidupmu."

"Jika kalian menghabiskan energi untuk hal-hal sepele, kalian tidak akan mempunyai ruang untuk hal-hal yang penting buat kalian"

"Jadi..."

"Berilah perhatian untuk hal-hal yang kritis untuk kebahagiaanmu. Bermainlah dengan anak-anakmu. Luangkan waktu untuk check up kesehatan. Ajak pasanganmu untuk keluar makan malam. Akan selalu ada waktu untuk membersihkan rumah, dan memperbaiki mobil atau perabotan."

"Berikan perhatian terlebih dahulu kepada bola-bola golf - Hal-hal yang benar-benar penting. Atur prioritasmu. Baru yang terakhir, urus pasir-nya."

Salah satu murid mengangkat tangan dan bertanya, "Kalau Kopi yg dituangkan tadi mewakili apa?"

Profesor tersenyum, "Saya senang kamu bertanya. Itu untuk menunjukkan kepada kalian, sekalipun hidupmu tampak sudah begitu penuh, tetap selalu tersedia tempat untuk secangkir kopi bersama sahabat" :-)

Surel ini dikirimka oleh Anne Ahira yang disari dari ‘Google Bottle’. Jika artikel di atas dirasa bermanfaat, mohon untuk di share pada teman-teman yang lain melalui Email, mempostingnya di Blog Anda, Twitter, Facebook, atau Google+! Cukup klik salah satu icon share di bawah! :-)

Posted in , , , , , , , | Leave a comment

Karya Monzter

Segala yang ada dalam postingan ini adalah karya-karya yang telah saya buat, yang dapat di download secara gratis (baik ka toh? heheheh) untuk keperluan dan kepentingan Anda dengan besar harapan saya agar karya-karya ini dapat digunakan dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Saya hanya memohon satu hal kepada Anda yaitu doa kepada Yang Maha Kuasa (atas rezeki yang halal melimpah, umur yang panjang, jodoh isteri yang cantik & pintar, pekerjaan yang menyenangkan, dan kelak bisa masuk surga firdaus. Wadoouh!) semoga saya dapat membuat karya-karya selanjutnya yang lebih menarik dan lebih bermanfaat. Selamat men download dan menikmati!

ILMU HUKUM

Hukum Pidana

Dokumen – Pra Penuntutan (DOWNLOAD)

Posted in , , , | Leave a comment

Mobil Terbang, Hmmm

Sore tadi (05/04/2012) ketika nonton program Kabar Pasar dari TV One, terdapat salah satu segmen berita yang begitu menarik perhatianku, yaitu tentang Mobil Terbang. Karena tidak puas dengan cuplikan video dan gambar serta penjelasan yang hanya beberapa menit ditampilkan, maka saya langsung search di internet tentang mobil terbang tersebut. Wah, benar-benar unik dan hi-tech mobil terbang ini, hmmm kapan saya punya yang beginian yah? Dipamerkan saja sudah keren apalagi kalau sudah dijalankan (baca: diterbangkan). Di bawah ini saya sertakan foto-foto slide dari mobil terbang ini yang saya “culik’ dari website resminya di www.terrafugia.com.

Mobil Terbang Keluar Garasi

Anggap saja orang di dalam gambar yang sedang duduk di kemudi mobil terbang ini adalah saya, namanya Anto (ngarep). Ceritanya, hari ini adalah hari Minggu pagi, rencananya ingin jalan-jalan untuk menghilangkan kepenatan dan kejenuhan pada hari-hari kerja sebelumnya. Mungkin ada di antara para pembaca yang bertanya, “kok sendirian ya. Pasangannya mana?” yaa jrengjrengjrengMobil Terbang Meninggalkan Rumah

Setelah itu, mobil terbang kerenku ini saya jalankan melewati rumah-rumah tetangga. Coba perhatikan di jendela ketiga dari kiri di lantai 2 rumah tersebut, si om lagi ngintip di balik tirai yang kelihatan liurnya menetes karena lihat saya dan mobil terbang kerenku ini melintas di depan rumahnya. Dizoom 1000% pun ngga akan dilihat tuh si om, apalagi liur menetesnya hahahah. Hanya untuk menguji seberapa waras Anda hari ini (ngaco).

Mobil Terbang Isi Bahan Bakar Gas

Untungnya saya sudah mengundurkan diri jadi warga negara Indonesia yang salah satu alasannya dapat dilihat pada gambar di atas: carut-marutnya kebijakan energi. Di negeri baru saya ini (sok), penggunaan bahan bahar minyak menempati posisi terbawah. Orang-orang lebih banyak menggunakan bahan bakar gas, selain karena ramah lingkungan, juga karena harganya yang relatif sangat murah. Pose sok kerenku di atas lengkap dengan senyum manisnya sebenarnya saya tujukan ke pejabat-pejabat pemerintah Indonesia yang jika diterjemahkan dalam kalimat, yaa kurang lebih akan berarti seperti ini: Indonesia masih maukow? heheheh. Gambar di atas saya ambil ketika mengisi gas mobil terbang kerenku di salah satu SPBG yang ada di dekat rumah.

Mobil Terbang Masuk Bandara

Keunggulan lainnya dari negara baruku ini adalah setiap warga negaranya bebas menggunakan bandara yang ada hanya dengan mengikuti prosedur parkir biasa seperti saat parkir di mall. Cukup menyiapkan STNK mobil terbangku karena di depan bandara ada tulisan “mobil terbang tanpa STNK dilarang masuk” heheheh, terus memencet tombol karcis, setelahnya terserah mau berekspresi seperti apapun bisa, mau take off, mau landing, mau muter-muter doang, terserah.

Mobil Terbang Merentangkan Sayap

Ini dia salah satu bagian yang saya sukai. Kalau mobil mewah Mercedes Bens atau sejenisnya bisa buka tutup atap mobil, mobil ini bisa memendekkan dan merentangkan sayapnya. Keren mana coba? heheheh. Gambar di atas adalah ketika saya sedang bersiap-siap untuk menerbangkan mobil terbang ini.

Mobil Terbang Take Off

Tekan tombol merah kuning hijau, geser tuas kiri kanan depan belakang, nyalakan turbin dan baling-baling, cek-cek konfirmasi absen ke menara pengawas. Sebentar kemudian mobil terbangku sudah melaju kencang di jalanan mulus bandara, sedetik kemudian badannya melayang, alhamdulillah yah sudah terbang.

Mobil Terbang, Terbang Betulan

Mobil Terbang, Terbang Betulan

Mobil Terbang, Terbang Betulan

Kerennya mas bro. Ketika berada di angkasa, kok wajahmu tiba-tiba muncul ya. senyum manismu, sinar matamu, dan baik aklakmu. Andai engkau ada di sisiku sekarang, akan ku ungkapkan perasaanku yang sesungguhnya padamu kalau aku tiiiiiiit padamu heheheh. russsak memang.

Mobil Terbang Setelah Landing

Setelah puas berkeliling-keliling, meliuk-liuk, dan bermanufer di antara awan-awan, akhirnya saya memutuskan untuk mendarat. Alhamdulilah bisa menyentuh tanah lagi.

Mobil Terbang Meninggalkan Bandara

Meninggalkan bandara setelah memendekkan sayap kembali sehingga bentuknya mirip-mirip (dipaksa) mobil lagi. Jangan lupa untuk menunjukkan STNK Mobil Terbang kepada petugas bandara dan membayar biaya parkir Rp 2.000,- (karena hanya 1 jam) di loket karcis parkir.

Mobil Terbang Pulang Ke Rumah

Berhubung di jalan terperangkap demo yang terjadi di depan Gedung Kedutaan Besar Republik Indonesia (masih maukow Indonesia? heheheh), akhirnya saya baru di jalan pulang ketika sore hari. Andai saya tahu akan terkena macet, lebih baik saya landing saja langsung di depan rumah. Yaa ngga apa-apalah hitung-hitung bisa merasakan kembali suasana demo yang sudah lama tidak pernah saya rasakan semenjak pindah ke negara baruku ini (sok).

Mobil Terbang Singgah ke Rumah Tetangga

Ketika melintasi depan rumah si om yang tadi menuju rumah, dari balik jendela ketiga dari kiri lantai 2 itu muncul wajah si om yang berteriak-teriak memintaku untuk singgah ke rumahnya. Karena merasa tak tega melihat si om yang tersiksa dengan liurnya yang tak henti-hentinya mengalir deras, akhirnya saya putuskan untuk singgah sebentar. Saya turun dari mobil dan seketika itu juga si om muncul dari balik pintu rumahnya yang besar. Ketika itu saya perhatikan, mata si om berbinar-binar memperhatikan mobil terbang kerenku ini dan seketika itu pula saya perhatikan aliran liur si om tiba-tiba saja berhenti (jorok mas bro). Kok bisa? hanya orang miring yang mau pusing dengan jawabannya hahahah.

Sekian cerita gambar fiktifku bersama mobil terbang kerenku ini, semoga saja cerita ini beberapa tahun ke depan bisa menjadi kenyataan. Namun, terdapat satu hal dalam cerita ini yang besar harapan saya hal itu tidak menjadi kenyataan bahkan tidak muncul lagi di kepalaku yaitu si om dan liur-liur menjijikannya hahahah.

Posted in , , , | Leave a comment
Diberdayakan oleh Blogger.

Search

Swedish Greys - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.