Archive for Desember 2011

Do’a. Dulu, kini, dan nanti

Do'a. Dulu, kini, dan nanti

Pagi tadi, sebuah pesan singkat masuk, isinya berupa undangan untuk menghadiri sebuah seminar nasional dengan tema “Pancasila. Dulu, kini, dan esok” (koreksi: menurut analisis abal-abal saya, pemakaian kata “esok” itu agak kurang tepat, seharusnya kan yang dipakai itu adalah kata “nanti”. Jadi tema yang tepat seharusnya berbunyi seperti ini: “Pancasila. Dulu, kini dan nanti”. Mantap kan?). Terlepas dari persoalan koreksi tersebut, tema seminar inilah yang akhirnya menginspirasi saya terkait judul postingan kali ini: “Do’a. Dulu, kini, dan nanti”. Apa pula ini? heheheh. Bilamana judul ini akhirnya membuat kening Anda sedikit berkerut dan pikiran Anda sedikit bertanya-tanya, hahahah itulah salah satu kebahagiaan bagi saya, si penulis postingan abal-abal ini. Selamat membaca kelanjutannya.

Beberapa waktu yang lalu (sekitar 1 jam yang lalu, malam ini). Salah seorang junior (adek mahasiswa di kampus) melalui pesan singkat, menanyakan beberapa pertanyaan terkait teori dasar hukum pidana yang akan menjadi bahan ujian finalnya esok hari. Singkat cerita, setelah si junior ini merasa puas bertanya dan merasa cukup pula dengan jawaban-jawaban yang saya berikan, akhirnya pesan singkat terakhirnya meminta saya untuk mendo’akan dia agar ujiannya esok hari semoga lancar. Sebagaimana kebiasaan orang meminta untuk dido’akan, saya balas pesan singkat tersebut dengan redaksi “aamiin, semoga lancar ujiannya dek”. Saya yakin hal permintaan untuk dido’akan ini bukan hanya terjadi pada saya, tapi juga pada orang lainnya dengan subjek tema dan latar belakang yang beraneka rupa lainnya.

Di lain cerita, beberapa hari yang lalu salah seorang teman berulang tahun. Di wall facebook nya bertaburan ucapan selamat ulang tahun dengan beragam macam bentuk dan redaksinya yang beberapa di antaranya diikuti oleh do’a bagi si berulang tahun ini: “sukses selalu”, “semoga panjang umur”, “semoga mimpi2nya tercapai”, dan lain sebagainya.

Yang menjadi pertanyaan besar saya terhadap kedua contoh cerita di atas adalah apakah si yang mendo’akan atau yang diminta untuk mendo’akan itu, benar-benar mendo’akan kepada Yang Di Atas sana, Yang Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan Do’a. Ataukah semata-mata hanya redaksi formalitas do’a tertulis saja tanpa ada ingatan dan permohonan do’a kepada Yang Di Atas sana. Jawabannya tentu tergantung dari masing-masing dari kita.

Terlepas dari jawaban-jawaban tersebut, menurut saya jawaban dengan persentase tertinggi adalah jawaban yang kedua yaitu semata-mata hanya redaksi formalitas do’a tertulis saja tanpa ada ingatan dan permohonan do’a kepada Yang Di Atas sana. Inilah realitas do’a yang ada pada masa kini.

Dulu, do’a masih dalam fitrah tempatnya: sebagai lirihan suara hamba kepada Tuhannya dalam bentuk komunikasi satu arah berupa permohonan, harapan, permintaan tolong, pengaduan, dan sebagainya dengan harapan agar Tuhan Yang Maha Kuasa mendengar lirihannya dan mengabulkannya. Orang sakit meminta kesembuhannya, orang miskin meminta dicukupkan, orang teraniaya meminta kesabaran dan pembalasan, dan lain-lain. Do’a pada masa dulu merupakan refleksi bersesuaian antara hati, lisan, dan tindakan. Seseorang berdo’a, memohon menggunakan hati nuraninya, diucapkan lirih rendah dengan lisannya, dan dilakukan dengan tindakan sebagaimana adab-adab berdo’a yang telah dicontohkan oleh Yang Tercinta Rasulullah Saw. Niscaya, dengan izin Allah Swt, do’a nya akan didengar dan dikabulkan.

Di masa kini, beginilah nasib do’a yang keseharian kita lihat, kita dengar, dan kita rasakan. Sebagiannya masih bertahan dengan pemaknaan dan tindakan berdo’a masa dulu, sebagian lagi melakukan pemaknaan dan tindakan do’a yang separuh dari yang seharusnya, tindakan formalnya berdo’a, namun hati dan lisannya tidak berdo’a sama sekali. Sayang seribu sayang, mungkin saja inilah saat-saat akhir zaman itu.

Yang menjadi kekhawatiran saya sekaligus pertanyaan saya sekarang adalah bagaimana nasib pemaknaan dan tindakan do’a di masa yang akan datang (nanti). Jawabannya tentu sudah dapat kita terka masing-masing. Yang bisa saya lakukan hanyalah berdo’a kepada Yang Di Atas sana agar senantiasa menjaga apa-apa yang telah diturunkan dan diajarkan Nya kepada kita semua, sehingga tetap sesuai dengan apa yang seharusnya kita lakukan terhadap apa yang diturunkan dan diajarkan Nya itu.

Terakhir, semoga postingan ini sedikit memberikan manfaat kepada kita semua, pembaca yang budiman. Mohon maaf bilamana penulisannya berputar-putar dan tidak karuan. Besar harapan saya agar postingan ini bisa membuat kita sebentar merenungi apa-apa yang telah kita kerjakan selama ini dan bagaimana kita telah melaluinya. Ihdinassiraatal Mustqiim Yaa Raab.

Posted in , , , , | Leave a comment
Diberdayakan oleh Blogger.

Search

Swedish Greys - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.