Archive for Januari 2011

Keluarga Sunyi

Keluarga Sunyi Aktivitas sehari-hari sebagaimana biasanya, malam masih muda, binatang-binatang terbang satu per satu bangun dari peraduannya. Manusia-manusia bersarung, ada yang masih dengan mukenanya, ada dengan sajadah di tentengannya, berwajah cerah bersinar, baru pulang dari menghadapkan keimanannya ke Illahi Rabbii.

Ku lipat pula sarungku, ku masukkan ke dalam tas, dan ku punggungkan ransel besar itu, sedetik kemudian, meluncur dengan teman baikku beroda dua, berasoi geboi di jalan-jalan mulus ibukota, meliuk-liuk di antara roda dua, roda empat, dan roda sepuluh lainnya, lampu bermata tiga pun dilalui beberapa. Tapi apa daya, keindahan malam itu dengan moonpass nya, tak terasa lengkap bilamana si dua belas jari mengadu tak ada kerjaan, HCL membuncah-buncah meminta asupan makanan dari empunya, dan sekujur dendrit telah mengirim sinyal ke terminal pusatnya mengatakan “waktunya untuk makan”.

Rem diinjak, merah menyala lampu belakangnya. Kedua roda klop berhenti di sebuah tempat bergerobak yang menyemburkan asap putih berbau tumis goreng, alangkah sedapnya. “Nasi gorengnya ya mas!”, mintaku sesuai selera makan yang berlaku malam itu. Beberapa menit kemudian makanlah si mulut, riahlah si dua belas jari, tenanglah si HCL, dan berkata “terima kasih” lah si dendrit ke terminal pusatnya. Alhamdulillah.

Sayup-sayup di belakangku, ada sedikit kegaduhan yang tak biasa, ku putar badan sebentar, dan menemukan sekumpulan orang, berbicara bukan dengan mulut lidahnya, tapi dengan tangan dan gerak tubuhnya. Pikirku waktu itu, ini langka, ini unik, dan lambat-lambat merasa ada yang lain, merasa pedih buatku selama ini merasa masih tidak puas atas segenap kesempurnaan yang telah diberikan-Nya.

‘Mungkin mereka satu keluarga’ imbuhku dalam hati seraya melahap sepotong telur yang tersisa. Mereka, 2 wanita setengah baya, 2 wanita masih muda, 2 pemuda, dan 2 kakak beradik cilik perempuan.

Beberapa kali ku curi-curi pandang ke arah mereka, bahkan ku sempat berpikiran untuk mendekati mereka dan berkenalan dengan mereka. Tapi takut rasanya, akan berbeda bahasa kita dan tentu saja barangkali akan menyinggung mereka dengan kehadiranku di antara kehangatan keluarga itu. Semakin ku menengok, semakin teriris hati ini rasanya. Tersinggung ku jadinya, tak bersyukur ku ternyata selama ini, maafkan, sekali lagi maafkan. Fabiayyi aalaa irabbi kumaa tukadzibaan (nikmat apalagi dari Ku yang engkau ingkari?) QS: Ar-Rahman.

Muncullah pertanyaan-pertanyaan itu: bagaimana kehidupan keluarga mereka, bagaimana mereka bekeja, mencari nafkah, bagaimana mereka berhubungan dengan orang lainnya yang normal, bagaimana bila mereka dicela, dicerca, dimaki, diejek, bagaimana menanggapi mereka? Bagaimana ini? Bagaimana itu? Bagaimana jika? Sungguh tak pernah ku bayangkan ada yang seperti ini.

Tapi, dari guratan wajah mereka tak ku temukan sesuatu gelisahpun seperti di kebanyakan kita yang normal, tak ada beban, yang ada adalah rasa sayang dan kasih sesama mereka. Sungguh selama ini kita telah melupakan bahwa betapa buruknya hidup kita yang selalu belum puas dengan apa yang telah diperoleh dari-Nya yang “baik-baik saja”.

Semoga Allah memberikan mereka kehidupan yang baik dan bahagia, terbaik untuk mereka. Sebuah keluarga “sunyi” bahagia di antara ribuan keluarga “ribut” berantakan di muka bumi ini yang telah dikehendakinya. Maha Kuasa Engkau.

Posted in , , , , , , | 2 Comments
Diberdayakan oleh Blogger.

Search

Swedish Greys - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.