Siapa Saya? Saya Adalah Kebiasaan

Sore hari (21/11/2013) masih dengan kondisi yang kurang fit, mungkin disebabkan aktivitas ekstra seminggu terakhir dan kuman-kuman endemik khas musim pancaroba yang merajalela. Ya, alhamdulillah, bahkan sakit pun adalah sesuatu yang pantas untuk kita syukuri, sebagai isyarat kalau tubuh yang Tuhan telah pinjamkan kepada kita, sudah tiba waktunya untuk beristirahat sejenak, memanjakan dirinya sekaligus memberi pelajaran kepada si peminjam yang tak tahu diri ini. Sambil menikmati pemanjaan diri sekaligus dengan ikhlas menerima pelajaran berharga yang diberikan, dengan sukarela dalam beberapa hari terakhir mesti menghabiskan banyak waktu di atas tempat tidur.

Untuk menghindari timbulnya kebosanan dalam periode pemulihan ini, ku pilih untuk membaca buku yang sudah beberapa bulan ini bertengger di rak tempat tidur, tak selesai-selesai dibaca. Bukunya berjudul The 8th Habit – Melampaui Efektivitas, Menggapai Keagungan karya Stephen R. Covey. Terus terang, disadari bahwa isi materi “berat” dari buku ini tak cocok dengan kondisiku saat ini, seharusnya yang ku baca adalah buku-buku bermateri “ringan”, tapi apa daya saya sudah mencari-cari di rak buku, buku-buku bermateri “ringan” tapi semuanya sudah selesai dibaca, tersisa buku ini yang belum ditamatkan, apa boleh buat, mari kita membacanya. Terdapat sebuah bagian tulisan dari buku ini yang menarik perhatianku, dan ku pikir alangkah lebih baiknya untuk ku tuliskan dalam blog ini, bisa menjadi pengingat di kemudian hari, juga bisa menjadi bahan untuk di share kepada teman-teman lewat berbagai media online yang tersedia. Berikut bagian tulisan menarik itu:

The 8th Habit

Saya selalu mendampingi Anda. Saya adalah pembantu Anda yang paling rajin, atau beban Anda yang paling berat. Saya akan mendorong Anda maju, atau menarik Anda jatuh ke dalam kegagalan. Saya sepenuhnya berada dalam kendali Anda. Setengah dari apa yang Anda lakukan mungkin akan Anda serahkan kepada saya, dan saya akan bisa melakukannya dengan cepat, tepat. Saya mudah dikelola – Anda hanya perlu tegas terhadap saya. Tunjukkan bagaimana tepatnya Anda ingin agar sesuatu dikerjakan, dan setelah beberapa pelajaran saya akan melakukannya secara otomatis. Saya adalah pelayan bagi semua orang hebat; dan apa boleh buat, juga bagi orang-orang yang gagal. Mereka yang gagal, saya yang membuat mereka gagal. Saya bukan mesin, sekalipun saya bekerja dengan presisi dari sebuah mesin ditambah kecerdasan manusia. Anda mau mendayagunakan saya dan mendapatkan keuntungan, atau memanfaatkan saya untuk kehancuran – hal itu tak ada bedanya bagi saya. Ambil saya, latih saya, tegaslah terhadap saya, dan saya akan meletakkan dunia di bawah kaki Anda. Anggap enteng saya dan saya akan menghancurkan Anda.

Siapa saya? Saya adalah kebiasaan – ANONIM

Posted in , , , , , , , , , | Leave a comment

Surat dari Bapak Calon Presiden: Anies Baswedan

Anies Baswedan

Hari ini (13/09/2013) saya menemukan ada yang “aneh” ketika membuka kotak surat (inbox) email ku. Nama pengirimnya tertulis “Anies Baswedan” dengan subjek tertulis “saya pilih turun tangan, ikut tanggung jawab” dan dengan cuplikan isinya terdapat tulisan “Kepada Yth. Asrianto…”. Sejenak saya merasa senang bisa mendapatkan email dari beliau, email yang tentunya ditulis secara personal dan dikirim dengan kesan personal juga, meskipun saya tahu bahwa saat ini terdapat banyak aplikasi pengirim email yang bisa melakukan hal itu dengan kesan personal “di antara kita”, tapi itu tak jadi masalah, mari kita membukanya.

Sebelum membuka dan membaca email ini, saya sebenarnya sudah bisa menerka dan memperkirakan isinya. Ya, tentu saja seputar tema: (1) Ikut sertanya Pak Anies Baswedan dalam konvensi capres Partai Demokrat, (2) Penegasan alasan, pijakan berpikir, dan dasar tindakan dari Pak Anies Baswedan untuk mengikuti konvensi capres Partai Demokrat, yang ditujukan kepada semua penggiat gerakan Indonesia Mengajar dan gerakan-gerakan turunannya, supaya tidak terjadi salah kaprah dan disorientasi, dan (3) Tentu saja berisi motivasi dan semangat nasionalisme yang ditujukan kepada para pemuda penerus bangsa (kita semua), yang selalu menjadi ciri dari penyampaian Pak Anies Baswedan yang sering diulang-ulang dan dipertegas selama ini.

Secara pribadi saya sangat tersentuh (juga terharu, juga meneteskan air mata) dengan uraian kalimat dan penjelasan yang dituliskan Pak Anies Baswedan dalam email ini. Ditulis dengan bahasa sederhana, jelas, dan dapat dirasakan aura-aura patriotisme dan nasionalisme yang kuat di dalamnya, utamanya pada ungkapan ajimumpung: “…Bagi saya pilihannya jelas, mengutuk kegelapan ini atau ikut menyalakan lilin, menyalakan cahaya…”. Tentu, ada (banyak) di antara teman-teman (bukan pegiat gerakan Indonesia Mengajar dan gerakan-gerakan turunannya) yang tidak mendapat email dari Pak Anies Baswedan ini dan ingin tahu serta membaca isinya. Saya yakin Pak Anies tidak membatasi penyebaran dan siapa pihak yang berhak untuk membaca email nya ini, lebih banyak orang yang mengetahui dan membacanya tentu lebih baik. Maka dari itu, postingan ini saya buat untuk mempublikasikan email dari Pak Anies Baswedan tersebut ke khalayak semua (tanpa penyuntingan isi), semoga bermanfaat.

From: anies.baswedang@indonesiamengajar.org lewat sendgrid.me | Kepada: asrianto@gmail.com | 12 September 2013 | 20.54 WIB | Subjek: Saya Pilih Turun Tangan, Ikut Tanggung Jawab.

Assalamu’alaikum wr wb dan salam sejahtera.

Kepada Yth Asrianto

Di tempat

Semoga email ini menemui teman-teman dalam keadaan sehat wal afiat dan makin produktif.

Saya menulis surat ini terkait dengan perkembangan baru yang datangnya amat cepat. Saya merasa perlu untuk mengirimkan surat ini secara pribadi karena selama ini kita telah bekerja bersama baik di Kelas Inspirasi atau Indonesia Menyala atau kegiatan lain sebagai bagian dari Gerakan Indonesia Mengajar. Selama ini kita telah sama-sama ikut aktif menata masa depan Indonesia tercinta. Ikhtiar ini, sekecil apapun kini, Insya Allah akan punya dampak yang besar di kemudian hari.

Beberapa waktu yang lalu, saya diundang untuk turut konvensi. Saya diundang bukan untuk jadi pengurus partai, tetapi untuk diseleksi dan dicalonkan dalam pemilihan presiden tahun depan. Saya semakin renungkan tentang bangsa kita, tentang negeri ini.

Para pendiri Republik ini adalah kaum terdidik yang tercerahkan, berintegritas, dan berkesempatan hidup nyaman tapi mereka pilih untuk berjuang. Mereka berjuang dengan menjunjung tinggi harga diri, sebagai politisi yang negarawan. Karena itu mereka jadi keteladanan yang menggerakkan, membuat semua siap turun tangan. Republik ini didirikan dan dipertahankan lewat gotong royong. Semua iuran untuk republik: iuran nyawa, tenaga, darah, harta dan segalanya. Mereka berjuang dengan cara terhormat karena itu mereka dapat kehormatan dalam catatan sejarah bangsa ini.

Kini makna “politik” dan “politisi” terdegradasi, bahkan sering menjadi bahan cemoohan. Tetapi di wilayah politik itulah berbagai urusan yang menyangkut negara dan bangsa ini diputuskan. Soal pangan, kesehatan, pertanian, pendidikan, perumahan, kesejahteraan dan sederet urusan rakyat lainnya yang diputuskan oleh negara. Amat banyak urusan yang kita titipkan pada negara untuk diputuskan.

Di tahun 2005, APBN kita baru sekitar 500-an triliun dan di tahun ini sudah lebih dari 1600 triliun. APBN kita lompat lebih dari tiga kali lipat dalam waktu kurang dari delapan tahun. Kemana uang iuran kita semua digunakan? Di tahun-tahun kedepan, negara ini akan mengelola uang iuran kita yang luar biasa banyaknya. Jika kita semua hanya bersedia jadi pembayar pajak yang baik, lalu siapa yang jadi pengambil keputusan atas iuran kita?

Begitu banyak urusan yang dibiayai atas IURAN kita dan atas NAMA kita semua. Ya, suka atau tidak, semua tindakan negara adalah atas nama kita semua, seluruh bangsa Indonesia. Haruskah kita semua membiarkan, hanya lipat tangan dan cuma urun angan?

Di negeri ini, lembaga dengan tata kelola yang baik dan taat pada prinsip good governance masih amat minoritas. Mari kita lihat dengan jujur di sekeliling kita. Terlalu banyak lembaga, institusi dan individu yang masih amat mudah melanggar etika dan hukum semudah melanggar rambu-rambu lalu lintas. Haruskah kita menunggu semua lembaga itu beres dan “bersih” baru ikut turun tangan?

Jika saya tidak diundang, maka saya terbebas dari tanggung-jawab untuk memilih. Tapi kenyataannya saya diundang walau tidak pernah mendaftar apalagi mengajukan diri. Dan saya menghargai Partai Demokrat karena -apapun tujuannya- faktanya partai ini jadi satu-satunya yang mengundang warga negara, warga non partisan. Di satu sisi, Partai Demokrat memang sedang banyak masalah dan persepsi publik juga amat rendah. Di sisi lain konvensi yang dilakukan oleh Partai Demokrat adalah mekanisme baik yang seharusnya juga ada di semua partai agar calon presiden ditentukan oleh rakyat juga.

Saya pilih untuk ikut mendorong tradisi konvensi agar partai jangan sekedar menjadi kendaraan bagi kepentingan elit partai yang sempit. Kini semua harus memperjuangkan agar konvensi yang dilaksanakan oleh Partai Demokrat ini akan terbuka, fair dan bisa diawasi publik. Saya percaya bahwa penyimpangan pada konvensi sama dengan pengurasan atas kepercayaan yang sedang menipis.

Undangan ini untuk ikut mengurusi negara yang kini sedang dihantam deretan masalah, yang hulunya adalah masalah integritas dan kepercayaan. Haruskah saya jawab, “mohon maaf saya tidak mau ikut mengurusi karena saya ingin semua bersih dulu, saya takut ini cuma akal-akalan. Saya ingin jaga citra, saya ingin jauh dari kontroversi, saya enggan dicurigai dan bisa tak populer?” Bukankah kita lelah lihat sikap tidak otentik, yang sekedar ingin populer tanpa memikirkan elemen tanggungjawab? Haruskah saya menghindar dan cari aman saja? Saya sungguh renungkan ini semua.

Saat peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agutus 2013 adalah hari-hari dimana saya harus ambil keputusan. Saat itu saya menghadiri upacara di Istana Merdeka, bukan karena saya pribadi diundang, tetapi undangan ditujukan pada ahli waris AR Baswedan, kakek kami, dan kami yang berada di Jakarta. Jadi saya dan istri hadir mewakili keluarga.

Seperti biasa bendera merah putih itu dinaikkan dengan khidmat diiringi gelora Indonesia Raya. Dahulu bendera itu naik lewat jutaan orang iuran nyawa, darah dan tenaga hingga akhirnya tegak berkibar untuk pertama kalinya. Menyaksikan bendera itu bergerak ke puncak dan berkibar dengan gagah, dada ini bergetar.

Sepanjang bendera itu dinaikkan, ingatan saya tertuju pada Alm. AR Baswedan dan para perintis kemerdekaan lainnya. Mereka hibahkan hidupnya untuk memperjuangkan agar Republik ini berdiri. Mereka berjuang “menaikkan” Sang Merah-Putih selama berpuluh tahun bukan sekedar dalam hitungan menit seperti saat upacara kini. Mereka tak pilih jalur nyaman dan aman. Mereka juga masih muda, namun tidak ada kata terlalu muda untuk turun tangan bagi bangsa. Berpikir ada yang terlalu muda, hanya akan membawa kita berpikir ada yang terlalu tua untuk turun tangan. Mereka adalah orang-orang yang mencintai bangsanya, melebihi cintanya pada dirinya.

Suatu ketika saya menerima sms dari salah satu putri Proklamator kita. Ia meneruskan sms berisi Sila-Sila dalam Pancasila yang dipelesetkan misalnya “Ketuhanan Yang Maha Esa” diubah jadi “keuangan yang maha kuasa” dan seterusnya. Lalu ia tuliskan, “Bung Anies, apa sudah separah ini bangsa kita? Kasihan kakekmu dan kasihan ayahku. Yang telah berjuang tanpa memikirkan diri sendiri, akan 'gain' apa.”

Kini, saat ditawarkan untuk ikut mengurusi negara maka haruskah saya tolak? sambil berkata, mohon maaf saya ingin di zona nyaman, saya ingin terus di jalur aman ditemani tepuk tangan? Haruskah sederetan peminat kursi presiden yang sudah menggelontorkan rupiah amat besar itu dibiarkan melenggang begitu saja? Sementara kita lihat tanda-tanda yang terang benderang, di sana-sini ada saja yang menguras uang negara jadi uang keluarga, jadi uang partai, atau jadi uang kelompoknya di saat terlalu banyak anak-anak bangsa yang tidak bisa melanjutkan sekolah, sebuah “jembatan” menuju kemandirian dan kesejahteraan. Pantaskah saya berkata pada orang tua, pada kakek-nenek kita, bahwa kita tidak mau ikut berproses untuk mengurus negara karena partai belum bersih? Haruskah kita menunggu semua partai beres dan “bersih” baru ikut turun tangan?

Saya pilih ikut ambil tanggung jawab tidak cuma jadi penonton. Bagi saya pilihannya jelas, mengutuk kegelapan ini atau ikut menyalakan lilin, menyalakan cahaya. Lipat tangan atau turun tangan. Saya pilih yang kedua, saya pilih menyalakan cahaya. Saya pilih turun tangan. Di tengah deretan masalah dan goncangan yang mengempiskan optimisme, kita harus pilih untuk terus hadir mendorong optimisme. Mendorong muncul dan terangnya harapan. Ya, mungkin akan dicurigai, bisa tidak populer bahkan bisa dikecam, karena di jalur ini kita sering menyaksikan keserakahan dengan mengatasnamakan rakyat.

Tapi sekali lagi ini soal rasa tanggung-jawab atas Indonesia kita. Ini bukan soal hitung-hitungan untung-rugi, bukan soal kalkulasi rute untuk menjangkau kursi, dan bukan soal siapa diuntungkan. Saya tidak mulai dengan bicara soal logistik atau pilih-pilih jalur, tetapi saya bicara soal potret bangsa kita dan soal tanggung-jawab kita. Tentang bagaimana semangat gerakan yang jadi pijar gelora untuk merdeka itu harus dinyalaterangkan lagi. Kita semua harus merasa turut memiliki atas masalah di bangsa ini.

Ini perjuangan, maka semua harus diusahakan, diperjuangkan bukan minta serba disiapkan. Tanggung-jawab kita adalah ikut berjuang -sekecil apapun- untuk memulihkan politik sebagai jalan untuk melakukan kebaikan, melakukan perubahan dan bukan sekedar mengejar kekuasaan. Kita harus lebih takut tentang pertanggungjawaban kita pada anak-cucu dan pada Tuhan soal pilihan kita hari ini: diam atau turun tangan. Para sejarawan kelak akan menulis soal pilihan ini.

Semangat ini melampaui urusan warna, bendera dan nama partai. Ini adalah semangat untuk ikut memastikan bahwa Republik ini adalah milik kita semua dan untuk kita semua, seperti kata Bung Karno saat pidato soal Pancasila 1 Juni 1945. Tugas kita kini adalah memastikan bahwa dimanapun anak bangsa dibesarkan, di perumahan nyaman, di kampung sesak-pengap tengah kota, atau di desa seterpencil apapun, ia punya peluang yang sama untuk merasakan kemakmuran, keterdidikan, kemandirian dan kebahagiaan sebagai anak Indonesia.

Saya tidak bawa cita-cita, saya mengemban misi. Cita-cita itu untuk diraih, misi itu untuk dilaksanakan. Semangat dan misi saya adalah ikut mengembalikan janji mulia pendirian Republik ini. Sekecil apapun itu, siap untuk terlibat demi melunasi tiap Janji Kemerdekaan. Janji yang dituliskan pada Pembukaan UUD 1945: melindungi, mencerdaskan, mensejahterakan dan jadi bagian dari dunia.

Kita semua sadar bahwa satu orang tidak bisa menyelesaikan seluruh masalah. Dan cara efektif untuk melanggengkan masalah adalah dengan kita semua hanya lipat tangan dan berharap ada satu orang terpilih jadi pemimpin lalu menyelesaikan seluruh masalah. Tantangan di negeri ini terlalu besar untuk diselesaikan oleh satu orang, tantangan ini harus diselesaikan lewat kerja kolosal. Jika tiap kita pilih turun tangan, siap berbuat maka perubahan akan bergulir.

Apalagi negeri ini sedang berubah. Tengok kondisi keluarga kita masing-masing. Negara ini telah memberi kita amat banyak. Sudah banyak saudara sebangsa yang padanya janji kemerdekaan itu telah terlunasi: sudah terlindungi, tersejahterakan, dan tercerdaskan. Tapi masih jauh lebih banyak saudara sebangsa yang pada mereka janji itu masih sebatas bacaan saat upacara, belum menjadi kenyataan hidup.

Di negeri ini masih ada terlalu banyak orang baik, masih amat besar kekuatan orang lurus di semua sektor. Saya temukan mereka saat berjalan ke berbagai tempat. Saat mendiskusikan undangan ini dengan anak-anak generasi baru Republik ini, saya bertemu dengan orang-orang baik yang pemberani, yang mencintai negerinya lebih dari cintanya pada citra dirinya, yang tak takut dikritik, dan selalu katakan siap turun tangan. Akankah kita yang sudah mendapatkan yang dijanjikan oleh Republik ini diam, tak mau tahu dan tak mau turun tangan? Pantaskah kita terus menerus melupakan -sambil tak minta maaf¬- pada saudara sebangsa yang masih jauh dari makmur dan terdidik?

Bersama teman segagasan, kami sedang membangun sebuah platform www.turuntangan.org untuk bertukar gagasan dan bergerak bersama. Ini bukan soal meraih kursi, ini soal kita turun tangan memastikan bahwa mereka yang kelak mengatasnamakan kita adalah orang-orang yang kesehariannya memperjuangkan perbaikan nasib kita, nasib seluruh bangsa.

Teman-teman juga punya pilihan yang sama. Lihat potret bangsa ini dan bisa pilih diam tak bergerak atau pilih untuk turut memiliki atas masalah lalu siap bergerak. Beranikan diri untuk bergerak, bangkitkan semangat untuk turun tangan, dan aktif gunakan hak untuk turut menentukan arah negara. Jalur ini bisa terjal dan penuh tantangan, bisa berhasil dan bisa gagal. Tapi nyali kita tidak ciut, dada kita penuh semangat karena kita telah luruskan niat, telah tegaskan sikap. Hari ini kita berkeringat tapi kelak butiran keringat itu jadi penumbuh rasa bangga pada anak-anak kita. Biar mereka bangga bahwa kita tidak tinggal diam dan tak ikut lakukan pembiaran, kita pilih turun tangan.

Saya mendiskusikan undangan ini dengan keluarga di rumah dan dengan Ibu dan Ayah di Jogja. Mereka mengikuti dari amat dekat urusan-urusan di negeri ini. Ayah menjawab, “Jalani dan hadapi. Hidup ini memang perjuangan, ada pertarungan dan ada risiko. Maju terus dan jalani dengan lurus.” Istri mengatakan, “yang penting tetap jaga nama baik, cuma itu yang kita punya buat anak-anak kita.” Ibu mengungkapkan ada rasa khawatir menyaksikan jalur ini tapi Ibu lalu katakan, “terus jalani dengan cara-cara benar. Saya titipkan anak saya ini bukan pada siapa-siapa, bukan kita yang akan jadi pelindungnya Anies. Saya titipkan anak saya pada Allah, biarkan Allah saja yang jadi pelindungnya.”

Itu jawaban mereka. Saya camkan amat dalam sambil berdoa, Insya Allah suatu saat saya bisa kembali ke mereka dan membuat mereka bersyukur bahwa kita ikut turun tangan, mau ikut ambil tanggung-jawab –sekecil apapun itu- untuk republik ini. Ini adalah sebuah jalur yang harus dijalani dengan ketulusan yaitu kesanggupan untuk tak terbang jika dipuji dan tak tumbang jika dikiritik. Bismillah, kita masuki proses ini dengan kepala tegak, Insya Allah terus jaga diri agar keluar dengan kepala tegak. Faidza ‘Azamta Fatawakkal ‘Alallah … bulatkan niat lalu berserah pada Sang Maha Kuasa.

Sebagai penutup, saya mengajak teman-teman untuk menengok video klip yang direkam dengan maksud sederhana untuk menyampaikan pertimbangan saya saat memutuskan untuk menerima tawaran ikut turun tangan dalam konvensi Partai Demokrat di link berikut ini: http://www.youtube.com/watch?v=7QNJqG0Fqf0

Semoga Allah SWT selalu meridloi perjalanan di jalur baru dari perjalanan yang sama ini dan semoga semakin banyak yang menyatakan siap untuk turun tangan bagi Republik tercinta ini.

Terima kasih dan salam hangat,

Anies Baswedan

Posted in , , , | Leave a comment

3 Nama, 1 Dahi, 7 Kerutan

Dahi Kelas Inspirasi Makassar

Di antara banyak keunikan dari kegiatan Indonesia Menyala dalam hal ini adalah persiapan Kelas Inspirasi, terdapat satu mozaik cerita singkat yang cukup unik dan sangat sayang untuk dilewatkan. Cerita kali ini membahas bukan tentang bagaimana kegiatannya dan bagaimana kegiatan itu berlangsung, tetapi akan membahas tentang “segelintir” orang unik yang menjadi bagian dari kegiatan ini (ingat yaa, kata “segelintir” nya menggunakan tanda kutip, jadi dengan nikmat akal yang telah Tuhan berikan kepada kita semua, saya yakin teman-teman sudah bisa mengartikan sendiri apa maksudnya. “apa memang maksudnya bro?” wadduh heheheh “sebenarnya saya juga tidak tahu”).

Cerita ini bukan cerita fiktif belaka, jadi jika ada kesamaan nama, tempat, waktu, dan sebagainya, itu benar-benar adalah kesengajaan kami – problem bos?. Tak ada maksud apapun menuliskannya, tak ada maksud negatif apapun, semata-mata untuk dijadikan cerita yang akan menjadi kenangan kita di hari esok, ketika kita sudah tua dan beranak-cucu nanti – ce ileh heheheh. Sepakat? “IYA” oke. Jadi, tak perlu berlama-lama lagi, selamat membaca.

Ceritanya berlatar waktu pada Januari 2013, tepat pada masa-masa awal tahap persiapan kegiatan Kelas Inspirasi, kala itu melalui pesan singkat ada undangan untuk menghadiri kopdar (kopi darat = bertemu di daratan sambil minum top kopi, kopinya orang Indonesia *selip iklan heheheh* = rapat santai) di bagian tribun lapangan Karebosi. Kurang lebih seperti inilah redaksi pesan singkatnya:

“Teman-teman Penyala, kopdar akan dilaksanakan pada hari Minggu, 6 Januari 2013 pukul 10.00 Wita (ontime) di tribun Karebosi. Silahkan hubungi Arya 085398212428, Warqah 081355275463, Faat 081354819151”

Singkat cerita, berangkatlah kami ke sana, ber asoy­-geboy di jalanan ibukota, menikmati beberapa godaan kedip si tiga mata: kuning, merah, daaaaan hijau, wuuussshhh melesat, menukik kiri-kanan, dan akhirnya sekali lagi singkat cerita, sampailah kami di sana. Kami disambut dengan gerimis romantis yang indah yang pelan-pelan melululantahkan tembok semu jahat sang karbon monoksida jalanan. Dan tedeeeet, naiklah kami ke panggung tribunnya, memandang jauh ke pepohonan hijau rindang di sebarang sana, ke puncak mandala yang menggelorakan rasa cinta pada bangsa, namun kemudian jatuh berkeping-keping ketika memandang lambang olimpiade dengan lima bundaran berwarna cerah lusuhnya di lantai lapangan, bertanya-tanya “kapan Indonesia akan juara olimpiade?”. (hahahah, mohon maaf tulisan di paragraf ini sedikit over dan melenceng dari gaya tulisan awal, mari kita kembali ke gaya awal).

Dan sekali lagi singkat cerita, setelah melalui perang hebat antara pasukan idealis yang ingin tetap menunggu dan pasukan yang beringas-menggerutu ingin pulang karena jadwal ontime nya molor sekitar 1 jam lebih - heheheh, berkumpullah teman-teman Penyala. Ketika itu, saya mulai bertanya-tanya dalam hati, yang mana yang namanya Arya, yang mana Warqah, dan yang mana yang Faat.

30 menit sebelumnya...

Plot cerita saya kembalikan ke bagian 30 menit sebelumnya, tepat ketika pasukan beringas yang ingin pulang berhasil merobohkan beberapa bagian tembok pertahanan yang dijaga oleh pasukan idealis yang ingin tetap menunggu - heheheh. Waktu itu saya mulai memikirkan untuk menelepon nama-nama yang ada di pesan singkat undangan tadi untuk menanyakan “kopdar hari ini, jadi atau tidak?”. Namun, sebelum menelepon, karena belum pernah bertemu dengan mereka sebelumnya, pikirku ada baiknya terlebih dahulu dilakukan analisis tipologi nama dari mereka masing-masing untuk menyesuaikan kesan suara pertama yang akan diberikan – ce ileh, hebohnya deh, heheheh. Berikut analisis saya waktu itu:

*** Nama 1: ARYA

Namanya Arya, letaknya di pesan singkat undangan tadi adalah yang paling awal disebutkan dari ketiga nama yang ada, jadi hipotesisnya dia adalah yang paling superior dari kedua nama yang lain, bisa jadi pemimpinnya, bisa jadi yang paling tahu semuanya, bisa jadi dialah yang menginisiasi kegiatan kopdar ini. Dalam hal redaksi nama: Arya, tentunya kita semua sepakat kalau nama Arya ini di lingkungan/mindset orang Indonesia adalah nama panggilan untuk seorang yang berjenis kelamin laki-laki. Jadi kesimpulannya, Arya adalah seorang laki-laki kharismatik yang menjadi pemimpin kegiatan ini.

***Nama 2: WARQAH

Namanya Warqah, letaknya di pesan singkat undangan tadi berada di urutan kedua, jadi hipotesisnya nomor dua itu biasanya adalah wakilnya atau karena organisasi ini baru dibentuk makanya kemungkinan besarnya adalah seorang sekretaris, seorang yang tidak banyak bicara, tapi tahu banyak tentang kegiatan ini, namanya ditempatkan di nomor dua untuk menggantikan nama yang paling awal apabila berhalangan. Dalam hal redaksi nama: Warqah, huruf “W” sebagai huruf awal namanya mengarahkan kita bahwa pemilik nama ini berjenis kelamin seorang perempuan. Selanjutnya, setelah menilik keseluruhan namanya, maka kita akan berpikiran bahwa nama ini adalah nama yang ber genre islami dengan patokan huruf “Q” di tengah-tengah dan huruf “H” di akhir nama yang biasanya identik dengan redaksi arab-arab. Jadi kesimpulannya, Warqah adalah seorang perempuan yang berasal dari keluarga yang taat beragama (karena orang tuanya memberikan nama yang ber genre islami kepada anaknya) yang berposisi sebagai sekretaris kegiatan ini (posisi sekretaris identik dengan perempuan).

***Nama 3: FAAT

Namanya Faat, letaknya di pesan singkat undangan tadi berada di urutan terakhir, jadi hipotesisnya nomor terakhir itu biasanya hanya dicantumkan di sana sebagai pelengkap apalagi biasanya 2 nama sudah cukup, sebagai bawahan yang serba bisa dan telaten dalam bekerja, hanya sebagai kroco-kroco atau kacuping-kacuping dalam kegiatan ini, namun memiliki tekad kuat dan sangat dapat diandalkan, semata-mata namanya diletakkan di sana sebagai wujud bualan kalau “Anda itu orang penting, jadi tetaplah bekerja untuk kami” ­– hahahah. Dalam hal redaksi nama: Faat, sulit untuk menyimpulkan jenis kelamin si pemilik nama ini bisa jadi laki-laki, bisa jadi perempuan, maka untuk sementara mari kita bungkus dulu. Jadi kesimpulannya, Faat adalah seorang bawahan yang memiliki kinerja yang cukup bagus dalam kegiatan ini yang berjenis kelamin bisa jadi laki-laki dan bisa jadi perempuan – hahahah.

Kembali ke 30 menit kemudian...

Sebagaimana biasanya sebuah kegiatan yang orang-orang yang hadir adalah orang-orang yang baru bertemu, maka seketika itu terjadilah seremonial saling jabat tangan yang dilanjutkan dengan berkenalan nama.

Nama pertama dari ketiga nama yang telah dianalisis di atas yang ku jabat, ku sentuh, dan ku belai – wadduh heheheh – adalah tangan orang yang bernama Warqah. Sosok perempuan cantik, anggun, berjilbab, dan islami yang sedari tadi merekah di pikiranku, sedetik kemudian meledak dan abunya beterbangan di mana-mana menutupi udara. Ternyata seorang laki berotot dengan nama lengkap Muhammad Warqah Hamzah. Selanjutnya, nama kedua yang ku jabat tangannya adalah tangan orang yang bernama Faat. Akhirnya jawaban dari kebimbangan antara laki-laki dan perempuan tadi terjawab sudah, Faat adalah seorang laki-laki, dengan gaya rambut mirip Amir Khan nya Bollywood lengkap dengan kumis tipis mempesonanya, dengan nama lengkap Muhammad Syafaat Mustari, sama sekali tidak ada potongan untuk jadi bawahan – hahahah.

Setelah itu, saya mencari-cari nama orang terakhir: Arya, ingin ku tahu seberapa kharismatik lelaki pemimpin ini, ternyata orangnya telat datang karena sesuatu dan lain hal. Singkat cerita, di penghujung kopdar setelah kita bersabar mendengar ceramah panjang dari Kak Bunga yang tidak peka terhadap wajah-wajah lusuh hadirin yang sedari tadi ingin segera mengakhiri kopdar kali ini, datanglah sosok Arya yang ku tunggu-tunggu itu didampingi dan diantar oleh Faat (kalau dipikir-pikir ulang, Faat ini memang cocok jadi bawahan yaa, hahahah). Booommm!!! 10 bom atom sekaliber bom atom di Herosima – Nagasaki meledak bersamaan di kepalaku, Arya ternyata seorang perempuan manis berjilbab dengan tinggi semampai, dengan nama panjang Nur Syarianingsih Syam. Weleh-weleh, dari 3 nama, untuk 1 dahi, dengan 7 kerutan.

Posted in , , , , | 4 Comments

Ujian Profesi Advokat Diundur Maret 2013

Beberapa waktu terakhir, setelah sedikit melakukan pencarian informasi tentang kapan waktu pelaksanaan Ujian Profesi Advokat 2012, baik itu melalui penelusuran ke website Peradi dan hukum-online maupun dengan menghubungi langsung via surel, akhirnya saya dapatkan informasi bahwa Ujian Profesi Advokat tahun 2012 diundurkan pelaksanaannya ke bulan Maret 2013. Sekali lagi, supaya ke-shahih-an info ini dapat dipercaya, berikut di bawah ini saya tampilkan gambar potongan-potongan s urel saya dengan Peradi.

1. Surel Saya ke Peradi, tertanggal 21 November 2012 15:10

(1)

2. Surel Peradi ke Saya, satu menit setelahnya 21 November 2012 15:11

(2)

3. Surel Peradi ke Saya, beberapa menit kemudian 21 November 2012 15:28

(3)

Karena permasalahan kualitas resolusi dari gambar potongan surel tersebut, kemungkinan besar teman-teman tidak bisa membacanya dengan jelas. Maka dari itu, di bawah ini saya tuliskan isi surel dari Peradi di poin 3, yaitu:

Salam…

Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI) memutuskan tidak akan menggelar ujian advokat di tahun 2012.

Artinya, praktis tahun ini, PERADI hanya menggelar satu kali ujian yakni yang diperuntukkan bagi advokat dari Kongres Advokat Indonesia, April 2012 silam.

PERADI sudah memutuskan tidak akan ada ujian untuk tahun 2012 ini. Alasannya karena PERADI lagi disibukkan dengan banyak kegiatan seperti Law Asia Conference dan Rapat Kerja PERADI.

DPN PERADI berencana menggelar ujian advokat berikutnya pada bulan Maret 2013. Namun, DPN PERADI belum memutuskan tanggal persisnya.

Demikian info yang bisa kami sampaikan

Terima kasih atas pengertiannya

Jadi, berdasarkan informasi tersebut di atas saya terus-tegaskan informasi tersebut kepada teman-teman bahwa tidak akan ada Ujian Profesi Advokat (UPA) untuk tahun 2012, Ujian Profesi Advokat (UPA) nya baru akan digelar pada bulan Maret 2013. Semoga informasi ini bermanfaat, sekian dan terima kasih. Terus berjuang dan belajar para calon officium nobile.

Posted in , , | Leave a comment

The Most Inspired Story: The Parable of Pipelines

“SEBUAH CERITA INSPIRATIF TENTANG SEORANG PEMBAWA EMBER DAN SEORANG PEMBUAT SALURAN PIPA”

Ember atau Saluran Pipa Pada kesempatan sore hari ini, sambil menunggu cuaca sedikit bersahabat untuk bisa keluar rumah, saya akan berbagi tentang sebuah cerita yang menurutku begitu inspiratif, bahkan jika tidak berlebihan bisa dikatakan adalah salah satu cerita terinspiratif yang pernah saya dengar dan saya ketahui. Mungkin beberapa di antara kita telah mendengar dan mengetahuinya, tapi saya yakin masih banyak di antara kita yang tidak seberuntung itu, maka dari itu saya berharap postingan ini dapat menjadi media agar lebih banyak orang mengetahuinya dan akhirnya mengambil pelajaran darinya.

Sekedar info: cerita ini saya ketahui sebagai hikmah telah “terjebak” dalam bisnis 3 huruf (eMeLeM) beberapa tahun silam, melalui sebuah buku yang dipinjamkan oleh si Bapak upline baik hati itu. Buku yang memuat cerita ini berjudul: “The Parable of Pipelines” (arti: perumpamaan saluran pipa) karya Burke Hedges (lupakan niat untuk mencarinya di toko buku, karena tidak ada dijual). Beberapa waktu setelahnya, cerita ini kembali saya temukan dan baca sebagai kutipan yang dimuat di salah satu buku wajib bisnis dunia berjudul “The Cashflow Quadrant” (pasti tahu kan?) karya Robert T. Kiyosaki. Ceritanya adalah cerita fiktif namun kefiktifannya tidak mengurangi nilai-nilai yang dimuatnya. Ceritanya sedikit panjang, namun mengingat inspirasi positif yang dimuatnya itu tidak menjadi persoalan. Selamat membaca, selamat menikmati, baca secara perlahan, jika Anda akhirnya mengerti maksudnya, bisa jadi ini adalah saat titik balik masa depan Anda yang lebih baik.

 

Pada zaman dahulu kala, begitu kisah ini dimulai, ada dua orang saudara sepupu yang tinggal di suatu tempat. Keduanya dikenal punya semangat dan ambisi yang kuat untuk menggapai kemajuan. Yang pertama bernama Pablo, yang kedua bernama Bruno. Keduanya tinggal dalam rumah yang berdampingan di desa kecil dalam lembah itu.

Keduanya adalah pemuda yang penuh semangat dan berkemampuan tinggi. Keduanya juga memendam cita-cita yang sama tingginya. Keduanya sama-sama ingin menggapai bintang di langit untuk mewujudkan impian-impiannya.

Keduanya sering berkhayal, suatu saat nanti mereka akan menjadi orang yang paling kaya di desa itu. Mereka berdua sama-sama cemerlang dan sangat tekun dalam bekerja. Yang mereka perlukan hanyalah kesempatan untuk mewujudkan impian itu. Kata pepatah, untuk menjadi sukses kesiapan haruslah bertemu dengan kesempatan. Dan, keduanya sama-sama siap.

Pada suatu hari, apa yang mereka tunggu selama ini datanglah. Kesempatan itu muncul secara tiba-tiba. Kepala desa dari desa itu mendatangi mereka dengan maksud untuk mempekerjakan mereka sebagai pembawa air. Setelah melalui pembicaraan yang singkat, akhirnya kepala desa dan kedua pemuda itu setuju dengan pekerjaan yang ditawarkan. Pekerjaan mereka adalah membawa air dari sungai yang terletak di pinggir desa, ke tempat penampungan air yang terletak di tengah desa tersebut. Pekerjaan itu hanya dipercayakan kepada mereka berdua, Pablo dan Bruno.

Tidak menunggu perintah selanjutnya, keduanya langsung membawa dua buah ember dan segera menuju ke sungai. Sepanjang siang keduanya mengangkut air dengan ember. Menjelang sore, tempat penampungan air sudah penuh sampai ke permukaan. Kepala desa menggaji keduanya 1 sen per emper dikalikan jumlah ember air yang masing-masing mereka bawa.

“Wow, apa yg kita cita-citakan selama ini akan terkabul!”, teriak Bruno gembira. “Rasanya sulit dipercaya, kita mendapatkan penghasilan sebanyak ini”.

Namun, Pablo tidak berhenti sampai di situ. Dia tidak yakin begitu saja. Pulang ke rumah, Pablo merasakan punggungnya nyeri semua. Kedua telapak tangannya juga lecet-lecet. Semua itu disebabkan dua ember berat berisi air yang dibawanya bolak-balik dari sungai ke penampungan air sepanjang hari tadi. Begitu pagi tiba, perasaannya jadi kecut karena harus pergi bekerja. Tidak ingin punggung dan tangannya bermasalah lagi, Pablo justru berpikir keras mencari akal bagaimana caranya mengangkut air dari sungai ke desa tanpa harus terluka. Tanpa harus menanggung rasa nyeri di punggung. Tanpa melakukan hal itu semur hidupnya.

Pablo, Si Manusia Saluran Pipa

“Bruno, aku punya rencana”, kata Pablo keesokan harinya, setelah semalam tak bisa tidur memikirkan jalan keluar pekerjaan mereka. Sambil membawa ember-ember mereka masing-masing dan mereka pun menuju ke sungai. Pablo melanjutkan, “daripada kita mondar-mandir setiap hari membawa ember ke sungai dan hanya mendapatkan beberapa sen per hari, mengapa tidak sekalian saja kita membangun pipa saluran air dari sungai ke desa kita.”

Bruno langsung menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba.

“Saluran pipa air! Ide dari mana itu!” kata Bruno tegas.

“Kita kan sudah mempunyai pekerjaan yg sangat bagus dan menghasilkan uang dengan mudah, Pablo. Aku bisa membawa seratus ember sehari. Dengan upah satu sen per ember, berarti penghasilan kita bisa satu dolar per hari! Aku akan menjadi orang kaya. Dan ini berarti pada setiap akhir minggu aku bisa membeli sepasang sepatu baru. Pada setiap akhir bulan, aku bisa membeli seekor sapi. Setelah enam bulan kemudian, aku bisa membangun sebuah rumah kecil. Kau melihat, tidak ada pekerjaan semenguntungkan mengangkut air di desa ini. Lagipula, pada setiap akhir minggu kita mendapat libur. Setiap akhir tahun kita juga mendapat cuti dua minggu dengan gaji penuh. Kita akan hidup dengan sangat layak, dilihat dari sudut manapun. Jadi, buang jauh-jauh idemu untuk membangun saluran pipa airmu itu”.

Tapi Pablo tidak putus asa. Dia tetap bersikukuh pada idenya itu. Dengan sabar dia menerangkan bagaimana proses membangun pipa salurannya itu kepada sahabatnya. Bruno tak beranjak sedikitpun dengan tawaran Pablo.

Akhirnya, Pablo memutuskan untuk bekerja paruh waktu saja. Dia tetap bekerja mengangkuti ember-ember itu. Sementara sisa waktunya, ditambah libur akhir minggunya, dia pakai untuk membangun saluran pipanya itu.

Sejak awal melakukan pekerjaannya ini, dia telah menyadari akan sangat sulit membangun saluran pipa itu dari sungai ke desanya. Menggali di tanah keras yang mengandung banyak batu jelas tak kalah menyakitkannya dengan luka lecet dan punggung nyeri karena mengangkut air.

Pablo juga menyadari, karena upah yang dia terima sekarang berdasarkan jumlah ember yang diangkutnya, maka penghasilannya pun secara otomatis menurun. Dia juga sudah sangat paham bahwa dibutuhkan waktu satu atau dua tahun sebelum saluran pipanya itu bisa berfungsi seperti yang dia harapkan.

Namun, Pablo tak pernah kendur dengan keyakinannya. Dia tahu persis akan impian dan cita-citanya. Sebab itu dia terus bekerja tanpa kenal lelah.

Melihat apa yang dilakukan Pablo, orang-orang desa dan Bruno mulai mengejek Pablo. Mereka menyebutnya “Pablo si manusia saluran pipa”. Bruno, yang punya penghasilan dua kali lipat dibandingkan Pablo, hampir setiap saat membangga-banggakan barang baru yang berhasil dibelinya. Dia juga selalu mengatakan Pablo bodoh karena telah meninggalkan pekerjaan yang jelas-jelas menghasilkan banyak uang itu.

Bruno juga telah berhasil membeli seekor keledai yang dilengkapi pelana yang terbuat dari kulit baru. Dia menambatkan keledainya itu di rumah barunya yang kini terdiri dari dua lantai. Dia juga membeli baju-baju yang indah dan hampir selalu terlihat makan di warung-warung. Panggilannya sehari-hari juga sudah berubah. Kini orang-orang di desa memanggilnya Mr. Bruno! Mereka selalu menyambutnya ke manapun ia pergi. Bruno juga tak segan-segan mentraktir para penyambutnya ini dengan minum-minum di bar, karena mereka selalu ikut tertawa ketika ia menceritakan lelucon-leluconnya.

Tindakan-Tindakan Kecil dengan Hasil Besar

Kini, pemandangan kontras mulai tampak di antara kedua sahabat itu. Sementara Bruno asyik berbaring santai di hammock (tempat tidur gantung berupa jaring) pada sore hari, pada akhir minggu, Pablo tampak terus berlelehan keringat menggali saluran pipanya. Pada bulan-bulan awal, Pablo memang tak menunjukkan hasil apapun dari usahanya. Tampak betul bahwa pekerjaannya sangat berat. Bahkan jauh lebih berat dari pekerjaan yang dilakukan Bruno. Selain harus tetap bekerja pada akhir minggu, Pablo juga bekerja di malam hari.

Tapi Pablo selalu mengingatkan pada diri sendiri bahwa cita-cita masa depan itu sesungguhnya dibangun berdasarkan pada perjuangan yang dilakukan hari ini. Dari hari ke hari dia terus menggali. Centi demi centi!

Pepatah yang selalu diingat Pablo adalah, sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit. Dia selalu bersenandung setiap mengayunkan cangkulnya ke tanah yang mengandung batu karang. Dari satu centimeter, menjadi dua centimeter, sepuluh centimeter, satu meter, dua puluh meter, seratus meter, dan seterusnya.

Pablo mulai melihat hasil kerja kerasnya.

Ibarat pepatah yang lainnya lagi, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Kata-kata itu selalu dia tanamkan pada dirinya setelah dia kembali ke gubuknya yang sederhana, sepulang dari bekerja. Tubuhnya amat lelah setelah seharian menggali saluran pipa. Dia sudah bisa memperkirakan keberhasilan yang bakal dicapainya. Lalu dia akan berusaha keras untuk mencapainya, hari itu juga. Pablo sangat yakin, kerja kerasnya ini akan menghasilkan kekayaan yang jauh lebih besar daripada tenaga dan waktu yang sudah dia keluarkan saat ini.

“Fokuslah pada imbalan yang akan kau peroleh dari pekerjaanmu”. Kata-kata itu terus diingat Pablo, dan dia ulang-ulang setiap akan pergi tidur. Sementara hampir setiap saat, dari bar desa itu dia selalu mendengar gelak tawa yang kerap mengiringinya ke alam mimpi.

Fokus, fokus,fokus. Imbalannya pasti jauh lebih besar.

Keadaan Menjadi Terbalik

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Dan pada suatu hari, Pablo menyadari saluran pipanya sudah tampak setengah jadi. Ini berarti dia hanya perlu berjalan separuh dari jarak yang biasa ia tempuh untuk mengambil air danau itu. Waktu yg tersisa, kini, dia gunakan untuk menyelesaikan saluran pipanya. Saat-saat penyelesaian saluran pipanya pun semakin dekat dan nyata.

Setiap saat beristirahat, Pablo menyaksikan sahabatnya Bruno yang terus saja mengangkat ember-ember. Bahu Bruno juga tampak semakin lama semakin membungkuk. Dia tampak menyeringai kesakitan, meski sering berusaha dia sembunyikan. Langkahnya juga semakin lamban, akibat kerja keras setiap hari. Bruno merasa sedih dan kecewa karena merasa “ditakdirkan” untuk terus menerus mengangkut ember-ember setiap hari sepanjang hidupnya.

Bruno semakin jarang tampak bersantai-santai di tempat tidur gantungnya. Dia lebih sering terlihat di bar. Begitu melihat kedatangan Bruno, orang-orang di bar itu biasanya akan saling berbisik, “Eh, lihat, Bruno si manusia ember”. Mereka juga saling tertawa geli saat beberapa orang mabuk meniru postur tubuh Bruno yang sudah membungkuk dan caranya berjalan semakin tampak terseok-seok. Bruno tidak lagi pernah mentraktir teman-temannya di bar, atau menceritakan lelucon-lelucon tanda kegembiraan. Dia lebih suka duduk sendiri di sudut gelap yang ditemani botol-botol minuman keras di sekelilingnya.

Akhirnya, terjadi juga kegemparan di desa itu. Saat bahagia Pablo pun tiba. Saluran yang dia bangun sudah selesai. Hampir semua orang desa berkumpul saat air mulai mengalir dari saluran pipanya menuju ke penampungan air di desa. Sekarang, desa itu sudah bisa mendapat pasokan air bersih secara tetap. Bahkan penduduk desa yang sebelumnya tinggal agak jauh dari tempat itu kemudian pindah mencari tempat yang lebih dekat dengan sumber air itu.

Setelah saluran pipa itu selesai, Pablo tidak perlu lagi membawa-bawa ember. Airnya akan terus mengalir, baik dia sedang bekerja maupun tidak. Air itu terus mengalir, baik dia sedang bekerja maupun tidak. Air itu terus mengalir, baik saat dia makan, tidur ataupun bermain-main. Air itu tetap mengalir di akhir minggu ketika dia menikmati banyak permainan. Semakin banyak air yang mengalir ke desa, semakin banyak pula uang yang mengalir ke kantong Pablo.

Pablo yang tadinya terkenal dengan julukan Pablo si Manusia Saluran Pipa, kini menjadi lebih terkenal dengan sebutan Pablo si Manusia Ajaib. Para politisi memuji-muji dia karena visinya yang jauh ke depan. Mereka meminta Pablo mau mencalonkan diri sebagai walikota. Tetapi, Pablo paham sekali apa yang sesungguhnya dia capai bukanlah sebuah keajaiban. Ini semua sebenarnya barulah langkah awal dari suatu pencapaian cita-cita yang besar. Memang benar, nyatanya Pablo mempunyai rencana yang jauh lebih besar daripada apa yang sudah dihasilkan di desanya.

Pablo sesungguhnya berencana membangun saluran pipa kekayaannya di seluruh dunia!

Mengajak Teman-Temannya untuk Membantu

Saluran pipa membuat Bruno si Manusia Ember kehilangan pekerjaan. Pablo sangat prihatin melihat sahabatnya itu sampai merasa perlu mengemis-ngemis minuman di bar. Karena iba, Pablo berniat menemui Bruno.

“Bruno, saya datang ke sini untuk meminta bantuanmu,” kata Pablo.

Bruno meluruskan dulu bahunya yang bongkok baru kemudian menjawab, “kau jangan menghina saya.”

“Tidak. Saya datang kesini bukan untuk menghina. Saya justru ingin menawarkan peluang bisnis yang amat bagus. Dua tahun lamanya saya bekerja untuk bisa menyelesaikan pembangunan saluran pipa saya yang pertama. Tetapi, selama dua tahun tersebut saya belajar banyak hal. Saya jadi tahu alat-alat apa saja yang harus digunakan. Saya juga lebih paham tempat mana yang harus saya cangkul duluan, dan tempat mana yanng keras dan sulit dicangkul. Saya juga semakin mengerti di mana seharusnya menanam pipa-pipa itu. Dan selama saya bekerja, saya juga rajin mencatat apa yang telah saya lakukan. Oleh sebab itu, sekarang ini saya sudah mampu mengembangkan sebuah cara yang lebih baik untuk membangun saluran-saluran pipa lainnya.”

Setelah diam sejenak, Pablo melanjutkan. “Sebetulnya saya bisa saja membangun saluran pipa itu sendirian dalam waktu setahun. Tetapi, rasanya saya harus berpikir, untuk apa saya harus menghabiskan waktu satu tahun hanya untuk membangun satu saluran pipa itu. Rencana saya adalah mengajari kamu dan orang-orang lain yang tertarik, cara membangun saluran pipa. Nantinya, kamu dan orang-orang yang sudah saya ajari itu mengajarkan lagi kepada orang-orang baru lainnya lagi. Begitulah seterusnya. Sampai suatu saat nanti, setiap desa di wilayah ini sudah memiliki saluran pipa. Lalu, saluran pipa ini menyebar ke setiap desa di negara kita. Bahkan akhirnya, pipa-pipa seperti ini akan ada di semua desa seluruh dunia.”

“Coba kamu renungkan baik-baik,” lanjut Pablo, “Nantinya kita bisa mengutip sejumlah uang untuk setiap galon air yang dialirkan melalui saluran-saluran pipa tersebut. Semakin banyak air yang mengalir melalui saluran-saluran pipa tersebut, semakin banyak pula uang yang akan masuk ke kantung kita. Pipa yang baru selesai saya buat ini, sebenarnya bukanlah akhir dari cita-cita saya. Justru pipa saya itu merupakan awal dari cita-cita.”

Akhirnya, Bruno menyadari betapa besar potensi bisnis yang ditawarkan sahabatnya itu. Dia tersenyum, kemudian mengacungkan tangannya yang lecet-lecet kepada sahabatnya. Mereka berjabat tangan, kemudian berpelukan. Bagaikan dua orang sahabat lama yang sudah tidak berjumpa.

Peluang Usaha Saluran Pipa di Dunia Pembawa Ember

Tahun demi tahun pun berlalu. Pablo dan Bruno sudah lama pensiun. Usaha saluran pipa mereka yang mendunia terus-menerus mengalirkan ratusan juta dollar per tahun ke rekening-rekening bank mereka. Ketika mereka jalan-jalan di desa, kadang-kadang mereka melihat beberapa orang pemuda. Mereka tampak sibuk mengangkuti air dengan ember.

Kedua sahabat masa kecil ini selalu berusaha mengajak pemuda-pemuda seperti itu untuk berbincang-bincang. Mereka selalu mengisahkan kisah hidup mereka sebagai pembawa ember sampai kemudian menjadi pembangun saluran pipa. Lalu mereka menawarkan bantuan, untuk membangun saluran pipa. Tetapi, hanya sedikit di antara mereka yang mau mendengarkan nasihat mereka dan bersedia meraih peluang untuk melakukan usaha membangun saluran pipa mereka sendiri. Memang menyedihkan, melihat banyak di antara pembawa ember itu menolak tawaran tersebut. Bruno sering merasa heran dengan alasan-alasan yang selalu mereka kemukakan.

“Saya tidak ada waktu.”

“Teman saya bilang bahwa dia kenal orang yang berusaha membangun saluran pipa tetapi ternyata gagal.”

“Hanya mereka yang lebih dulu terjun dalam usaha saluran pipa ini yang akhirnya bisa sukses.”

“Seumur hidup, dari nenek moyang hingga orang tua saya, hanya mengenal pekerjaan saya sebagai pengangkut ember. Saya akan tetap mempertahankan profesi saya itu.”

“Saya tahu, ada orang-orang yang akhirnya merugi karena membangun saluran pipa seperti itu. Jadi saya tidak mau mengikuti jejak mereka. Saya tak mau merugi.”

Pablo dan Bruno benar-benar prihatin melihat mental para pembawa ember ini. Ternyata ada banyak sekali orang yang tidak punya visi tentang masa depan mereka. Visi tentang bagaimana hidup mereka beberapa tahun mendatang. Tetapi akhirnya mereka pasrah saja.

Mereka sadar bahwa hidup di dunia yang masih didominasi oleh mental pembawa ember ini, semuanya bisa terlihat statis. Hanya sedikit saja mereka yang berani dan punya ambisi untuk mencapai kesuksesan melalui saluran pipa.

#TAMAT#

 

Jadi, siapa sesungguhnya kita? Seorang pembawa ember? Ataukah seorang pembangun saluran pipa? Apakah anda hanya mendapat uang, upah, gaji, atau apapun namanya, hanya jika Anda datang ke tempat kerja, dan bekerja? Seperti yang dilakukan Bruno, si pengangkut ember?

Ataukah Anda adalah seorang yang hanya sekali saja melakukan sesuatu, dan kemudian mendapatkan uang secara terus-menerus, sepanjang hidup, seperti yang diperoleh Pablo, si pembuat saluran pipa?

Siapa Diri Anda Sesungguhnya,

Seorang Pembawa Ember?

Atau Seorang Pembuat Saluran Pipa?

Posted in , , , , , , , | Leave a comment

Uhibbuka Fillah (Aku Mencintaimu Karena Allah)

Aku Mencintaimu Karena Allah Salah satu akun twitter yang paling saya suka dan senangi untuk membaca tweet-tweet di timeline nya adalah akun yang bernama @ManJaddaWaJadaa مَن جَدَّ وَجَدَ (blog nya: http://manjaddawajadaa.wordpress.com). Malam ini (24/07/2012) akun ini memberikan kultwit mengenai sesuatu yang sedang saya pikirkan dan renungkan beberapa waktu terakhir ini, sesuatu yang kadang kala ketika iman di hati ini sedang lowbat, mampu membuatnya merasakan kegalauan sebagaimana istilah muda-mudi zaman sekarang. Namun kadang kala pula ketika iman di hati lagi full power nya, membuatnya semakin yakin dengan banyak keputusan-keputusan berat dan pahit yang telah diambil sebelumnya: pengendalian diri, penghindaran, kesabaran, menundukkan pandangan, dan sebagainya, dan juga membuat diri ini semakin optimis dengan janji Allah Swt mengenainya. Sesuatu itu adalah tentang wanita, tentang jodoh untuk diri ini, tentang pendamping hidup kelak, tentang perasaaan cinta dan kasih sayang, dan tentang pencarian harta yang paling berharga di dunia yaitu isteri yang sholehah.

Karena begitu menariknya tweet-tweet yang dituliskan, maka dari itu akan terasa sayang jika tidak “diabadikan” dan dibiarkan tertelan oleh tweet-tweet setelahnya, maka pikirku lebih baik menulis ulangnya ke dalam blog ini. Besar harapan saya bagi para pembaca yang budiman yang juga sedang merasakan hal yang sama, merisaukan hal yang sama, dan sedang mencari pencerahan tentangnya yang kebetulan sedang bertamu di blog saya ini bisa membacanya dan mengambil pelajaran dan hikmah darinya. Selamat merelungi bait-bait kalimat indahnya.

(Keterangan: Ikhwan = kata ganti atau panggilan untuk pria/laki-laki; Ukhti = kata ganti atau panggilan untuk wanita/perempuan; Akhwat = golongan/jenis/kumpulan/keseluruhan wanita/perempuan)

#1 Wahai Ukhti, Jika aku seorang Ikhwan yang mengatakan cinta padamu karena Allah namun tanpa malu mendekatimu,

#2 apa kau tidak merasa takut terjerat padaku?

#3 Jika aku seorang Ikhwan yang mengatakan cinta padamu karena Allah namun tanpa malu dengan genit menggodamu,

#4 apa kau tidak merasa risih pada kegenitanku?

#5 Jika aku seorang Ikhwan yang mengatakan cinta padamu karena Allah namun tanpa segan merayumu,

#6 apakah kau terbuai oleh bujuk rayuku?

#7 Jika aku seorang Ikhwan yang mengatakan cinta padamu karena Allah namun tak bisa menjaga izzah ketika berdekatan denganmu,

#8 apakah kau tidak bisa menolakku dengan perisai malumu?

#9 Jika aku seorang Ikhwan yang mengatakan cinta padamu karena Allah namun tanpa merasa berdosa berani menyentuhmu,

#10 apakah kau tidak takut Allah murka padamu, masihkah kau percaya pada ucapanku? tak curigakah kau padaku?

#11 Tak inginkah kau menjauhiku? atau karena kau telah terjebak ke dalam jurang cinta nafsu,

#12 sehingga kau tak mampu menolakku meski kau tahu semua ucapanku ”Mencintaimu Karena Allah” adalah palsu.

#13 Ketahuilah Ukhti, jika aku seorang Ikhwan sejati yang mencintaimu karena Allah,

#14 aku tidak akan berani menyentuhmu, bahkan hatimu sekalipun.

#15 Karena aku malu pada Allah jika bayanganku mengacaukan kekhusuk’an ibadahmu.

#16 Jika aku seorang Ikhwan sejati yang mencintaimu karena Allah,

#17 aku tidak akan pernah berani merayumu, menggodamu, bahkan dengan bebas tanpa batas berinteraksi denganmu. Karena kau belumlah halal bagiku.

#18 Aku malu jika harus membuatmu lebih banyak mengingatku dari pada mengingat-Nya.

#19 Aku malu jika harus menjadi seseorang yang membuat-Nya cemburu padamu karena kau rela melanggar larangan-larangan-Nya karena cintamu padaku.

#20 Jika aku seorang Ikhwan sejati yang mencintaimu karena Allah aku tidak akan khawatir tidak dapat memilikimu.

#21 Karena tak mengungkapkan cintaku padamu sekarang meski saat ini aku begitu mengagumimu dan menginginkanmu menjadi bidadariku.

#22 Karena aku yakin jika engkau memang ditakdirkan untukku, engkau pasti akan menjadi milikku meski aku tak mengikatmu.

#23 Bukankah jika Allah tidak mentakdirkan kita bersama diikat pun pasti akan terlepas juga akhirnya.

#24 Jadi untuk apa aku risau? Ukhti, sadarlah, jika aku seorang Ikhwan yang benar-benar mencintaimu karena Allah,

#25 Aku hanya akan berani merayumu, menggodamu, dan menyentuhmu setelah engkau telah halal bagiku.

#26 Untuk semua muslimah, Ukhti, tetaplah berusaha menjadi shalihah meski zaman telah berubah, barokallahu fiik.

#27 Semoga dengan tweet singkat ini Ikhwan dan Akhwat ini dapat memberikan kita arah bagaimana seharusnya kita bersikap apabila kejedot cinta.

#28 Buat sang Ikhwan sejati, jangan sekali-kali mengatakan "aku mencintaimu karena Allah" apabila nafsu masih mendominasimu.

#29 Buat sang Akhwat, kalau memang sang Ikhwan mencintaimu karena Allah, minta dia lekas halalkan dalam balutan cinta yang suci.

#30 Mencintaimu karena Allah untuk dirimu, wahai Halalku.

Posted in , , , , , , , | Leave a comment

Cinta, Kue Buroncong, & Kue Burongkoh

Postingan ini saya mulai tanpa pembuka seperti postingan-postingan sebelumnya. Singkatnya, ide tulisan postingan ini terjadi karena saya sedang lapar, sedikit nge galau hahahah, plus pikiran gokil yang tiba-tiba saja datang, maka jadilah tulisan-tulisan di bawah ini. Intinya adalah hubungan keterpaksaan antara “cinta”, “kue buroncong”, dan “kue burongkoh”, selamat menikmati kelezatannya.

Kue Buroncong Kue Burongkoh

#1 CINTA PALSU itu mirip-mirip KUE BURONCONG, indah dan enak pada awalnya, tapi lama-lama jadi keras dan hambar.

#2 CINTA SEJATI itu mirip-mirip KUE BURONGKOH, panas-panas baru jadi enak, dingin-dingin masuk kulkas enak, biasa-biasa juga enak. Makin lama, makin doyan.

#3 Sangat mudah untuk mencari KUE BURONCONG, pagi-pagi banyak kok di pinggir jalan dan di perempatan.

#4 Tapi kalau KUE BURONGKOH, carinya butuh tenaga ekstra, karena hanya dijual di tempat-tempat tertentu dan biasanya baru dibuat kalau ada hajatan.

#5 Cara buat KUE BURONCONG juga tergolong mudah, tinggal buat adonan campuran tepung, kelapa, dan sedikit gula. Makanya harganya murah.

#6 Tapi kalau KUE BURONGKOH, buatnya butuh proses yang lama dan pengerjaan istimewa: adonannya, cara bungkusnya, dan cara ngukusnya. Makanya harganya mahal.

#7 KUE BURONCONG itu tergolong kue yang terbuka, dan karena itu kemungkinan sedikit tidak hiegenis.

#8 Kalau KUE BORONGKOH tergolong kue yang tertutup, dibungkus oleh daun pisang, dan karena itu peluang ketidakhiegenisnya tentu kecil.

Sekian. Sebagai penutup, dihubungkan dengan apa yang telah saya tuliskan di atas, izinkan saya untuk sedikit memberikan saran bagi Anda yang sedang mencari pasangan hidup, carilah pasangan yang sifatnya seperti KUE BURONGKOH, maka insya Allah hubungan Anda akan menjadi hubungan bertipe KUE BURONGKOH pula.

Posted in , , , , , , , , | Leave a comment
Diberdayakan oleh Blogger.

Search

Swedish Greys - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.